Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 07 Okt 2015 10:20 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Pesona Magis Kesenian Rego dari Porelea

Silvia Galikano
detikTravel
Kesenian Rego di Desa Porelea (Silvia/detikTravel)
Kesenian Rego di Desa Porelea (Silvia/detikTravel)
Sigi - Indonesia punya banyak nilai luhur dalam seni tradisional yang hampir punah. Ayo bertualang ke Sulawesi Tengah untuk mengenal Rego, tarian dan syair tentang kekeluargaan dengan pesona magis untuk penontonnya.

Desa Porelea di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berhasil membangkitkan lagi kesenian asli Topo Uma yang sempat mati suri, yakni raego atau rego hingga menyatu dalam sistem sosial budaya Porelea mutakhir. Rego adalah menari dalam formasi lingkaran sambil menyanyikan syair-syair panjang dalam bahasa Uma tua, bahasa yang tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Syair rego berbeda-beda, menyesuaikan acara yang dibuat. Jika rego dimainkan usai panen, maka syairnya tentang proses membuka ladang, menanam, menyiangi, hingga memanen. Jika rego dimainkan sebagai penghiburan keluarga yang berkabung, syairnya berisi siklus hidup manusia dari lahir sampai mati serta menceritakan betapa baiknya si mati saat masih hidup.


Para tetua adat Desa Porelea (Silvia/detikTravel)

Desa Porelea seluas 6,59 km persegi membentang dari Sungai Mokoe, hingga ke perbatasan Desa Lonebasa, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Secara administratif, Desa Porelea berdiri pada tahun 2008, hasil pemekaran Desa Onu, namun secara historis, Porelea adalah salah satu kampung tua di dataran tinggi Pipikoro.

Di desa ini hidup penduduk asli Pipikoro, Topo Uma. Dalam bahasa setempat, 'topo uma' berarti orang yang menggunakan bahasa (dialek) Uma, salah satu dialek yang digunakan masyarakat Kulawi mencakup Pipikoro, Gimpu, dan Lindu. Sedangkan 'pipikoro' berarti di sebelah/seberang Sungai Koro, sebutan penduduk setempat untuk Sungai Lariang, sungai terpanjang di Pulau Sulawesi.

Pada 2000-an awal, Pembina Kesenian Desa Porelea Abednego Dedi, yang saat itu menjabat Kepala Desa, mengumpulkan orang-orang tua di Porelea yang masih ingat cara berego. Mereka berdiskusi dan sepakat menghidupkan kembali rego hingga hari ini. Kini, Porelea jadi satu-satunya tempat yang masih memainkan rego.


Baju adat Halili (Silvia/detikTravel)

Ketika detikTravel mengunjungi Porelea atas undangan Kemitraan - Karsa Institute, pekan lalu, ternyata bersamaan dengan malam ke-3 (malam puncak) penghiburan untuk keluarga yang baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga. Sejak matahari terbenam, warga dan pejabat desa berkumpul di halaman rumah yang sedang berkabung.

Selesai acara resmi dan keagamaan, warga membentuk lingkaran di bawah naungan tenda plastik di tengah gerimis, dan berego hingga lewat tengah malam. Atraksi ini mengundang warga lain untuk keluar rumah, termasuk kanak-kanak. Bayi dalam gendongan pun tak lupa dibawa. Makanan kecil dan kopi hangat disediakan para tetangga, guyub dan akrab.

Pun ketika melepas tamu pergi, bertempat di Lobo (balai adat), rego kembali dimainkan. Kali ini ada 16 orang -5 perempuan dan 11 laki-laki- dalam kostum halili (baju adat Kulawi). Di pinggang perego pria terikat guma (parang) dan di kepala mereka terpasang siga (ikat kepala).


Ansambel musik bambu (Silvia/detikTravel)

Menurut Abednego, syair yang dibawakan untuk rego melepas tamu adalah tentang kegembiraan tuan rumah atas kehadiran tamu, harapan pertemuan tersebut membawa manfaat bagi tamu dan tuan rumah, serta doa semoga tamu pulang dengan selamat. Menonton kesenian Rego sungguh mempesona, seperti ada pesona magis bagi orang yang melihatnya.

Senasib dengan rego adalah musik bambu yang sama-sama baru dibangkitkan lagi. Bambu berbagai ukuran dimainkan membentuk ansambel apik berfungsi layaknya musik tiup modern, seperti trompet, flute, saxophone, hingga trombone.

Setelah dibangunkan dari tidur panjangnya, rego dan musik bambu kini dikenal di daerah lain di luar Kecamatan Pipikoro, bahkan beberapa tahun terakhir, rego mewakili Kabupaten Sigi dimainkan di Bali, Yogyakarta, dan Lombok. Australia akan jadi negara pertama di luar Indonesia yang menikmati magisnya kesenian ini.

(sst/sst)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED