'Ditampar' Moh Yamin & Soekarno di Museum Sumpah Pemuda

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

'Ditampar' Moh Yamin & Soekarno di Museum Sumpah Pemuda

Fitraya Ramadhanny - detikTravel
Senin, 02 Nov 2015 08:50 WIB
Ditampar Moh Yamin & Soekarno di Museum Sumpah Pemuda
Suasana Museum Sumpah Pemuda (Fitraya/detikTravel)
Jakarta - Museum Sumpah Pemuda punya promosi masuk gratis sampai 11 November 2015. Di museum itu, kita bisa mengingat lagi wasiat para bapak bangsa yang berbanding terbalik dengan kelakuan anak bangsa sekarang.

Tahun 2015, 87 tahun setelah peristiwa Sumpah Pemuda, kita sepertinya hidup berkebalikan dengan cita-cita para bapak bangsa. Dahulu mereka membuang jauh sentimen etnis, agama dan bentuk perbedaan lain supaya bisa bersatu. Sekarang, anak cucunya larut dalam permasalahan yang sama kembali.

Kalau tidak percaya, kita bisa datang ke Museum Sumpah Pemuda di Jl Kramat Raya No 106, Jakarta. detikTravel berkunjung ke sana pada akhir pekan kemarin. Museum ini menempati bangunan yang dahulu menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ruang berpendingin udara membuat wisatawan nyaman menjelajah isi museum ini. Kita akan tahu kalau bangunan ini dulunya adalah rumah kost milik warga Tionghoa bernama Sie Kong Liong untuk para pemuda pelajar. Meskipun etnis Tionghoa, namun Sie Kong Liong mendukung rumahnya menjadi pusat pergerakan pemuda.


(Fitraya/detikTravel)

Di ruang kedua, kita akan melihat bahwa menyatukan perbedaan di kalangan pemuda itu bukan perkara gampang. Para pemuda saat itu terpecah belah ke dalam kelompok etnis dan agama masing-masing. Mereka berhadapan dengan sentimen etnis, agama dan aneka perbedaan lain, persis seperti gesekan sosial yang kita lihat di berita-berita saat ini.

Sementara di ruang ketiga kita bisa melihat para pemuda pelan-pelan membuang perbedaan yang membuat mereka tersekat-sekat. Sebuah poster Soekarno menyematkan sebuah kutipan penting.

"Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia Merdeka!" tulis Soekarno di koran Suluh Indonesia Muda tahun 1928, 17 tahun sebelum Indonesia sungguh merdeka.


(Fitraya/detikTravel)

Di ruang keempat, barulah kita dihadapkan dengan ruang Kongres Pemuda, yang ternyata ruangannya tidak besar-besar amat. Ada diorama yang menunjukan hanya ada sederet meja pemimpin sidang. Sisanya semua duduk di kursi, makanya ruangan yang tidak besar itu muat banyak orang. Sebuah display pidato Mohammad Yamin, rasanya seperti sebuah tamparan di muka.

"Mau atau tidak, dalam badan kita mengalir darah Indonesia. Jadi insyaflah kamu sekalian akan darah daging yang mengalir di badanmu, supaya kamu tahu akan tumpah darahmu!" kata Mohammad Yamin.

Duh, kemana saja rasanya kita selama ini? Mau saja terprovokasi broadcast bernada SARA sampai membenci satu sama lain atau asyik mengidolakan tokoh negara-negara lain, sampai kita lupa darah Indonesia kita.


(Fitraya/detikTravel)

Usai dari ruang kongres, kita masuk ke ruang kecil dengan koleksi paling berharga museum ini yaitu biola asli WR Supratman. Biola ini yang dipakai untuk melagukan Indonesia Raya. Ada info menarik seputar sejarah lagu Indonesia Raya. Ternyata, Soekarno yang mengubah liriknya menjadi seperti sekarang ini.

Di ruang terakhir, kita dihadapkan dengan sejumlah poster ucapan para tokoh bangsa. Kita bisa melihat perubahan pola pikir mereka yang tadinya etnosentris, menjadi seorang nasionalis. Kaki ini tadinya mau melangkah keluar museum, namun pesan Ki Hajar Dewantara menahan saya lebih lama lagi.

"Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia, dengan cara Indonesia. Namun yang penting untuk kalian yakini, sesaatpun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku. Lahir maupun batin, aku tak pernah mengkorup kekayaan negara. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan langkah perjuanganku," kata Ki Hajar Dewantara.


(Fitraya/detikTravel)

Tulisan ini.... seharusnya dipasang juga ya di Gedung KPK dan Pengadilan Tipikor. Semoga para bapak bangsa tidak kecewa dengan tingkah laku kita semua hari ini.

Cara ke sana:

Museum Sumpah Pemuda beralamat di Jl Kramat Raya No 106, Jakarta Pusat. Wisatawan bisa naik bus Transjakarta koridor 5 dan turun di Halte Pal Putih, lalu jalan kaki sedikit.

Museum Sumpah Pemuda buka pukul 09.00-15.00 WIB. Museum ini tutup hari Senin. Tiket masuknya hanya Rp 2.000. Menurut penjaga museum, masuk ke Museum Sumpah Pemuda gratis sampai 11 November 2015 menyambut Hari Sumpah Pemuda.

(fay/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads