detikTravel berkesempatan menjelajahi Desa Ugimba saat Ekspedsisi Jurnalis ke Carstensz 2015 di bulan Agustus lalu. Masih banyak cerita yang belum tertulis dan masih banyak pengalaman-pengalaman unik yang ada di sana.
Salah satunya, mengenai soal asap. Tanyalah kepada teman-teman kamu yang pernah bertualang ke pedalaman Papua, pasti beberapa kali melihat asap yang menbumbung tinggi. Bukan, itu bukan asap dari kebakaran hutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asap yang sering terlihat di pedalaman hutan Papua (Afif/detikTravel)
Desa Ugimba sendiri berada di pedalaman Papua. Lokasinya masuk dalam kawasan Kabupaten Intan Jaya dan berada di kawasan Pegunungan Tengah. Desa ini dikepung pegunungan dan hutan rimba yang jarang terjamah manusia.
Tiap-tiap rumah di Ugimba pun lokasinya berjauhan. Tidak ada kendaraan umum, apalagi jalan beraspal. Setiap orang harus berjalan jauh kalau mau bertamu. Penandanya ya cuma itu, asap.
"Kami membakar ubi, babi dan sayuran dengan api. Asapnya nanti terlihat, orang jadi tahu," ujar Malama.
Warga setempat pun menyalakan api dengan berbagai cara. Ada dengan batu, kayu yang digosok dan juga korek gas. Namun kini, kebanyakan semua memekai korek gas atau korek kayu. Lho, dapat darimana?
(Afif/detikTravel)
"Ini dari Sugapa, jalan kaki 3 jam. kalau kamu atau pendaki bisa 8-9 jam itu jalan kakinya," kata Malama sambil tertawa.
Malama (paling kanan) dan keluarganya di dalam honai (Afif/detikTravel)
Sugapa merupakan desa terdekat dari Desa Ugimba yang berjarak sekitar 20-an km. Jalanannya pun naik, turun dan berkelak-kelok di dalam hutan. Mereka, warga Ugimba sudah biasa jalan kaki sejauh itu.
Api pun menjadi salah satu 'nyawa' bagi orang-orang pedalaman Papua. Dengan api mereka bisa memasak dan menghangatkan diri di malam hari. Dengan api pula munculnya asap, penanda adanya kehidupan.
Ada cerita menarik soal api dan asap di Desa Ugimba ini. Hendricus Mutter, ketua tim pemandu Ekspedsisi Jurnalis ke Carstensz 2015 pernah bercerita tentang orang-orang Ugimba yang suka sekali menyalakan api besar-besar.
"Dulu, sudah saya beritahu kalau menyalakan apinya jangan besar-besar, secukupnya saja. Tapi ya begitu, mereka susah dikasih tahu maunya kalau nyalain api ya besar saja," tutur Hendricus.
Tapi tentu saja, orang-orang pedalaman Papua bakal mematikan api yang mereka nyalakan di hutan. Mereka begitu bertanggung jawab dan menghargai alam. Karena alam jugalah, yang menjadi tempat hidup mereka.
Terakhir, di pagi hari, warga Ugimba yang merupakan Suku Moni dan Dani tersebut beribadah di depan api. Mereka akan duduk melingkar, sembari berdoa dalam bahasa masing-masing. Api, memang selamanya menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
(rdy/arradf)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong