Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Nov 2015 12:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Manggar, Kota 1.001 Warung Kopi di Belitung Timur

Baban Gandapurnama
detikTravel
Salah satu kedai kopi di Manggar, Belitung Timur (Baban/detikTravel)
Manggar - Dalam rangkaian novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Manggar seringkali identik dengan aktivitas meminum kopi. Ya, Manggar di Belitung Timur memang dijuluki 'kota 1001 Warung Kopi'.

Denyut suasana jelang tengah malam masih berdetak. Barisan sepeda motor parkir di sepanjang pinggir jalan yang relatif lengang. Terdengar gelak tawa disertai obrolan santai para pria dewasa di sejumlah warung kopi. Gelas-gelas berisi air hitam beraoma khas menghiasi meja kayu.

Hujan rintik-rintik menyapa Jalan Bioskop Mega, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, Senin (22/11/2015). Daerah berjuluk 'Negeri Sejuta Pelangi' ini memang tenar bertaburan warung kopi. Salah satunya di kawasan Manggar.

"Belitung ini bukan penghasil kopi. Tapi masyarakatnya hobi ngopi," kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Belitung Timur Rusman.

Menikmati kopi di warung merupakan tradisi masyarakat setempat. Kehadirannya menciptakan daya tarik wisatawan. Tentu tak berlebihan kawasan Manggar, ibukota Belitung Timur, menyandang jargon '1001 Warung Kopi'. Jejak historinya ditandai dengan pembangunan tugu berwujud teko dan cangkir.

Mayoritas warung kopi berpenampilan sama. Atapnya dipayungi seng. Meja dan bangkunya berbahan kayu. Pengunjung didominasi pria terlihat menyemarakkan warung berdesain sederhana sambil mencengkram gelas berisi kopi.

"Belinya satu gelas kopi, tapi nongkrong sambil ngobrol di warungnya bisa dua jam. Jadi bukan hanya soal rasa kopinya, terpenting interaksi dengan teman, kolega dan orang lain," ujar Rusman.

"Suasana akrab begitu terasa. Bahkan kalau rapat kantor pun pernah di warung kopi," katanya menambahkan.

Rusman menyebut keberadaan warung kopi tak menjamur seperti dahulu. Sekarang di Manggar saja terdapat sekitar 60 warung kopi. "Jumlah rinci warung kopi di Belitung Timur masih kami lakukan pendataan," ucap Rusman.

Penikmat aneka rasa kopi bukan hanya sekadar nongkrong buang-buang waktu. "Karena dulu warga di sini kan banyak penambang timah. Jadi sebelum berangkat nambang atau pulang nambang, mereka mampir ke warung kopi. Ya sekarang pun begitu, ngopi-ngopi," tutur Rusman.

Hampir seluruh kopi yang disajikan pengelola warung, Rusman menjelaskan, didatangkan dari Lampung. Favorit para warga ialah kopi O atau hitam.

"Pemerintah daerah bersama warga rencananya menyiapkan lahan untuk mengelola perkebunan kopi. Sehingga di masa mendatang para warga memiliki pekerjaan selain jadi penambang," tutur Rusman.

Aneka kopi pergelas dijual mulai harga Rp 4 ribu hingga Rp 7 ribu. Salah satu pengunjung, David (31), mengatakan kopi yang disiapkan para pemilik warung kopi di Belitung Timur ini disajikan dengan cara direbus dalam panci.

"Jadi, bubuk kopinya sengaja dimasukkan ke saringan agar ampas terpisah. Kopi O (kopi hitam) yang dipesan pembeli akan dipanaskan, lalu disajikan ke dalam gelas. Rasanya lebih mantap," ucap David.

Bapak satu anak ini hampir tiap hari bersama kerabatnya menyempatkan kumpul di warung kopi. "Enggak cuma ngobrol tak karuan. Ketika kami ngopi bareng, selalu saja ada info-info terbaru yang dibicarakan seperti soal politik, lowongan kerja dan perkembangan teknologi. Nah, sering juga info-info macam tadi itu diperoleh dari pengunjung lainnya," kata David.

Evi Markus (42), pengelola warung kopi di Jalan Bioskop Besar, Manggar, mengaku memulai bisnisnya sejak 1998. Dia dan keluarga awalnya merantau ke Jakarta.

"Waktu (1998), saya pulang ke Sini (Belitung Timur) karena di Jakarta terjadi kerusuhan. Nah, saat kami pulang kampung, ternyata banyak warung kopi. Karena bingung mau kerja apa lagi, ya saya dan suami membuka warung kopi," ujar Evi.

Dia memiliki lahan dan tempat strategis. Meski sekeliling areanya berjejer warung kopi, tidak ada istilah persaingan bisnis. "Rezeki sudah ada yang mengatur. Selama ini sesama pengelola warung juga akur-akur saja," ucap Evi.

Semula warung kopi 'Milineum' milik Evi berupa bangunan sederhana. Lantaran menatap bisnis tersebut menjanjikan, dia kokohkan warungnya selayak kafe nan nyaman sejak 2005. "Saya enggak mau ada kesan kumuh, makannya saya bangun permanen. Lagian ini lahan milik kami," katanya.

Beroperasi mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 00.00 WIB, warung 'Milenium' selalu ramai pengunjung. Bukan hanya pria, para wanita dewasa pun ikut merasakan sensasi kopi. Bahkan, anak-anak muda asik bercengkerama di tempat tersebut. Segelas kopi aneka rasa dibanderol mulai Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu. "Kopi yang saya pakai dari Lampung dan Jakarta," ujar Evi.

(sst/sst)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA