Mengenang Koteka di Bandara Wamena
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Mengenang Koteka di Bandara Wamena

Afif Farhan - detikTravel
Selasa, 01 Des 2015 13:11 WIB
Mengenang Koteka di Bandara Wamena
Masyarakat Wamena yang memakai koteka (Afif/detikTravel)
Jakarta -

Bandara Wamena di Papua sedang dalam pembangunan dan bakal lebih modern. Tidak ada lagi bangunan dari seng atau bangku-bangku kayu. Tapi kira-kira, nanti masih ada orang pakai koteka berkeliaran di bandaranya tidak ya?

Kini, pemerintah sedang membangun Bandara Wamena yang baru dan modern. Bentuknya tidak kalah dengan bandara modern di daerah lain. Seperti dilihat dari foto-foto dari Kemenhub, Fasad bandara begitu keren dengan ornamen seperti cerobong di bagian depan. Tampak proses finishing berupa pengaspalan.

Bagian check in, yang tadinya hanya ruang sederhana dengan jendela ram kawat dan dinding triplek, juga sudah berubah. Kini ada loket check in modern yang layak untuk sebuah bandara. Begitu pun bagian lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bandara Wamena yang sedang dibangun (Kemenhub)

Bandara Wamena yang dulu sempit, pengap dan kusam seperti kandang, kini berubah menjadi lega, terang dan nyaman. Tinggal proses penyelesaian yang perlu dikebut. Baca selengkapnya di sini.

Tapi bagi traveler yang pernah mendarat di Bandara Wamena, ada satu hal yang mencuri perhatian selain soal bangunan bandaranya yang seadanya. Apalagi, kalau bukan masyarakat setempat yang lalu lalang di sekitar bandara dan hanya menggenakan koteka.

Dalam catatan detikTravel, mereka yang memakai koteka menunggu di luar area bandara. Koteka sendiri, adalah alat pembungkus kelamin pria yang terbuat dari labu dan panjang.

Bagi traveler yang melihatnya, pasti langsung ingin mengabadikan gambar dan berfoto bersama. Awalnya tak masalah, mereka pun senang-senang saja difoto. Namun begitu selesai, siap-siap ditagih uang.


Masyarakat setempat yang memakai koteka (di sebelah kiri foto) (Sastri/detikTravel)

Mereka tidak bilang terlebih dulu soal bayar-membayar. Mereka pun akan mematok harga sesukannya, entah Rp 100 ribu, Rp 200 ribu tergantung banyaknya orang yang memotret. Mau tak mau, traveler harus membayar. Jika tidak, dia akan terus mengikuti dan menagih.

'Jebakan Batman', begitu sebutan para traveler yang sudah pernah mendarat ke Bandara Wamena dan berharap tidak kena jebakannya. Sebaiknya, simpan saja kamera dan jangan sampai memotretnya.

Entah bagaimana di Bandara Wamena yang baru yang sedang dibangun. Apakah ke depannya, masih ada orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar bandaranya dengan hanya menggenakan koteka?

Tak adil rasanya menyalahkan mereka. Sebaiknya ada pelatihan khusus dari pemerintah setempat, seperti menetapkan harga untuk berfoto-foto atau mengemasnya dalam bentuk atraksi wisata. Bertemu dengan orang Papua yang menggenakan koteka secara langsung adalah pengalaman yang tak bakal terlupakan bukan?

(aff/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads