Kearifan lokal masyarakat suatu daerah bisa dilihat dari bangunan rumah yang ditinggalinya. Dari daerah Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan ada sebuah rumah yang desainnya bisa tahan terhadap gempa, baik gempa teknonik maupun vulkanik.
detikTravel menjumpai rumah tahan gempa ini di sela-sela meliput ajang Musi Triboatton 2015 pekan lalu. Tapi tidak usah jauh-jauh ke daerah Kabupaten OKU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah rumah tradisional dari Ogan Komering Ulu. Disebut Rumah Ulu karena letaknya ada di Hulu Sungai Musi. Rumah ini tahan gempa lho," ucap Beny Pramana Putra, pemandu yang menemani detikTravel berkeliling Museum Balaputra Dewa.
Tiang di atas tumpukan batu (Wahyu/detikTravel)
Beny -begitu ia akrab disapa- kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana mekanisme rumah tersebut sehingga mampu menahan gempa. Menurutnya, desain struktur pondasi rumah panggung milik Rumah Ulu adalah kunci yang memungkinkan rumah ini tidak mudah roboh sewaktu gempa, tidak seperti rumah panggung biasa, ataupun rumah Limas.
"Rahasianya ada di sini, di pondasi. Tiangnya diletakkan di atas tumpukan batu, sehingga batu itu berfungsi seperti roda. Kalau ada gempa, rumah ini hanya akan bergoyang saja, tidak akan roboh," terang Beny.
Struktur pondasi rumah yang terbuat dari kayu juga bisa meredam goncangan gempa dan menyebarkannya ke berbagai penjuru arah. Semua itu berkat 3 buah patahan kayu, yang disusun secara khusus, guna mengurangi efek getaran gempa.
"Kayu ini ada 3 patahan yang disusun seperti ini, fungsinya untuk meredam goncangan dan menyebarkannya ke berbagai arah. Walaupun satu roboh, yang lain tetap bisa menopang," ucap Beny.
Struktur 3 buah kayu yang ditumpuk (Wahyu/detikTravel)
Kata Beny, rumah tradisional seperti ini masih bisa dijumpai di Ogan Komering Ulu Selatan, atau pun di Kota Prabumulih. Rumah Ulu ini sangat awet karena menggunakan jenis kayu yang semakin terendam air akan semakin kuat. Selain itu, dilakukan perawatan khusus dengan dioles pernis agar makin awet.
"Kayu rumah ini berwarna hitam karena dipernis pakai oli dan solar agar tidak dimakan rayap, selain itu bisa juga dengan diasap. Usia rumah ini diperkirakan sudah 200 tahun," imbuhnya.
Simbol roda di bagian bawah rumah (Wahyu/detikTravel)
Fakta menarik lainnya adalah, adanya simbol roda yang terukir di bagian bawah kayu pondasi rumah. Ternyata simbol ini bukan sembarang simbol. Simbol roda itu adalah pertanda bahwa rumah ini juga berfungsi sebagai rumah singgah bagi para penunggang kuda atau pun penarik pedati.
"Dulu, ada banyak penunggang kuda dan pedati yang mengembara. Mereka biasanya punya perkumpulan tersendiri dan menjadikan Rumah Ulu sebagai persinggahan. Biasanya rumah yang jadi tempat istirahat punya simbol roda di tiang kayunya," lanjut Beny.
Traveler yang penasaran dengan Rumah Ulu yang tahan gempa, bisa liburan ke Palembang dan mampir ke Museum Balaputra Dewa. Rumah ini menjadi bukti nyata betapa kearifan lokal wajib kita jaga agar tetap lestari hingga nanti. (sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama