Saat mendaki Puncak Carstensz, coba perhatikan celah-celah tebing di ketinggian 4.300-an mdpl. Lihatlah, ada banyak tulang belulang dan tengkorak yang berserakan. Ini, ada ceritanya...
Ada banyak hal yang bisa pendaki lihat kalau mendaki ke Puncak Carstensz (4.884 mdpl) lewat jalur perkampungan, dibandingkan lewat jalur pertambangan Freeport. Lanskap alam yang indah, sampai cerita-certia suku di kawasan Pegunungan Tengah, sayang untuk dilewatkan.
Salah satunya, adalah cerita tengkorak-tengkorak paling tinggi di Indonesia. Ya, tengkorak-tengkorak berikut ini adanya di ketinggian 4.300 mdpl dan tersimpan di celah-celah tebing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tengkorak di ketinggian 4.300-an mdpl (Maximus/Istimewa)
Sebelumnya Maximus bertanya kepada saya, apakah melihat tengkorak-tengkorak tersebut saat pendakian ke Carstensz kala mengikuti Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 Agustus silam? Sayang, saya saat itu tidak melihatnya.
Tengkorak-tengkorak tersebut, ada di jalur pendakian dari New Zealand Pass sampai Basecamp Danau-danau. Hanya saja, butuh waktu tak sebentar jika mampir ke celah-celah tebing dari trek pendakian yang dilewati. Ketika itu, kondisi saya juga drop sehingga harus buru-buru sampai di Bascemap Danau-danau.
"Ceritanya begini, di zaman dulu, orang tua-orang tua kami naik sampai ke atas sini (New Zealand Pass) untuk berburu kuskus dan dingiso. Mereka berjalan hanya memakai koteka saja," ujar Maximus mulai menceritakan sejarahnya.
Karena hanya memakai koteka, mereka pun kewalahan mengahadapi suhu yang sangat dingin. Terang saja, suhu paling ekstrem bisa mencapai 1 derajat Celcius! Belum lagi, hujan es juga cukup berbahaya.
"Oleh sebab itulah, orang tua-orang tua kamibbanyak yang meninggal. Kalau sudah begitu, tidak mungkin untuk membawanya ke bawah. Jadi, dimakamkan dengan cara jenazah ditaruh di celah tebing seperti ini," papar Maximus yang juga pendiri operator pendakian Adventure Carstensz ini.
Jumlah tengkorak dan tulang belulangnya, menurut Maximus ada banyak. Beberapa tulang belulang, dipakaikan kemeja oleh suku Moni yang menurut Maximus, merupakan suatu penghormatan.
"Kami menjaga tengkorak dan tulang belulangnya hingga kini. Mereka leluhur kami," pungkas Maximus.
Kerangka tulang yang dipakaikan pakaian (Maximus/Istimewa)
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Bandara Husein Sastranegara Beroperasi Lagi, Kertajati Jadi Bengkel Pesawat
Prabowo Beri Lampu Hijau, Bandara Husein Sastranegara Mulai Bersolek
Jokowi Dapat Gelar Baginda Pemuka Bangsa dari Keraton Kagungan Lampung, Apa Maknanya?