Berkunjung ke Kampung Wisata Temenggungan (Kawitan) tak lengkap rasanya jika tak mampir ke Sumur Sri Tanjung. Sumur ini diyakini berkaitan erat dengan legenda Putri Sri Tanjung dan Patih Sidopeksa yang menjadi cikal bakal munculnya nama Banyuwangi.
Letak sumur ini berada sekitar 50 meter dari gapura Kawitan dan berada di rumah milik warga bernama Rusman. Rusman menyakini bangunan rumahnya itu berdiri di atas peninggalan pemandian keputren.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusman yang saat ini menjadi juru kunci, mewarisi sumur tersebut dari mertuanya. Bersama almarhum isterinya, mereka menjaga dan melayani setiap tamu yang datang dengan berbagai kepentingan dan tujuan.
Rusman menjelaskan, saat ini sumur Sri Tanjung direnovasi sejak 1976. Saat ini sumur itu berbentuk kotak, tidak terlalu dalam dan sudah ditembok. Sumur itu selalu ditutup dan dibuka ketika perlu untuk mengambil airnya.
Di tepian sumur terdapat sebuah bokor yang digunakan untuk meletakkan dupa, sebuah baskom berisi sisa pembakaran dupa dan ada juga sesaji berupa tiga jenis bunga.
"Sesajen itu saya meneruskan dari mertua, kantil kuning, kantil putih dan kenanga. Kadang kala melati, Buyut (Sri Tanjung) tidak mau bunga yang berwarna merah," ujar pria yang mengaku kerap berinteraksi secara gaib dengan Putri Sri Tanjung itu.
Bentuk Sumur Sri Tanjung (Aditya/detikTravel) |
Banyak orang percaya air dari sumur itu berkhasiat. Rusman mengisahkan sudah banyak tamu mancanegara datang karena didatangi Putri Sri Tanjung.
"Tamu asing paling banyak dari Mesir, Jepang, kalau Asia Tenggara ke sini sudah dari dulu. Rata-rata karena sakit, dan mereka itu mengaku didatangi wanita cantik yang berpesan kalau mau sembuh datang ke rumah saya di Banyuwangi, timur pendopo. Eh kebetulan juga cocok," tambahnya.
Tak hanya dipercaya berkhasiat menyembuhkan, sesekali sumur itu dipercaya masih mengeluarkan bau wangi. Rusman menyebut hal itu menjadi pertanda suatu peristiwa penting.
"Bau harum itu kaitannya dengan kenegaraan, seperti Jepang masuk ke Indonesia, PKI meletus, gunung meletus. Tapi kalau berbau amis biasanya pejabat Banyuwangi kena kasus korupsi," tambahnya.
Dia menambahkan waktu kunjungan paling ramai biasanya pada sore hingga malam hari. "Ramainya itu Selasa kliwon, Jumat kliwon, Selasa legi dan Jumat legi. Kalau menurut saya semua hari baik, tergantung niat dan tekad saja," tukasnya.
Seperti malam itu, ada tamu yang meminta kesembuhan melalui perantara air dari sumur. Wanita paruh baya itu sudah setahun mengalami kebutaan. "Saya diberitahu saudara, baru kali ini ke sini. Setelah cuci muka rasanya dingin dan sekarang lemas," kata Nasripah, wanita tersebut.
Rusman menegaskan setiap tamu diminta untuk melakukan wirid dan berdoa memohon kesembuhan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dia menjelaskan banyak orang salah kaprah ketika menganggap air sumur ini menyembuhkan.
"Utamanya itu memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui air dari Putri Sri Tanjung untuk meminta kesembuhan. Insya Allah nanti terkabul doanya, Buyut (Sri Tanjung) sebagai perantara saja," katanya.
Banyak warga yang terkabul doanya dan sembuh dari air Sumur Sri Tanjung (Aditya/detikTravel) |












































Bentuk Sumur Sri Tanjung (Aditya/detikTravel)
Banyak warga yang terkabul doanya dan sembuh dari air Sumur Sri Tanjung (Aditya/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Setuju?
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, MTI: Momentum Perbaiki Perlintasan Kereta
AS Siapkan Paspor Edisi Khusus, Tampilkan Wajah Donald Trump