Kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul memiliki ratusan gua kapur. Gua-gua kapur yang ada di wilayah Kecamatan Semanu, Ponjong dan Rongkop tersebut ratusan ribu tahun lalu merupakan tempat tinggal atau hunian manusia purba.
Ada banyak jejak arkeologis dan artefak yang ditemukan di wilayah itu. Batu-batu menhir, kubur batu, manik-manik dan tembikar juga ditemukan di Gunungkidul tepatnya di situs Sokoliman, Bejiharjo, Karangmojo. Itu menandakan Gunungkidul sejak lama ratusan ribu tahun lalu sudah menjadi tempat hunian manusia purba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: (Bagus/detikTravel) |
Gua Braholo terletak di Dusun Semugih Kecamatan Rongkop. Dari Kota Wonosari ke arah timur sekitar 20-an km atau berada di jalur menuju Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dan Pacitan, Jawa Timur. Gua Braholo terletak di pinggir jalan Desa Semugih. Dari jalan utama di Rongkop oleh Pemkab Gunungkidul telah dipasang papan penunjuk arah menuju Gua Braholo.
Untuk menuju ke dalam gua, harus menaiki anak tangga. Gua tersebut berada di perbukitan dengan ketinggian 357 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi gua sangat luas dengan langit-langit yang masih ada batuan stalaktit di atas dan stalagmit di bagian bawah.
Tinggi langit-langit gua lebih dari 15 meter sehingga tampak terang bila sinar matahari masuk. Lantai gua sebagian besar tanah dengan lebar ruangan kurang lebih 39 meter dengan panjang 30 meter. Luas keseluruhan gua sekitar 1.172 meter persegi.
Lubang-lubang bekas penggalian oleh tim arkeologi masih tampak. Ada lubang yang tetap dibiarkan terbuka dan ada pula lubang yang hanya ditutup dengan seng. Agar tidak membahayakan pengunjung di dekat lubang juga dipasang pengaman dari semen.
"Penggalian pertama sekitar tahun 1995 oleh Prof Harry Truman Simanjuntak dari Puslit Arkenas Jakarta," ungkap Kusno penanggungjawab dan pengelola Gua Braholo kepada detikTravel, Jumat (3/3/2017).
Foto: (Bagus/detikTravel) |
"Kalau ada penelitian di sini dan Gua Tritis biasanya ada yang menginap di rumah saya," katanya.
Menurut dia lubang yang digali di dalam gua ada sekitar 14 lubang dengan kedalaman sekitar 3-7 meter. Dari lubang yang dibiarkan terbuka itu terlihat lapisan tanah bergaris-garis abu-abu, hitam dan putih. Lapisan bergaris abu-abu keputihan itu menandakan bekas abu perapian.
"Ada tulang dan gigi monyet, kerang, biji-bijian yang terbakar. Semua ditemukan menyebar di sekitar kanan gua. Mungkin dulu untuk membuang sisa-sisa makanan. Sedangkan di bagian kiri bagian dalam untuk tidur," kata Kusno sambil menunjukkan beberapa lubang bekas penggalian.
Selain itu lanjut dia, di salah satu lubang juga ditemukan kerangka manusia purba. Letak ditemukan dekat dengan diding bagian dalam gua. Posisi kerangka manusia purba itu dalam keadaan duduk dengan lulut tertekuk menyatu dengan badan.
"Fosil kerangka manusia purba tersebut sekarang disimpan di Museum Punung di Pacitan," katanya.
Dia menambahkan, dibandingkan dengan Gua Tritis atau Song Tritis, Gua Braholo lebih lengkap. Sebab di Gua Tritis sebagian besar banyak ditemukan fosil sisa-sisa makanan. Letak Gua Tritis di sebelah timur sekitar 5 km dari Gua Braholo atau di perbatasan antara wilayah Gunungkidul dengan Pracimantoro.
"Mungkin dulunya Gua Tritis hanya untuk tempat tinggal sementara saja," katanya. (bgs/krn)












































Foto: (Bagus/detikTravel)
Foto: (Bagus/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh