Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 28 Apr 2017 16:53 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mama Maria yang Sakti dan Rumah Adat Siri Gatal

Fitraya Ramadhanny
Redaksi Travel
Mama Maria di rumah adat Siri Gatal Purbul (Fitraya/detikTravel)
Mama Maria di rumah adat Siri Gatal Purbul (Fitraya/detikTravel)
Atambua -

Jika wisatawan mau ke Benteng Makes atau Fulan Fehan di Atambua, pasti lewat rumah tradisional yang besar. Penghuninya adalah perempuan sakti yang rendah hati.

Benteng Makes dan Fulan Fehan ada di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, NTT. Dari Kota Atambua jaraknya sekitar 40 km yang ditembuh dalam waktu 1,5 jam.

Di ujung aspal menuju Benteng Makes dan Fulan Fehan, ada perempatan desa. Di sana ada bangunan rumah tradisional Suku Bunak yang disebut Rumah Adat Siri Gatal Purbul.

Atapnya dari jerami, sangat panjang dan nyaris menyentuh tanah. Rumah itu ditinggali perempuan tua berusia 90 tahun, bernama Mama Maria Corry. detikTravel dan tim Tapal Batas detikcom bersilaturahmi dengan dia, pada Kamis (30/3/2017) sambil diajak oleh Pemkab Belu.

Rumah adat Siri Gatal tampak luar (Fitraya/detikTravel)Rumah adat Siri Gatal tampak luar (Fitraya/detikTravel)

Suasana desa begitu asri dengan suara gonggongan anjing meramaikan suasana. Kami harus membungkuk melewati atap yang rendah, di baliknya ada tangga ke rumah panggung. Mama Maria tampak sehat ketika kami datang.

"Saya tinggal sendirian saja. Sehari-hari tanam jagung, makan jagung. Rumah ini sudah ada sejak tahun 1910," kata Mama Maria.

Dinding rumah Mama Maria adalah kayu tua penuh ukiran berbentuk manusia leluhur Suka Bunak. Namanya Bei Mali, Bei Siri, Bei Eduk. Ada juga ukiran berbentuk hewan dan senjata. Tengkorak kerbau juga menghias dinding teras rumah.

Ternyata, tidak sembarang orang boleh masuk rumah Mama Maria. Keluarganya yang lain tinggal di rumah berbeda. Mama Maria begitu dihormati di seluruh desa, karena mau tinggal di rumah adat Siri Gatal dan merawat banyak benda pusaka.

Mama Maria yang Sakti dan Rumah Adat Siri GatalInterior rumah adat Siri Gatal (Fitraya/detikTravel)

Tanpa ditinggali Mama Maria, mungkin rumah dengan kayu eucalyptus ini sudah dimakan rayap. Rumah ini pun sudah sempat direnovasi. Mama Maria kemudian rajin mengasapi rumah supaya lebih awet.

Kami boleh masuk ke dalam, karena didampingi Kabag Humas dan Protokol Pemkab Belu, Fridolinus Siribein, yang masih famili Mama Maria. Di dalam Mama Maria menunjukan tempat dia tidur dan dapur tempat dia memasak jagung.

"Dulu waktu perang Timor Leste, orang masuk untuk ambil Kakaluk (jimat-red) supaya kebal peluru, masuk ke rumah adat ini. Tiap kali orang perang selalu mengambilnya di sini. Ini rumah adat yang paling ditakuti," kata Frido.

Bukan Mama Maria yang memberikan kesaktian itu, melainkan tetua yang lain. Tapi, Mama Maria juga punya kesaktian lho. Hal ini diceritakan oleh Sylvester Han, famili Mama Maria yang tinggal di rumah permanen di depan rumah adat ini.

Mama Maria yang Sakti dan Rumah Adat Siri GatalUkiran tua di dalam rumah (Fitraya/detikTravel)

"Ini Mama Maria biasa obati orang yang patah tulang. Langsung sembuh yang patah atau hancur. Tiga hari, lima hari, tujuh hari, hilang memang," kata Sylvester.

Frido pun menambahkan, "Biasanya orang yang jatuh dari motor dibawa ke sini kalau dokter sudah menolak. Habis itu dia normal. Kemarin ada pendeta patah kaki, ditolak dokter, dibawa ke sini. Kemarin saya lihat, kakinya sudah sembuh."

Sementara Sylvester dan Frido bercerita, Mama Maria malah diam saja. Dia tampak tidak terlalu suka menceritakan kesaktiannya. Sylvester mengatakan Mama Maria menggunakan tumbuhan-tumbuhan sebagai obat yang dirahasiakan dari nenek moyang.

Selain soal keahlian Mama Maria menyembuhkan patah tulang, dia juga merawat senjata pusaka berbentuk kelewang. Kami tidak boleh melihatnya, tapi Sylvester mengatakan kelewang itu barang keramat berusia ratusan tahun yang pernah dipakai berperang.

Mama Maria yang Sakti dan Rumah Adat Siri GatalSylvester dan Mama Maria (Fitraya/detikTravel)

"Ada pernah orang curi, tapi kelewangnya datang kembali. Dibawa sampai kemana kita tidak tahu. Tapi kelewang ini sendiri datang ke sini," kata Sylvester.

Sungguh percaya tidak percaya ya. Kami pun lantas berpamitan dengan Sylvester dan Mama Maria yang sakti namun rendah hati.

Dalam kunjungan biasa, wisatawan tidak boleh masuk ke dalam Rumah Adat Siri Gatal Purbul. Namun, jika mau berfoto dari depan rumah atau pinggir jalan raya, itu diperbolehkan.

Sebelum kami pulang, Sylvester menitip pesan tentang pembangunan di desanya. Banyak potensi wisata seperti Benteng Makes dan Sabana Fulan Fehan, namun akses jalan menjadi kendala. Masih berbatu dan menanjak curam.

"Tolong perhatikan kami. Perhatikan ini jalan, oto (mobil -red) tidak bisa naik. perhatikan jalan ke sana, naik turun ke Dirun, Benteng Makes, Fulan Fehan. Ini pemerintah di sini tidak perhatikan," curhatnya.

Simak kisah-kisah lain petualangan ke Atambua di Tapal Batas Detikcom. (fay/fay)
BERITA TERKAIT
NEWS FEED