Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 04 Sep 2017 18:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Makna di Balik Lambang Kesultanan Ternate yang Mendunia

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Ada makna di balik Lambang Kesultanan Ternate (Wahyu/detikTravel)
Ada makna di balik Lambang Kesultanan Ternate (Wahyu/detikTravel)
Ternate - Ada cerita dan filosofi luhur di balik lambang 'Limau Gapi' Kesultanan Ternate yang mendunia. Bahwa rakyat dan Sultan memiliki kedudukan setara di depan Tuhan.

Kesultanan Ternate memiliki lambang resmi berbentuk burung Goheba berkepala dua. Di bagian dadanya terdapat perisai, dengan simbol hati terbalik di tengahnya. Di bagian bawah, terdapat pita yang bertuliskan 'Limau Gapi'.

Rupanya lambang ini bukanlah sekadar lambang biasa, melainkan memiliki makna filosofis yang dalam. Hidayat Mudaffar Sjah, selaku pejabat Kesultanan Ternate sepeningggal Sultan Muddaffar Syah II, menjelaskan soal arti dari lambang ini.

"Limau Gapi itu ada maknanya, bahwa di dalam mengelola negara, harus ada kesepahaman, 1 hati, antara raja selaku pemerintah, dengan rakyat. Mesti ada tenggang rasa, karena Raja dan rakyat ada di tempat yang sama. Bahasa Ternatenya: 'Toma Ua Hang Moju, Toma Limau Gapi Matubu, Jou se Ngofangare' yang artinya: 'Pada satu waktu dari masa, pada suatu tempat yang tertinggi, hanya ada aku dan Engkau. Aku Tuhanmu dan Kau Hambaku," terang Hidayat kepada detikTravel beberapa waktu lalu.
Hidayat Mudaffar Syah (Wahyu/detikTravel)Hidayat Mudaffar Syah (Wahyu/detikTravel)


Hidayat pun menyebut Kesultanan Ternate sudah menerapkan sistem yang sangat demokratis di masa itu, dimana Raja dipilih dan diangkat oleh rakyat. Rakyat pun bisa menarik mandat yang mereka berikan pada Raja.

"Kita sudah sangat demokratis zaman itu. Dalam bahasa Ternate: 'Kau duduk di sana karena kami, kau jangan pernah sekali-sekali menipu kami'. Sudah hak dari rakyat untuk menegur rajanya. Tetapi tentu melalui mekanisme yang baik, menyampaikan teguran, tetapi yang ditegur tidak merasa tersinggung," ungkap Hidayat.

BACA JUGA: Satu-satunya Lambang Kerajaan Indonesia yang Mirip Bendera Negara Eropa

Menurut Hidayat, mekanisme teguran rakyat kepada Raja itu biasanya melalui tarian. Rakyat menghadap ke Raja di Kedaton, kemudian mereka menari sambil menyampaikan unek-uneknya melalui syair-syair lagu.
Lambang resmi Kesultanan Ternate (Wahyu/detikTravel)Lambang resmi Kesultanan Ternate (Wahyu/detikTravel)


Raja dan rakyat Ternate pun diibaratkan sebagai sebuah hidangan. Nasi kuning adalah rakyat, dan telur rebus adalah Raja. Telur ketika dibelah, akan muncul bagian kuningnya. Di dalam hati raja, ada rakyat, dan begitu pula sebaliknya.

"Tanpa raja, rakyat akan anarki. Tanpa rakyat, Raja tidak bisa apa-apa," kata Hidayat.

Jadilah kehidupan bernegara di masa itu sangat harmonis dan demokratis. Tidak heran Kesultanan Ternate maju pesat dan dikenal sebagai Kerajaan Islam terbesar di Indonesia. Semua itu berkat filosofi Limau Gapi yang digunakan sebagai lambang Kesultanan Ternate. (wsw/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA