Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 02 Nov 2017 12:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Selain Bali, Kalimantan Juga Punya Tradisi Bakar Mayat

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Tradisi Tiwah di Kalimantan Tengah (@Rkd rikardo/Youtube)
Tradisi Tiwah di Kalimantan Tengah (@Rkd rikardo/Youtube)

FOKUS BERITA

Merayakan Kematian
Palangkaraya - Tradisi bakar mayat bukan cuma ada ada di Bali atau China. Suku Dayak di Kalimantan juga punya tradisi serupa yang bernama Tiwah.

Walau belum sepopuler Ngaben, tradisi Tiwah dapat ditemukan di kawasan Nasional Tanjung Puting dan Kalimantan Tengah yang kental dengan Suku Dayak.

Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (2/11/2017), tradisi Tiwah adalah prosesi mengantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka. Nantinya, mayat ini akan dibakar seperti Ngaben yang ada di Bali.

Umumnya, tradisi ini hanya diadakan jika ada salah satu ketua adat Suku Dayak yang meninggal. Sebelum tradisi Tiwah, akan dilakukan lebih dulu tradisi Tantulak.

Jenazah yang sudah jadi tulang belulang (@Budaya Indonesia/Youtube)Jenazah yang sudah jadi tulang belulang (@Budaya Indonesia/Youtube)


Dalam kepercayaan Kaharingan Suku Dayak, seseorang yang telah mati harus diantarkan lebih dulu menuju Bukit Malian. Dari sana, sang arwah akan menanti untuk pergi ke Ranying Hattala Langit sampai keluarga yang masih hidup melakukan tradisi Tiwah.

Di dalam prosesi ini, pembakaran tak hanya dilakukan kepada sang ketua adat saja, tapi juga jenazah lain yang telah dikubur.

Jenazah akan dibawa oleh keluarga (@Budaya Indonesia/Youtube)Jenazah akan dibawa oleh keluarga (@Budaya Indonesia/Youtube)


Jadi, sejumlah jenazah yang telah dikubur akan digali lagi. Sejumlah jenazah baik yang masih baru atau yang telah jadi tulang pun akan dibakar bersamaan dengan sang ketua adat.

Tradisi ini pun sekaligus dilakukan untuk memutuskan status janda untuk istri yang ditinggalkan. Setelah tradisi ini dilakukan, sang janda diperbolehkan untuk kembali menikah atau tidak menikah. Sesuai dengan keputusan pribadi.

Diletakkan di dalam wadah untuk dibakar (@Budaya Indonesia/Youtube)Diletakkan di dalam wadah untuk dibakar (@Budaya Indonesia/Youtube)


Hanya seperti Ngaben, tradisi Tiwah ini tidak apat disaksikan setiap waktu. Semuanya kembali lagi, tergantung ada yang meninggal atau tidak.

Selain itu, dibutuhkan uang dan waktu yang tidak sedikit untuk meyelenggarakan tradisi Tiwah. Umumhya, Tiwah dilakukan nonstop selama beberapa hari hingga satu bulan. (rdy/fay)

FOKUS BERITA

Merayakan Kematian
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED