Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 16 Mei 2018 16:11 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Tradisi Sambut Ramadan di Daerah-daerah Indonesia

Afif Farhan
Redaksi Travel
(Enggran Eko Budianto/detikTravel)
(Enggran Eko Budianto/detikTravel)
Jakarta - Banyak tradisi menyambut bulan suci Ramadan di Indonesia. Beda daerah beda pula tradisinya, bukti kekayaan budaya Indonesia!

Bulan Ramadan di depan mata. Menyambut datangnya bulan suci, tiap daerah melaksanakan tradisi menyambut Ramadan yang sudah berlangsung dari ratusan tahun silam. Sekaligus, jadi atraksi wisata yang menarik didatangi.

Dirangkum detikTravel, berikut tradisi sambut Ramadan di berbagai daerah di Indonesia:

1. Pawai Obor, Tradisi Sambut Ramadan di Tanah Pasundan

Di Garut dan Kota Cirebon, pawai obor menjadi tradisi tahunan menyambut bulan yang dinanti-nantikan Umat Muslim ini. Di Cirebon, ribuan warga baik tua, muda, laki-lak dan perempuan berkumpul di depan Balai Kota Cirebon dan berkeliling kota membawa obor.

(Robby Bernardi/detikTravel)(Robby Bernardi/detikTravel)


Sepanjang perjalanan masyrakat antusias berjalan meski rute yang dilewati cukup jauh. Sambil berjalan masyrakat terus mengumandangkan salawat dan takbir.

Bukan hanya di Cirebon, pawai obor juga digelar di Garut. Ribuan umat Muslim tumpah ke jalan. Sambil membawa obor, ribuan warga itu berjalan mengelilingi Kota Garut.

Sebelum pawai, massa Salat Isya berjamah di Masjid Agung Garut. Setelah itu mereka berkeliling, pusat perkotaan melalui rute Jalan Ahmad Yani, Jalan Guntur Melati, Jalan Pramuka, dan berakhir di Lapangan Alun-alun Garut.

2. Permainan Bola Api di Cileunyi

Sementara itu di Cileunyi, menyambut Ramadan, anak-anak Kelurahan Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, bermain bola api. Permainan bola api dilakukan oleh 10 orang anak-anak yang dibagi ke dalam dua tim. Secara umum, permainan bola api yang dilakukan anak-anak ini sama seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang membedakan, gawang hanya berukuran satu langkah kaki dan tanpa ada penjaga gawang.

Sebelum permainan dimulai, anak-anak berkumpul mengelilingi bola api yang terbuat dari batok kelapa yang telah direndam minyak tanah. Dibimbing salah seorang ustaz, mereka membaca doa sebelum permainan dimulai.

(Dony Indra Ramadhan/detikTravel)(Dony Indra Ramadhan/detikTravel)


Usai membaca doa, para peserta mulai menempati posisi masing-masing. Bola dilempar panitia ke arena permainan, anak-anak langsung berebut mencari bola.

Meski tanpa alas kaki, anak-anak itu tetap bersemangat berebut bola. Mereka begitu kuat menggiring bola hingga menjebloskan bola ke gawang mini yang terbuat dari pot bunga. Lantunan salawat dengan alat musik rebana mengiringi permainan bola api.

3. Tradisi Gerebek Apem di Jombang

Warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur punya cara unik untuk menyambut bulan suci Ramadan, yakni Gerebek Apem. Di tradisi ini, warga memperebutkan 21 gunungan kue apem yang dipercaya sebagai simbol permohonan ampun kepada Allah SWT.

Gerebek Apem diawali dengan kirab gunungan dari GOR Merdeka Jombang menuju Ringin Contong di Jalan Gus Dur. Sedikitnya 21 gunungan dari kue apem diarak membelah ribuan warga yang memadati jalan.

(Enggran Eko Budianto/detikTravel)(Enggran Eko Budianto/detikTravel)


Gerebek Apem sebagai tradisi warga Jombang sejak puluhan tahun silam untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kue apem mempunyai filosofi yang harus selalu menjadi pegangan warga kota santri. Apem dalam bahasa arab adalah afwan, artinya meminta pengampunan dari Allah SWT.

4. Dhandangan, Tradisi 450 Tahun Warga Kudus

(dok. Pemkab Kudus)(dok. Pemkab Kudus)


Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan sendiri saat menyambut datangnya bulan Ramadan. Salah satunya adalah Kudus, yang memiliki tradisi 'Dhandangan'.

Dhandangan adalah tradisi masyarakat Kudus untuk menyambut datangnya bulan Ramadan yang sudah ada sejak lebih dari 450 tahun yang lalu, atau sejak masa Sunan Kudus. Tradisi ini selalu diisi dengan pasar rakyat, yang memberikan kesempatan pada masyarakat lintas kultural di Kudus untuk berinteraksi sekaligus memperoleh rezeki sebelum puasa.

Tidak ada catatan yang pasti bagaimana tradisi Dhandangan bermula. Namun masyarakat Kudus meyakini nama Dhandangan diambil dari bunyi bedug di masjid menara Kudus.

Menurut cerita leluhur, di masa lalu masyarakat berkumpul di masjid menara Kudus untuk menunggu Kanjeng Sunan Kudus mengumumkan dimulainya bulan puasa. Sebelum pengumuman, biasanya bedug masjid ditabuh dan suaranya 'dhang..dang..dang'. Dari sanalah nama dhandangan diambil.

Melihat keunikan sejarah tersebut, sejak 2008 Pemkab Kudus menjadikan dhandangan sebagai atraksi wisata. Selain itu, Pemkab Kudus juga menggelar pentas kolosal visualisasi perjalanan sejarah tradisi masyarakat Kudus, tepat sehari sebelum puasa. Pentas kolosal visualisasi yang dihadiri ribuan warga Kudus tersebut juga menggambarkan perjalanan sejarah akulturasi budaya Islam, Jawa, Hindu dan Tiongkok yang mewarnai Kudus.

5. Tradisi Santap Daging Bersama Jelang Ramadan di Aceh

Masyarakat Aceh punya tradisi khusus menyambut bulan suci Ramadan. Dua hari sebelum puasa, warga Tanah Rencong membeli daging lembu atau kerbau untuk dimasak, lalu disantap bersama. Tradisi ini sudah berlangsung sejak 400 tahun lalu dan bernama Meugang.

(Agus Setyadi/detikTravel)(Agus Setyadi/detikTravel)


Harga daging yang dijual pada hari Meugang atau Madmeugang melonjak drastis. Meski tergolong mahal, tapi itu tidak menjadi masalah bagi masyarakat Tanah Rencong. Sebabnya, jauh hari sebelum Meugang warga sudah mempersiapkan diri untuk membeli daging sesuai kemampuan.

Saat Meugang semua orang statusnya sama baik orang kaya ataupun miskin. Mereka semua beli daging untuk dimakan bersama keluarga. Tradisi Meugang ini sudah dilakukan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh.

Kala itu, sebulan sebelum Meugang kepala desa sudah menerima surat untuk mendata warga miskin di desanya. Setelah sultan melihat semua data yang dikumpulkan, menjelang Meugang baru dikirim uang kepada warga untuk membeli hewan ternak.

Dalam literatur buku 'Singa Aceh', kata Tarmizi, disebutkan bahwa sultan sangat mencintai rakyatnya baik fakir miskin atau pun kaum dhuafa. Orang tidak mampu kala itu menjadi tanggungjawab sultan. Dia kemudian mengeluarkan satu qanun yang mengatur tentang pelaksanaan Meugang.

Lambat laun, Meugang menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh yang mayoritas Islam. Meski modelnya berbeda dengan masa kesultanan, makna terkandung di baliknya sama. Perayaan ini juga bagian dari kegembiraan menyambut Ramadan.

Bicara soal Bulan Ramadan yang sudah di depan mata, tandanya sudah semakin dekat pula ke musim mudik lebaran. Belum dapat tiket mudik? Jangan khawatir, karena tiket.com punya banyak solusi untuk perjalanan mudik Anda.

Selain lebih mudah, mudik dengan aplikasi tiket.com juga lebih murah karena selalu ada harga terbaik, ke mana pun. Belum punya aplikasinya, install gratis sekarang di Google Playstore dan App Store.

Jadi, mau ke mana? Ke mana pun, tiket.com aja!



Tonton juga tradisi tabuh bedug di Keraton Kasepuhan Cirebon lewat video berikut ini!



(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED