Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Agu 2018 21:20 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Pendakian Gunung Ciremai: Surga, Edelweiss, dan Mistis

Muhammad Idris
detikTravel
Puncak Gunung Ciremai, atapnya Jawa Barat (Muhammad Idris/detikTravel)
Kuningan - Puncak tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai memang banyak dilirik untuk pendakian. Puncaknya Ciremai menyimpan banyak keindahan.

Gunung dengan ketinggian 1.072 mdpl ini jadi salah satu tempat terbaik melihat mekarnya bunga edelweiss saat musim kemarau.Selain itu, letaknya yang sangat dekat dengan Pantai Utara Jawa, membuat siapapun di yang naik ke atasnya bisa bisa menyapu pandang ke arah laut lepas.

Ciremai juga terkenal karena aroma mistisnya karena memiliki banyak situs-situs yang kerap dijadikan lokasi ritual. Ciremai memiliki segudang cerita-cerita mistis, serta pantangan-pantangan yang tak boleh dilanggar jika berada di Ciremai.

detikTravel beberapa waktu lalu mencoba Jalur Palutungan di Kabupaten Kuningan. Terdapat dua jalur populer lainnya, yakni Linggarjati dan Apuy di Kabupaten Majalengka dan ketiganya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Linggarjati misalnya, selama ini jadi jadi akses paling dekat dari Kota Cirebon di ketinggian 600 mdpl atau yang paling jauh dari puncak. Jalur ini diuntungkan dengan transportasi yang relatif cukup mudah, namun pendaki harus dihadapkan dengan treknya yang sangat panjang dengan waktu tempuh normal selama kurang lebih 12 jam.


Bandingkan dengan Palutungan yang berada di ketinggian 1.100 mdpl. Jika lewat Palutungan, jalurnya relatif lebih pendek, yakni sekitar 8 jam. Sementara Apuy lokasinya lebih dekat lagi dengan puncak, bisa diselesaikan pendaki hanya dalam waktu sekitar 6-7 jam.

Pendakian Gunung Ciremai: Surga, Edelweiss, dan MistisFoto: (Muhammad Idris/detikTravel)


Kendati begitu, baik Apuy maupun Palutungan, jaraknya cukup jauh dari Kota Cirebon, serta tak ada angkutan umum langsung yang menuju basecamp dua jalur tersebut. Jika dari arah Jakarta, sangat disarankan memilih bus ketimbang kereta api, karena banyak trayek bus yang menuju langsung ke Kuningan maupun Majalengka.

Selesai mengurus administrasi di kantor pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai di Palutungan, kita bisa langsung mengurus persiapan logistik. Jangan khawatir, di Palutungan banyak warung yang menjual makanan hingga peralatan pendakian di sana yang sangat membantu selama mempersiapkan kebutuhan logistik.

Omong-omong soal biaya, tarif yang ditetapkan pengelola cukup mahal, yakni Rp 55.000. Namun begitu, tiket tersebut bisa ditukar dengan sekali makan di warung-warung yang ada di sekitar basecamp. Selain itu, pendaki juga diberikan sertifikat lho.

Dari Palutungan, ada 8 pos yang dilewati hingga ke puncak. Perjalanan dari jalur ini cukup melelahkan, namun akan terbayar dengan pemandangan yang sangat mengibur mata dan mengilangkan penat. Waktu pagi hari, sekitar pukul 07.00 WIB adalah waktu yang paling pas memulai pendakian, ini agar pendaki bisa mencapai Pos Pesanggrahan yang menjadi lokasi paling ideal untuk mendirikan tenda pada sore harinya.

Dari basecamp hingga pos pertama traveler akan melewati jalan aspal, persawahan, dan peternakan sapi milik warga sebelum memasuki area hutan produksi berupa hutan pinus. Perjalanan menuju pos pertama sendiri merupakan jalur terpanjang yang mencapai 4 km. Namun jalur tersebut relatif landai, sehingga jadi jalur pemanasan sebelum trek menanjak yang sebenarnya selepas pos pertama.


Pendakian Gunung Ciremai: Surga, Edelweiss, dan MistisFoto: (Muhammad Idris/detikTravel)


Jika ingin menghemat energi, disarankan tak perlu membawa air terlalu banyak dari basecamp. Ini karena di Pos 1 atau Cigowong, terdapat mata air yang tak pernah kering sepanjang tahun, meski saat kemarau sekalipun. Jangan heran di pos pertama pula terdapat warung makan lho yang menyediakan jajalan gorengan, air mineral, semangka, kopi hingga nasi rames.

Pengelolanya adalah para ranger Ciremai yang rutin bolak-balik ke pos satu dengan motor trail mereka. Dari sisi harga, selisihnya tak terlalu jauh dengan warung di basecamp, jadi jangan khawatir kantong jebol hanya untuk jajan sekadarnya di warung ini. Selain warung, pos pertama juga difasilitasi MCK dan musala yang cukup besar.

Setelah beristirahat sejenak di Cigowong, barulah perjalanan sesungguhnya dimulai. Pos pertama hingga Pos 2 didominasi hutan belantara berlumut dan cukup gelap karena tutupan kanopi pepohonan besar begitu pula menuju Pos 3. Treknya jalan tanah dengan sedikit tanjakan. Pendaki bahkan bisa berlari di jalur yang bisa dianggap sebagai pemanasan ini. Tiga pos berturut-turut yang dilewati di etape ini adalah Pos Kuta, Pos Badak, dan Pos Arban.

Pendaki baru menghadapi trek terjal mulai dari Tanjakan Asoy di Pos 5. Namun, meski curam dengan kemiringan sekitar 45 derajat, treknya bisa dilalui dengan mudah. Pijakan tanahnya cukup lebar dengan akar-akar pohon yang bisa jadi pegangan, sehingga tanjakan ini bukan rintangan berarti, kecuali bagi mereka yang membawa beban berlebih.

Selepas Tanjakan Asoy, tenaga pendaki bakal terkuras hingga Pos Pesanggrahan yang biasanya dipilih jadi tempat berkemah. Jalurnya cukup panjang dengan kontur menanjak membuat pendaki harus pintar-pintar mengatur nafas dan persediaan air, mengingat jalan ke puncak usai dari Pesanggrahan adalah trek tersulit di Jalur Palutungan ini.


Pendakian Gunung Ciremai: Surga, Edelweiss, dan MistisFoto: (Muhammad Idris/detikTravel)


Butuh setidaknya 4-5 jam perjalanan dari Pos 1 hingga Pesanggrahan. Jika beruntung, pendaki bisa melihat Lutung Jawa yang bergelantungan di pepohonan. Karena hidup berkelompok, spesies kera ekor panjang ini kerap mengeluakan suara untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Suara mereka sangat nyaring dan mudah dikenali, jadi jangan heran jika mendengar suara lolongan panjang di tengah hutan belantara.

Di Pesanggrahan pula, ada banyak tanah lapang yang bisa dipilih jadi tempat mendirikan tenda. Disarankan bagi pendaki untuk mendirikan camp jauh dari semak dan berdekatan dengan tenda pendaki lainnya. Ini mengingat banyak gerombolan babi hutan yang kerap menyatroni tenda saat tengah malam. Tak jarang hewan dengan sebutan celeng ini nekat masuk ke tenda karena mencium bau makanan yang dibawa pendaki.

Berburu Sunrise

Kebanyakan pendaki menghabiskan malamnya di Pesanggrahan sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak berburu sunrise sebelum fajar. Nah, trek menuju puncak inilah rintangan paling berat dari Gunung Ciremai. Treknya berupa batu dengan kemiringan curam. Saat musim kemarau kesulitan bertambah dengan debu yang beterbangan di jalur ini, sangat disarankan pendaki menyiapkan masker dan kacamata digunakan saat turun.

Meski jaraknya tak sampai 2 kilometer, pendaki butuh waktu setidaknya 4 jam dari Pesanggrahan hingga ke puncak Ciremai. Sisi baiknya, pendaki bisa menikmati bunga edelweiss di ketinggian di atas 2.700 mdpl setelah melewati batas vegetasi. Pemandangan Kota Cirebon dan Kuningan di bawah jadi hiburan tersendiri saat pendaki beristirahat sejenak untuk mengatur nafas.

Nah, jika sudah mencapai padang edelweiss, tepatnya di Goa Walet, pendaki baru bisa melihat puncak Ciremai yang sebenarnya. Ciremai memang dikenal sebagai gunung dengan banyak puncak bayangan yang seringkali mengelabuhi mata pendaki. Sebelum mencapai Goa Walet, terdapat persimpangan yang mengarah ke Jalur Apuy. Ini adalah titik dimana Gunung Ciremai berbagi wilayah yakni satu sisi masuk Kabupaten Kuningan, sisi lainnya masuk Majalengka.

Pendakian Gunung Ciremai: Surga, Edelweiss, dan MistisFoto: (Muhammad Idris/detikTravel)


Dari Goa Walet hingga ke puncak, bukannya semakin mudah, trek curam makin menjadi-jadi. Ini adalah tantangan terakhir sebelum mencapai kaldera Ciremai. Bau asap belerang sudah tercium di etape ini. Yang perlu diwaspadai, di jalur ini banyak tawon di yang kerap terbang mendekati pendaki karena aroma dari tubuh. Mereka cukup galak. Jika tak hati-hati, tawon-tawon hitam bisa menyengat pendaki.

Perjalanan melelahkan hingga ke puncak bakal terbayar dengan keindahan di atasnya. Kawahnya yang masih aktif, dengan danau kering di bawahnya, serta dinding kaldera yang merah jingga diterpa sinar matahari pagi, jadi spot foto terbaik di puncak.

Pendakian Gunung Ciremai: Surga, Edelweiss, dan MistisFoto: Muhammad Idris/detikTravel

Selain itu, pemandangan yang menyejukkan mata, yakni hamparan cincin pegunungan dan kota Kuningan dan Majalengka yang bisa terlihat jelas dari atas. Sebagai gunung tertinggi di Bumi Pasundan membuat siapapun yang berada di atasnya bisa melihat dengan jelas rangkaian Gunung Cikurai, Galunggung, dan Tampomas.

Kegagahan Ciremai hanya kalah dengan tetangganya di Timur, yakni Slamet yang punya ketinggian 3.428 mpdl dan tampak jelas dari puncak Ciremai. Saat cuaca cerah, pendaki bahkan bisa menjangkau pandangannya hingga ke Kota Bandung yang dikelilingi mangkuk pegununungan di sekelilingnya.

Wisatawan Serbu Embun Beku Mirip Salju di Gunung Bromo, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]

(idr/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA