Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 12 Sep 2018 09:20 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Gerbang Upeti Zaman Kesultanan Cirebon

Sudirman Wamad
detikTravel
Lawang Sanga di Cirebon (Sudirman Wamad/detikTravel)
Lawang Sanga di Cirebon (Sudirman Wamad/detikTravel)
Cirebon - Zaman dulu, belum ada itu namanya setoran pajak online. Upeti buat raja-raja di Nusantara diantar khusus, misalnya lewat gerbang bersejarah di Cirebon.

Di sisi belakang Keraton Kasepuhan Cirebon di Cirebon, terdapat Lawang Sanga. Bangunan ini dulunya ikut andil dalam hal pengiriman upeti.

Situs Lawang Sanga atau bangunan yang memiliki sembilan pintu, berada di belakang Keraton Kasepuhan Cirebon. Ini merupakan salah satu bangunan bersejarah tentang sistem pengiriman upeti pada zaman kesultanan Cirebon.

Bangunan yang usianya ratusan tahun itu berada di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat, tepatnya di pinggir Sungai Kriyan. Dalam papan informasi di situs tersebut tercatat bahwa Lawang Sanga dibangun oleh Pangeran Wangsakerta pada era Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya tahun 1677 masehi.

Bangunan situs Lawang Sanga didominasi warga putih dan merah. Sesuai namanya, situs Lawang Sanga memiliki sembilan pintu. Satu pintu berada di depan, empat pintu berada di samping, tiga pintu berada di belakang, dan satu pintu berada di tengah.

Foto: (Sudirman Wamad/detikTravel)

Lurah Keraton Kasepuhan Cirebon Mohamad Maskun menceritakan Lawang Sanga memiliki fungsi sebagai syahbandar atau kanto pelabuhan. Ini tempat berlabuhnya perahu dan pintu masuk tamu atau utusan kerajaan-kerajaan di Nusantara pada zaman dulu.

"Jadi, waktu zaman kesultanan Cirebon dulu itu pengiriman upeti termasuk gerbang masuknya tamu melalui Lawang Sanga. Lokasinya pun di dekat sungai. Karena jalur laut itu dinilai aman waktu dulu," kata Maskun saat ditemui detikTravel di Keraton Kasepuhan Cirebon, Senin (10/9/2018).

Maskun mengaku tak tahu secara persis kapan Lawang Sanga tak difungsikan sebagai syahbandar. Menurutnya Lawang Sanga memiliki nilai filosofis yang tinggi. Jumlah pintu yang ada di Lawang Sanga, lanjut dia, menyimbolkan sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia.

"Sembilan itu maknanya jumlah lubang yang ada pada manusia, lubang hidung, mulut, telinga, mata, dubur, dan kelamin. Artinya memiliki nilai filosofis soal kehidupan. Sembilan ini dianggap sebagai angka sempurna," ucap Maskun.

BACA JUGA: Kereta Kuno Simbol Kebhinnekaan di Cirebon

Lebih lanjut, Maskun mengatakan Lawang Sanga dibanjiri peziarah pada momen tertentu, seperti Maulid dan Kliwonan. Tak hanya itu, lanjut dia, pihak keraton selalu menggelar ritual pada bulan Suro di Lawang Sanga.

"Ritual sedekah bumi pada bulan Suro. Sedekah bumi itu mendoakan para leluhur. Peziarah selalu ada," ucap Maskun.

Foto: (Sudirman Wamad/detikTravel)
(krn/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED