Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 18 Sep 2018 19:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Merasakan Bermalam di Rumah Asli Suku Pedalaman Papua Barat

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Rumah Kaki Seribu di Anggi Gida, Pegaf (Masaul/detikTravel)
Rumah Kaki Seribu di Anggi Gida, Pegaf (Masaul/detikTravel)
Pegunungan Arfak - Tak di dalam kedinginan dan jika masuk engap atau sesak nafas. Itulah gambaran awal saat traveler menginap di rumah Kaki Seribu, Pegunungan Arfak, Papua Barat.

detikTravel bersama Mapala UI mengeksplorasi Pegaf dalam rangka Ekspedisi Bumi Cendrawasih 2018. Tak lupa kami menginap di rumah asli Suku Arfak.

Rumah Kaki Seribu yang kami inapi ada di Kampung Tuabyam, Anggi Gida, Pegaf. Kampung ini masih gelap, karena belum ada ada aliran listrik dan tidak ada jaringan komunikasi di sana.

Kalaupun ada lampu di malam hari hanya berasal dari lampu baterai. Sebagian warga di Anggi Gida sudah memiliki genset dan beberapa di antaranya memiliki panel matahari sebagai sumber listriknya.

"Kita sampai hari ini belum mendapat saluran listrik. Di sini juga belum ada sinyal handphone," kata Mama Siyani (25), warga Kampung Tuabyam.

Merasakan Bermalam di Rumah Asli Suku Pedalaman Papua BaratSuasana malam di dalam rumah Kaki Seribu, menghangatkan diri di samping perapian (Masaul/detikTravel)

Menyoal rumah Kaki Seribu, adalah rumah utama bagi beberapa keluarga. Jika tak ada pendatang seperti kami, semua hewan peliharaan pun akan dimasukkan ke dalam rumah panggung itu, seperti anjing hingga babi.

Hal ini dikarenakan suhu dingin di luar rumah. Rumah kaki seribu asli masih menggunakan kulit pohon dengan kayu-kayu yang diikat menggunakan rotan.

Malam menjelang, rumah-rumah Kaki Seribu mulai mengebul mengeluarkan asap pekat dari sela-sela atapnya. Orang dari Suku Arfak membakar kayu di dalam rumah.

Merasakan Bermalam di Rumah Asli Suku Pedalaman Papua BaratTerlihat ratusan kaki penyangga di Rumah Kaki Seribu (Masaul/detikTravel)

Hal itulah yang bikin pendatang seperti kami merasakan engap. Di sisi kanan kiri rumah panggung ini dilapisi tanah agar bisa dijadikan tempat memasak atau membakar kayu sebagai penghangat.

Rumah Kaki Seribu hanya ada dua ruangan. Ruangan pertama untuk tidur dan memasak lalu ruangan kedua untuk menyimpan alat-alat masak atau biasa disebut gudang.

Bupati Pegaf Yosias Saroy menjelaskan bahwa masyarakat masih belum siap menerima tamu. Oleh karena itu para pendatang harus mengerti akan keadaan tersebut.

"Memang sistem masyarakat Pegaf untuk menyesuaikan masih memulai. Karena kita baru pemekaran. Kita butuh waktu sosialisasi untuk adaptasi," kata Yosias.

"Karakter, tindakan seperti itu, kehidupan orang asli seperti. Tutur kata tindakan melayani tamu perlu pendidikan khusus. Bagaimana mereka tahu menerima tamu baik. Melayani dengan hati lembut dan sebagainya," tutup dia. (msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED