Tradisi Perang Topat, Simbol Keberagaman Masyarakat Lombok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tradisi Perang Topat, Simbol Keberagaman Masyarakat Lombok

Harianto Nukman - detikTravel
Senin, 29 Okt 2018 07:12 WIB
Tradisi Perang Topat, Simbol Keberagaman Masyarakat Lombok
Foto: Tradisi Perang Topat di Lombok (dok. Pemkab Lombok Barat)
Lombok Barat - Pemkab Lombok Barat telah menyiapkan beberapa event untuk membangkitkan kembali kunjungan wisatawan. Salah satunya tradisi Perang Topat.

Perang Topat (ketupat) merupakan ritual tradisi unik masyarakat di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Event ini membawa misi perdamaian dalam keberagaman budaya dan kepercayaan.

"Perang Topat akan kita selenggarakan pada 21 November nanti, yang biasanya dipusatkan di Pura Lingsar," ujar Kabag Humas Lombok Barat, Saipul Akhkam, Minggu (28/10/2018).

Ritual diawali dengan upacara persembahyangan di tempat pemujaan masing-masing (Hindu dan Islam Wetu Telu). Kemudian mereka ke halaman yang dilanjutkan dengan adegan saling melempar menggunakan ketupat antara para peserta upacara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi Perang Topat, Simbol Keberagaman Masyarakat LombokFoto: Sesaji yang dibawa dalam ritual perang topat (dok. Pemkab Lombok Barat)

Kemudian, ritual ini dilakukan dengan cara saling melempar topat (ketupat) antara peserta yang satu dengan yang lainnya secara beramai-ramai. Biasanya upacara sakral ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut kalender Sasak atau jatuh sekitar bulan November dan Desember.

Perang Topat ini juga dilaksanakan setelah selesainya Pedande Mapuje, yaitu ketika roroq kembang waru atau di saat bergugurannya kembang waru sekitar pukul 17.00 Wita sore.

Selain itu, Perang Topat memiliki makna ingin menguatkan tali persaudaraan serta hubungan silaturahmi antara berbagai latar belakang, khususnya masyarakat beragama Hindu dengan masyarakat Islam. Event ini memadukan sisi religi dan budaya.
Tradisi Perang Topat, Simbol Keberagaman Masyarakat LombokFoto: Warga yang berpartisipasi (dok Pemkab Lombok Barat)

Ritual budaya Perang Topat adalah suatu upacara yang mencerminkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia yang telah diberikan dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian yang melimpah.

Masyarakat setempat meyakini bahwa upacara ini akan memberi berkah dengan turunnya hujan. Sementara masyarakat yang lain menyebutkan bahwa upacara ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang dikaruniakan oleh Yang Maha Kuasa bagi kemakmuran hidup mereka.

Secara fisik di taman Lingsar terdapat dua bangunan yang melambangkan persatuan umat Hindu dan Islam, yaitu Kemaliq dan Pura.

Perang Topat salah satu event atraksi budaya setempat. Selain itu, diharapkan dapat menjadi wujud Pemkab Lombok Barat dalam mengembalikan kejayaan pariwisata pasca dilanda bencana gempa bumi.




Tonton juga 'Tradisi Unik! Melukis di Atas Ladang Padi':

[Gambas:Video 20detik]

(wsw/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads