Akhir pekan lalu di Ciamis ada Festival Coffee Rajadesa, Art and Culture yang digelar di sekitar perkebunan kopi. Tepatnya di Bumi Perkemahan Rangga Mandala Gunung Gede, Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa, Ciamis, Jawa Barat.
Di Festival ini pengunjung bisa merasakan sensasi perpaduan antara kopi khas Ciamis, pergelaran kesenian dan budaya. Sehingga membuat festival ini terasa mengasyikan. Ditambah lokasinya merupakan salah satu lokasi wisata baru di Ciamis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Dadang Hermansyah/detikTravel) Foto: undefined |
Pengunjung yang hadir dalam festival ini bukan hanya dari warga tatar Galuh Ciamis saja, melainkan dari berbagai daerah di Jawa hingga luar pulau. Bahkan ada warga mancanegara asal California yang sengaja datang melihat festival tersebut.
Yang paling menarik perhatian pengunjung dalam festival tersebut adalah penampilan Helaran Mabokuy. Helaran ini khas dari Kecamatan Rajadesa. Mobokuy artinya Manusia Boboko Dudukuy, merupakan semacam boneka yang terbuat dari anyaman bambu dari perkakas rumah tangga, seperti kemping atau dudukuy, boboko , hihid, sosog, telebug dan sejenisnya. Di dalamnya ada orang untuk memainkannya.
"Ciamis harus punya even tahunan tersendiri yang dapat menarik pengunjung lokal maupun mancanegara, juga untuk mengenalkan potensi yang ada. Seperti di Rajadesa punya kopi khas, kesenian dan kebudayaannya. Warga Rajadesa ini sangat senang menganyam bambu, simbolnya itu ada Mabokuy," ujar panitia festival Eman Hermansyah saat ditemui detikTravel di lokasi, Sabtu (7/12/2018).
(Dadang Hermansyah/detikTravel) Foto: undefined |
Dalam festival ini banyak terlibat dari seluruh sektor, salah satunya UMKM. Sehingga dengan diadakannya festival ini secara rutin dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Eman menjelaskan, latar belakang festival ini bahwa sejak jaman dulu warga Rajadesa sudah menanam kopi. Namun saat ini banyak warga Rajadesa yang merantau ke berbagai daerah untuk menanam dan mengembangkan kopi.
"Banyak warga Rajadesa di Nusantara ini jadi petani kopi. Bisa ditemukan di Sumatera atau dimana saja, ada orang Rajadesa yang menanam kopi. Jadi karena itu perlu diadakan festival supaya dapat dikenal dan mendunia," terang Eman.
(Dadang Hermansyah/detikTravel) Foto: undefined |
Sementara itu, Camat Rajadesa Didin Saadudin mengatakan sebetulnya kopi dari Rajadesa itu merupakan kopi munding yang berumur panjang. Tapi karena teknologi pertanian yang canggih dipadukan dengan kopi robusta.
"Kopi rajadesa ternyata sudah banyak digunakan cafe di kota besar, ini harus dipertahankan," jelas Didin.
Salah seorang pengunjung festival, Cucu Nurlatifah mengaku baru pertama kali di Ciamis mendengar ada festival coffee. Karena penasaran ia sengaja datang untuk melihat festival tersebut.
"Festivalnya cukup bagus, ada proses pembuatan kopinya, bisa mencicipi kopi dan ada keseniannya. Harus sering diadakan acara seperti ini, harus ditingkatkan," pungkasnya
Tonton juga 'Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Perpaduan Tradisi dan Ekonomi Kreatif':
(sym/fay)












































(Dadang Hermansyah/detikTravel) Foto: undefined
(Dadang Hermansyah/detikTravel) Foto: undefined
(Dadang Hermansyah/detikTravel) Foto: undefined
Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam