Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 31 Mar 2019 23:00 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Gua Ini Jadi Bukti Kalau Dulu Flores Ada di Bawah Laut

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Gua Batu Cermin di Labuan Bajo (Randy/detikcom)
Gua Batu Cermin di Labuan Bajo (Randy/detikcom)
Labuan Bajo - Sebelum jadi destinasi wisata populer, dahulu sebagian Pulau Flores ada di bawah laut. Buktinya bisa kamu lihat lewat gua ini.

Di balik keindahannya, Pulau Flores menyimpan jejak sejarah dan geologi yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Bagi kamu yang ingin tahu, bisa mampir ke Gua Cermin yang ada di Labuan Bajo.

Berlokasi di Desa Waesambi, Manggarai Barat, Labuan Bajo, detikcom bersama rombongan media lain sempat menyambanginya pada hari Selasa pekan lalu (26/3/2019). Mencari tahu lebih dalam soal sejarah gua tersebut, kami pun dipandu oleh warga lokal bernama Mario Sahadoen.

Gua Batu Cermin ini berada di Desa Waesambi (Randy/detikcom)Gua Batu Cermin ini berada di Desa Waesambi (Randy/detikcom)


Dijelaskan oleh Mario yang telah bertugas sejak tahun 2008, bahwa awalnya gua tersebut diketemukan pertama kali tahun 1951 oleh misionaris Belanda bernama Theodore Verhoven. Selain menemukan gua tersebut, Theodore juga menemukan fakta unik terkait gua tersebut.

"Dulu posisi gua ini ada di bawah laut, ada gempa lalu ada beberapa yang terangkat ke atas," pungkas Theodore sambil menunjuk bebatuan di bagian luar Gua Cermin.

Setelah berkeliling melihat bagian luar, Mario pun mengajak kami masuk ke dalam gua dengan memakai senter. Jangan lupa memakai helm pengaman yang tersedia di pintu masuk gua demi keamanan kepala Anda. Soalnya, stalaktit yang ada di dalam gua akan memaksa Anda menunduk karena cukup sempit.

Mario yang menunjuk fosil kura-kura (Randy/detikcom)Mario yang menunjuk fosil kura-kura (Randy/detikcom)


Sekitar beberapa menit masuk, kami pun sampai ke dalam ruang utama yang berukuran cukup luas. Memakai senter, Mario menunjukkan fosil terumbu karang hingga penyu di sisi gua.

"Itu salah satu bukti batu karang, berpori-pori. Batu ini juga kalau dilihat mirip kura-kura," ujar Mario.

Dari ruang utama, Mario kembali mengajak kami bergeser ke sisi gua lain. Dengan menggunakan senternya, Mario menunjuk satu batuan yang disebut orang mirip sosok Maria dalam agama Katolik. Namun, yang tak kalah menarik adalah lubang yang jadi asal muasal nama gua.

"Lihat lubang di atas. Ada saat-saat tertentu di mana sinar matahari lurus dan bisa menerangi 62% gua," ujar Mario.

Dijelaskan oleh Mario, gua itu dinamakan batu cermin karena merujuk pada sinar matahari yang masuk dari lubang tersebut. Dari lubang itu sinar matahari masuk dan memantul ke seisi gua, meneranginya dari bayang-bayang kegelapan.

Lebih lanjut, keseluruhan gua itu memiliki luas 19 hektar. Terdapat juga batu unik berbentuk payung yang berlokasi di luar gua. Jika ingin masuk, traveler harus membeli tiket seharga Rp 20 ribu. Sedangkan untuk wisman harga tiketnya adalah Rp 50 ribu. (rdy/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA