Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 06 Mei 2019 19:35 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Langgar Merdeka, Masjid di Solo yang Dulunya Toko Candu

Bayu Ardi Isnanto
detikTravel
Foto: Langgar Merdeka di Solo (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Foto: Langgar Merdeka di Solo (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Jakarta - Langgar merupakan nama lain dari tempat Salat, mirip seperti Musala. Salah satu Langgar bersejarah di Solo adalah Langgar Merdeka.

Langgar Merdeka menjadi salah satu bangunan ikonik yang berada di kawasan Kampung Batik Laweyan, Solo. Selain bentuk bangunannya yang unik, tempat ibadah umat Islam itu memiliki sejarah yang menarik.

Ternyata sebelum menjadi tempat ibadah, langgar yang berada di Jalan Radjiman nomor 565 itu dahulunya dikuasai oleh orang Tionghoa. Mereka menggunakan tempat itu sebagai kios candu.

Salah satu pengusaha batik asal Laweyan, Imam Mashadi pun merasa prihatin dan membeli tempat tersebut dan merobohkannya. Kemudian dibangunlah tanah seluas 179 meter persegi itu menjadi sebuah langgar.

"Dulu mulai dibangun langgar sekitar 1937 dan selesai dibangun pada 1943," kata Ketua Yayasan Langgar Merdeka, Zulfikar Husain saat ditemui detikcom, Senin (6/5/2019).

Sedangkan penamaan Langgar Merdeka tersebut dipilih sebagai bentuk sikap masyarakat Laweyan yang tidak mau tunduk dengan siapapun. Apalagi saat itu Indonesia masih dalam penjajahan Belanda dan Jepang.

"Saat Agresi Militer Belanda II tidak boleh pakai nama Merdeka, makanya diubah jadi Langgar Al-Ichlas. Tapi setelah benar-benar merdeka, kembali dikenal Langgar Merdeka," ujar dia.

Hingga saat ini, arsitektur bangunan masih sama seperti saat awal dibangun. Pemkot Surakarta pun telah menetapkan Langgar Merdeka sebagai bangunan cagar budaya.

Di bagian luar, bangunan berwarna hijau itu tertulis dua nama, yakni Langgar Al-Ichlas dan Langgar Merdeka. Tahun pembuatannya tertulis tahun 1877 Jawa atau 1943 Masehi.

Langgar Merdeka terdiri dari dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk pertokoan dan tempat wudu. Sedangkan tempat ibadah berada di lantai dua.

Bagian dalam LanggarBagian dalam Langgar Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Tampak perabotan, tangga, pintu hingga jendela langgar itu masih menggunakan kayu. Di bagian depan saf, terdapat mihrab kecil untuk imam memimpin salat.

Zulfikar menjelaskan langgar tersebut juga memiliki menara setinggi 15 meter. Untuk naik ke atas menara, anda harus melewati 37 anak tangga yang berukuran relatif kecil.

Dia menjelaskan, dahulunya menara itu berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan azan.

"Saya masih ingat waktu kecil azan di atas menara pakai corong besar, karena memang belum ada sound system," ujar Zulfikar.

Menurutnya, Langgar Merdeka juga merupakan simbol perjuangan masyarakat. Sebab, langgar juga digunakan sebagai tempat berkumpulnya para pejuang di masa itu.

"Sekarang juga masih sering untuk berkumpul organisasi pemuda," tutupnya. (sna/sna)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED