Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 10 Mei 2019 16:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia: Kawin Lari di Lombok

Syanti Mustika
detikTravel
Arak-arakan pernikahan Suku Sasak Sade, Lombok Tengah  (Afif/detikcom)
Arak-arakan pernikahan Suku Sasak Sade, Lombok Tengah (Afif/detikcom)
Lombok Tengah - Ada beragam tradisi pernikahan di Indonesia yang menarik perhatian. Salah satunya tradisi kawin lari dari Desa Sade, Lombok Tengah. Seperti apa ya?

Indonesia tidak hanya kaya akan kecantikan alam dan lautnya saja, namun juga kaya akan tradisi budaya dari ratusan suku adat. Salah satu tradisi unik yang perlu kamu ketahui adalah kawin culik atau juga dikenal kawin lari dari Desa Sade di Lombok Tengah.

Beberapa waktu lalu detikcom datang ke Lombok dan berkunjung ke Desa Sasak Sade. Desa Sade merupakan salah satu desa tradisional tertua di Lombok yang berada di Lombok Tengah.

Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia: Kawin Lari di LombokFoto: (Afif/detikcom)


Selain bentuk rumahnya yang unik, Desa Sade punya tradisi pernikahan yang tidak biasa yaitu kawin lari. Lho, serius?

"Kami punya tradisi kawin culik (kawin lari). Kalau melamar atau tunangan itu malah melanggar adat dan jadi bahan gunjingan orang. Jika ada laki-laki dan perempuan saling suka, maka sang laki-laki akan mengajak perempuan tersebut lari," ungkap Makum, guide yang mendampingi detikcom.

Mengajak lari sini tidak sekedar kiasan lho, tapi benar-benar lari. Sang laki-laki dan peremupan akan berjanji pada malam hari untuk bertemu dan membawa perempuan kabur. Tidak jauh-jauh, bisa lari ke rumah saudara atau teman.

"Ini benar-benar lari lho. Pada saat tengah malam hari, laki-laki akan mengajak perempuan lari dari rumah, lalu menitipkan perempuan tersebut ke rumah saudara atau rumah temannya. Jadi pada saat penculikan, laki-laki dan perempuan sudah sama-sama tahu alias janjian, namun orangtua si perempuan tidak tahu," tambahnya.

Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia: Kawin Lari di LombokFoto: (Afif/detikcom)

Setelah di culik, pagi harinya utusan dari pihak laki-laki akan datang ke rumah pihak perempuan untuk mengatakan bahwa anak perempuannya tadi malam diculik dan meminta restu. Selama tiga hari berturut-turut mereka datang meminta restu. Setelah mendapatkan restu, paling lambat seminggu barulah mereka langsung menikah.

Makun pun menambahkan bahwa menikah di Desa Sade bisa dikatakan butuh modal berani dan nekat. Kenapa? Para orang tua tidak terlalu mempermasalahkan setelah menikah mau hidup seperti apa, yang penting nikah dahulu.

"Jika ingin nikah, nikah saja dahulu. Setelah itu baru dipikirkan ingin hidup seperti apa," ungkap Makum sambil tertawa.

Setelah mendapatkan restu, pihak perempuan tidak diperbolehkan bertemu dengan laki-laki hingga prosesi adat. Dan dari pihak perempuan nantinya akan diwakilkan oleh penghulunya.

"Saat ijab kabul, laki-laki tidak boleh bertemu perempuan dan keluarganya. Mereka boleh bertemu kalau sudah upacara adat. Jadi nantinya saat ijap kabul, pihak wanita diwakili oleh penghulu," jelasnya.

Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia: Kawin Lari di LombokFoto: (Afif/detikcom)

Bicara soal seserahan, Makum mengatakan seserahan yang digunakan Desa Sade adalah kain tenun sebanyak 25 helai. Bisa juga dalam bentuk uang, namun pada umumnya menggunakan kain tenun.

"Seserahan di sini berupa kain tenun sebanyak 25 lembar. Bisa juga dalam bentuk uang, terserah jumlahnya yang penting mencukupi atau setara dengan harga 25 lembar kain tenun," kata Makum.

Setelah upacara adat, nanti pengantin laki-laki akan di arah ke rumah perempuan seperti raja. Nanti arak-arakan juga diiringi musik.

"Nanti pengantin pria akan di arak ke rumah perempuan diiringi musik-musik. Ini merupakan rangkaian dari resepsi. Jadi pernikahan di Desa Sade di awali icap kabul dan dilanjutkan dengan prosesi adat," tambahnya.

Karena di Desa Sade warganya masih terikat 1 garis keturunan, maka pernikahan sering kali terjadi antar kerabat atau keluarga. Mereka bisa menikah dengan saudara atau sepupu mereka. Dan ini lumrah bahkan menjadi 'keharusan'.

"Karena di sini masih satu garis keturunan, jadi bisa dikatakan kami menikah dengan saudara atau sepupu. Gunanya untuk mempertahankan tali kekeluargaan supaya makin erat," kata Makum.


(sym/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED