Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 19 Mei 2019 21:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Satu Lagi Hutan Pinus Instagramable di Bantul

Pradito Rida Pertana
detikTravel
Pinus Pengger Bantul (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Pinus Pengger Bantul (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul - Bantul punya satu hutan pinus yang Instagramable. Namanya Pinus Pengger. Traveler bisa foto-foto narsis di sini buat dipamerkan di Instagram.

Selain terkenal dengan kebun buah Mangunan, Kecamatan Dlingo memiliki sejumlah tempat wisata yang layak dikunjungi. Salah satunya Pinus Pengger. Tak hanya menawarkan pemandangan alam dari ketinggian, Pinus Pengger juga memiliki banyak spot foto yang Instagramable.

Untuk mencapai tempat wisata yang berlokasi di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini, pengunjung hanya perlu melakukan perjalanan darat sejauh 23 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta ke Desa Mangunan, Dlingo.

Sesampainya di Mangunan, pengunjung hanya perlu mengikuti petunjuk arah ke kawasan hutan pinus. Pinus Pengger sendiri berlokasi tidak jauh dari puncak Becici.

Sesampainya di Pinus Pengger, detikcom langsung disambut ratusan pohon pinus yang memenuhi tempat wisata Pinus Pengger. Selain itu, banyaknya pohon pinus membuat suasana si Pinus Pengger begitu asri dan teduh.

Menyusuri jalan setapak (Pradito/detikcom)Menyusuri jalan setapak (Pradito/detikcom)

Menelusuri jalan setapak di dalam Pinus Pengger, tampak sebuah replika telapak tangan manusia berukuran besar berada di antara perbukitan pinus. Melongok lebih jauh, replika tersebut ternyata diperuntukkan untuk spot foto.

Hal itu tampak dari beberapa pengunjung yang berpose ria di tengah-tengah replika telapak tangan tersebut. Bahkan, karena berlatar belakang pemandangan Kota Yogyakarta dari ketinggian membuat beberapa pengunjung harus mengantri untuk berswafoto di replika tersebut.

Selain replika telapak tangan manusia dari ranting, ternyata terdapat pula replika tangan manusia tengah mengacungkan jempol di Pinus Pengger. Bahkan, khusus di spot foto tersebut disediakan tangga agar pengunjung dapat berada di atas replika tangan saat berswafoto.

Tak hanya bentuk tangan manusia saja, Pinus Pengger ternyata memiliki beberapa spot foto lain berbentuk pohon dan lorong. Di mana sebagian spot foto itu terbuat dari ranting pohon.

Spot foto di Pinus Pengger (Pradito/detikcom)Spot foto di Pinus Pengger (Pradito/detikcom)

Salah satu operator tempat wisata Pinus Pengger, Sumar (37) menjelaskan bahwa tempat wisata yang berada di tengah hutan pinus ini masih terbilang baru. Mengingat Pinus Pengger baru dibuka sejak bulan April tahun 2016.

"Pinus Pengger ini memang masih terbilang baru dibanding tempat wisata lain di hutan Pinus Dlingo. Selain menawarkan pemandangan alam, di sini (Pinus Pengger) ada 7 spot foto dengan beragam bentuk telapak tangan, jempol, jembatan setengah lingkaran," katanya saat ditemui di Pinus Pengger, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Sabtu (18/5/2019).

"Dan semua spot foto menghadap ke barat, karena biar berlatar belakang pemandangan Yogyakarta dari ketinggian," sambung Sumar.

Warga Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul ini melanjutkan, bahwa Pinus Pengger memang mengedepankan konsep spot foto yang terbuat dari ranting pohon lantana camara. Menurut Sumar, ada alasan khusus mengapa ranting dipilih sebagai bahan baku untuk membuat spot foto dengan beragam bentuk.

"Karena pas awal buka dulu banyak sekali ranting (lantana camara) di sini, terus pas bersih-bersih bingung mau dibuang kemana rantingnya. Nhah, saat itu muncul ide, daripada dibuang mending rantingnya dimanfaatkan untuk membuat spot foto tadi dan ternyata hasilnya bagus," ujarnya.

Spot foto jempol raksasa (Pradito/detikcom)Spot foto jempol raksasa (Pradito/detikcom)

"Untuk pembuatannya sendiri dengan teknik menganyam, jadi ranting-ranting itu dianyam sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kalau waktu pengerjaan ya sesuai dengan tingkat kesulitan bentuk," imbuh Sumar.

Bahkan, karena menjadi magnet tersendiri bagi Pinus Pengger, saat ini pengelola membuat spot foto di Pinus Pengger. Spot itu berupa replika tangan yang sedang mengacungkan jempol.

"Itu yang gambar (tangan mengacungkan) jempol itu baru seminggu dibuka untuk umum. Bedanya dengan spot yang lain, untuk spot foto gambar jempol ini dipasang tangga agar wisatawan bisa foto di antara replika jempol," ucapnya.

BACA JUGA: Hutan Pinus yang Indah Ini Bukan di Pulau Jawa

Dilanjutkan Ketua Koperasi Notowono atau pengelola objek wisata di Desa Terong, Muntuk dan Mangunan Kecamatan Dlingo, Bantul, Purwo Harsono, bahwa pemilihan nama Pinus Pengger sendiri bukan tanpa alasan. Menurutnya, pemilihan nama Pengger menyesuaikan kondisi alam di hutan pinus Dlingo.

"Kenapa pengger? Karena pengger itu artinya punggung gunung dan karena di punggung gunung ada hutan pinus maka namanya Pinus Pengger," ujarnya.

Ada juga spot foto lainnya (Pradito/detikcom)Ada juga spot foto lainnya (Pradito/detikcom)

Terkait pemilihan bentuk tangan mengacungkan jempol sebagai spot foto baru di Pinus Pengger, pria yang kerap disapa Ipung ini mengatakan bahwa hal itu karena sebelumnya telah dibangun spot foto telapak tangan. Terlebih replika telapak tangan yang dinamai pancawara itu berada di samping spot foto berbentuk tangan sedang mengacungkan jempol.

"Itu yang gambar (tangan mengacungkan) jempol itu baru seminggu dibuka untuk umum. Bedanya dengan spot yang lain, untuk spot foto gambar jempol ini dipasang tangga agar wisatawan bisa foto di antara replika jempol," ucapnya.

Dilanjutkan Ketua Koperasi Notowono atau pengelola objek wisata di Desa Terong, Muntuk dan Mangunan Kecamatan Dlingo, Bantul, Purwo Harsono, bahwa pemilihan nama Pinus Pengger sendiri bukan tanpa alasan. Menurutnya, pemilihan nama Pengger menyesuaikan kondisi alam di hutan pinus Dlingo.

"Kenapa pengger? Karena pengger itu artinya punggung gunung dan karena di punggung gunung ada hutan pinus maka namanya Pinus Pengger," ujarnya.

Terkait pemilihan bentuk tangan mengacungkan jempol sebagai spot foto baru di Pinus Pengger, pria yang kerap disapa Ipung ini mengatakan bahwa hal itu karena sebelumnya telah dibangun spot foto telapak tangan. Terlebih replika telapak tangan yang dinamai pancawara itu berada di samping spot foto berbentuk tangan sedang mengacungkan jempol.

"Ya karena sudah ada yang berbentuk tangan jadi dilanjutkan dengan yang berbentuk ibu jari. Kalau makna sederhananya, ibu jari diibaratkan dengan ibu pertiwi," katanya.

Spot foto hammock (Pradito/detikcom)Spot foto hammock (Pradito/detikcom)

Sumar kembali menjelaskan, spot foto di Pinus Pengger sejatinya diperuntukkan untuk wisata malam hari. Mengingat semua spot foto menghadap ke arah barat, yakni menghadap langsung ke Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Apalagi, nyala lampu yang tampak dari ketinggian membuat pemandangan dari tiap spot foto sangat memanjakan mata.

"Pinus Pengger ini buka dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam, dan steril dari pengunjung jam 12 malam. Sampai malam karena memang aslinya untuk wisata malam dan kalau foto-foto pas malam hari pemandangannya sangat bagus," katanya.

Untuk biaya masuk ke Pinus Pengger sendiri terbilang sangat terjangkau, mengingat satu orang hanya dikenakan tarif Rp 3 ribu, tarif tersebut sudah meliputi biaya asuransi Rp 500. Sedangkan untuk biaya parkir motor Rp 2 ribu, mobil Rp 5 ribu, mobil travel Rp 15 ribu dan untuk bus besar Rp 20 ribu.

"Tarif itu berlaku untuk semua wisatawan, jadi tidak ada perbedaan tarif untuk turis dan wisawatan lokal," pungkasnya. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED