Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 12 Agu 2019 16:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Mumi Papua yang Belum Banyak Orang Tahu

Afif Farhan
detikTravel
Mumi Papua (Hari Suroto/Balai Arkeologi Papua/Istimewa)
Mumi Papua (Hari Suroto/Balai Arkeologi Papua/Istimewa)
Jakarta - Mungkin belum banyak orang yang tahu, Papua punya Mumi. Warisan dari leluhur ini menjadi salah satu bukti betapa kayanya budaya Papua.

"Ada 5 suku di Papua yang punya tradisi kematian berupa jenazah dijadikan mumi yaitu suku Mek di Pegunungan Bintang, suku Dani di Lembah Baliem, suku Moni di Intan Jaya, suku Yali di Kurima dan suku Mee di Dogiyai," kata peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada detikcom, Senin (13/8/2019).

Hari menjelaskan, jenazah yang dijadikan mumi bukanlah jenazah orang sembarangan. Biasanya, merupakan jenazah seseorang yang dinilai berjasa bagi sukunya, baik itu merupakan kepala suku, panglima perang atau orang yang sangat dihormati.

"Ada tahapan-tahapan dalam mempersiapkan dan menangani mumi, yaitu menunjuk anggota suku yang bertugas mengerjakan proses pemumian, menyiapkan kayu bakar, dan menyiapkan honai sebagai tempat pelaksanaan pemumian," terangnya.

Mumi Suku Dani di Lembah Baliem, Wamena (Afif Farhan/detikcom)Mumi Suku Dani di Lembah Baliem, Wamena (Afif Farhan/detikcom)


Dalam proses pengerjaan mumi, terlebih dahulu mayatnya diasap dengan kayu bakar. Sebelum pengasapan dilakukan, dipersiapkan babi yang baru lahir sebagai tanda waktu.

Waktu pengasapan berlangsung adalah sejak babi lahir sampai babi tersebut mempunyai taring yang panjang. Setelah selesai pengasapan, kemudian dilakukan upacara-upacara untuk memandikan para petugas, pelepasan mumi dengan memotong babi yang digunakan sebagai tanda waktu dan mengalungkan ekor babi yang dipotong tersebut ke leher mumi. Setelah semua proses pengerjaan mumi selesai, maka diakhiri dengan pesta bakar batu.

Mumi di Wamena (Hari Suroto/Balai Arkeologi Papua/Istimewa)Mumi di Wamena (Hari Suroto/Balai Arkeologi Papua/Istimewa)


Menariknya, ada satu proses lain dalam pemumian di Papua. Suku Mek, menaruh jenazah di atas pohon selama satu tahun sehingga menjadi mumi secara alami.

"Cuaca yang dingin di atas pohon menjadikan jenazah terawetkan secara alami. Baru setelah itu, diturunkan dan ditaruh di dalam gua," terang Hari.

Jadi ada dua metode pemumian di Papua, yakni diasapi dan ditaruh di atas pohon. Kemudian, muminya ada yang ditaruh di dalam honai (rumah tradisional Papua) dan ada di dalam gua.

"Kalau dilihat, mumi-mumi di Papua itu posisinya duduk. Alasannya dalam konsep prasejarah, penguburan dalam posisi duduk ibarat bayi dalam kandungan," terang Hari.

Melihat mumi Papua lebih dekat (Hari Suroto/Istimewa)Melihat mumi Papua lebih dekat (Hari Suroto/Istimewa)


Pada umumnya, yang dijadikan mumi adalah seorang laki-laki. Namun, ada juga mumi perempuan di Papua yang rupanya tidak sengaja terbentuk karena cuaca dingin dan ditemukan di dalam gua.

"Mumi perempuan hanya satu, yaitu mumi Yamen Silok di Kurima," terang Hari.

BACA JUGA: Coca-Cola Vs Sake di Papua

Sejauh ini, sudah terdata 6 mumi di Papua yaitu 4 di suku Dani, 1 di suku Yali dan 1 di suku Moni. Tiap suku, memiliki masing-masing nama sebutan untuk muminya. Misal di suku Dani di Wamena, mumi-mumi di sana disebut mumi Kurulu, mumi Pumo, mumi Araboda dan mumi Jiwika.

Mumi Kurulu di Wamena (Johanes Randy/detikcom)Mumi Kurulu di Wamena (Johanes Randy/detikcom)


Mumi pada suku Dani di Wamena pun paling sering dikunjungi wisatawan. Apalagi saat pagelaran Festival Lembah Baliem, ada banyak operator tur yang menawarkan paket perjalanan untuk melihat mumi.

Yang mesti kamu tahu, wisatawan yang mau melihat mumi biasanya dikenai biaya Rp 50-100 ribu. Biaya tersebut, nantinya akan digunakan oleh masyarakat setempat.

BACA JUGA: Tahukah Kamu Arti Nama Papua?

Menurut Hari, mumu-mumi pada suku Dani sudah dikonservasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya bersama Balai Arkeologi Papua pada tahun 2017 silam. Sayangnya, masih banyak juga mumi yang belum dijaga dengan baik.

"Wisatawan harus diedukasi untuk tidak memegang mumi, cukup berfoto. Selain itu, maysarakat belum mengenal atau belum tahu bagaiamana cara menjaga mumi," tutur Hari.

Contohnya, mumi harus ditempatkan di tempat yang kering, dijaga dari gangguan serangga dan tikus maupun binatang peliharaan seperti anjing. Mumi yang diletakan di dalam honai juga harus dijaga dengan baik, supaya tidak rusak jika honainya terbakar.

Secara tradisional, masyarakat yang merawat mumi hanya dengan cara diasapi dan dilumuri lemak babi. Mereka tidak pernah diberi pelatihan perawatan mumi. Hingga saat ini belum ada juru pelihara yang ditunjuk oleh instansi resmi pemerintah untuk menjaga dan merawat mumi.

Wisatawan yang berfoto dengan mumi di Wamena (Afif Farhan/detikcom)Wisatawan yang berfoto dengan mumi di Wamena (Afif Farhan/detikcom)


Lebih dari itu, mumi di Papua yang diperkirakan usianya 300-an tahun nyatanya menjadi misteri. Hari mengungkapkan, masih banyak mumi yang belum terdata!

"Berdasarkan informasi, ada 3 mumi lagi di suku Mee tetapi keluarga atau pemilik merahasiakannya. Alias, orang luar tidak boleh lihat," terangnya.

"Ada juga yang tersebar di hutan-hutan pedalaman yang sulit diakses," tutup Hari. (aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED