Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 31 Agu 2019 22:55 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Rowo Bayu yang Dikaitkan Kisah Horor KKN Desa Penari

Ardian Fanani
detikTravel
Foto: (Ardian Fanani/detikTravel)
Foto: (Ardian Fanani/detikTravel)
Banyuwangi - Nama Rowo Bayu mencuat karena dikaitkan dengan kisah horor KKN di Desa Penari. Mari mengenal Rowo Bayu lebih dekat.

Rowo Bayu masih sangat asri untuk destinasi wisata. Gemericik air dan rerimbunan hijaunya pohon yang rindang menambah kesejukan dan keasrian, cocok untuk meditasi dan menyepi dari hingar bingar perkotaan.

Selain rawa yang seluas lapangan sepak bola, Rowo Bayu memiliki beberapa sumber mata air. Di antaranya Sumber Taman Kaputran, sumber taman Dewi Gangga, Sumber Kamulyaan dan Sumber Panguripan/ Rahayu. Sumber Kaputran dan Dewi Gangga berada di sebelah Barat Petilasan Prabu Tawang Alun. Sementara untuk Sumber Kamulyaan dan Sumber Panguripan/ Rahayu berada di belakang dari petilasan tersebut.

Untuk mencapai sumber-sumber mata air itu, pengunjung harus melewati pinggiran rawa yang luas tersebut.

Mengenal Rowo Bayu yang Dikaitkan Kisah Horor KKN Desa PenariFoto: (Ardian Fanani/detikTravel)


Sumber ini dipercaya memiliki khasiat bagi orang meminumnya atau sekedar membasuh wajah ataupun bagian badan.

"Sumber Kaputran itu untuk mereka yang menginginkan penerus yang baik. Sumber Dewi Gangga ini untuk para wanita. Mereka percaya untuk kecantikan," ujar Mbah Saji, juru kunci Rowo Bayu kepada detikcom, Sabtu (31/8/2019).

(Ardian Fanani/detikcom)(Ardian Fanani/detikcom)


Sementara sumber Kamulyaan dan Sumber Panguripan, kata Mbah Saji selalu ramai dikunjungi oleh pejabat dan masyarakat yang ingin kemuliaan dan memperbaiki kehidupan.

"Kamulyaan itu artinya kemuliaan sementara panguripan itu artinya kehidupan yang lebih layak. Lokasinya berada di belakang petilasan. Banyak pejabat yang datang ke sini. Maaf tidak bisa saya sebutkan nama. Tapi tidak hanya Banyuwangi dari Jakarta, Surabaya bahkan Kalimantan dan Sumatera juga pernah ada. Apalagi pas pemilu kemarin, ramai di sini," tambahnya.

Selain sumber mata air, terdapat pula situs Arca milik dari Resi Sumilir. Arca itu berada di atas bukit sebelah utara petilasan diapit oleh dua pohon besar. Sementara di sisi selatan terdapat Candi Puncak Macan Putih dan Pura Giri Mulya. Sementara di bagian Selatan petilasan terdapat batu besar yang dikramatkan. Batu tersebut dijuluki Batu Agung Raka Putri. Batu ini hampir mirip dengan kepala garuda.

Sementara untuk petilasan Prabu Tawang Alun, kata Mbah Saji, berada tepat sebelah Utara. Lokasi ini sangat strategis karena berada di atas rawa.

Petilasan ini diberi cungkup dan gapura berornamen Bali. Di dalamnya, terdapat batu bunda berukuran diameter 45 sentimeter. Ada dua payung yang diletakkan menutupi batu tersebut.

(Ardian Fanani/detikcom)(Ardian Fanani/detikcom)


BACA JUGA: Ini Kisah Asli Rowo Bayu yang Diduga Terkait KKN Desa Penari

detikcom diberi kesempatan memasuki petilasan Prabu Tawang Alun. Namun sebelum mengabadikan gambar, Mbah Saji mengajak detikcom untuk berdoa untuk pamit.

"Etika untuk memasuki petilasan ini ya harus pamit. Biasanya untuk ritual ya masuk disini berdoa kepada Tuhan dan leluhur di sini, kemudian mandi. Makanya sebelum mengambil gambar hendaknya kita berdoa agar tidak ada apa-apa," tambahnya.

Beberapa pengunjung, kata Mbah Saji, biasanya membawa bunga dan dupa untuk sesaji mengiringi doa. "Tidak ada bunga pun tidak apa-apa. Yang penting niat untuk berdoa kepada Tuhan dan tidak kepada setan atau jin," tambahnya.

(Ardian Fanani/detikcom)(Ardian Fanani/detikcom)


Menurut Mbah Saji, petilasan ini adalah jejak terakhir Prabu Tawang Alun berapa sebelum muksa (menghilang).

Diceritakan, Prabu Tawang Alun saat menggantikan ayahnya Mas Kembar atau Mas Tanpouno (Pangeran Kedawung) tahun 1659 sebagai raja Blambangan. Kekuasaannya meliputi Jember Lumajang Bondowoso dan Panarukan. Namun saudaranya yang lain iri. Keamanan dan kedamaian kerajaannya, Prabu Tawang Alun rela menyerahkan tahtanya.

"Situs ini diyakini sebagai pertapaan Prabu Tawang Alun, setelah menyerahkan tahta pada adiknya Mas Wilabrata," pungkasnya.

Hingga saat ini petilasan tersebut masih banyak dikunjungi peziarah. Mereka percaya jika berdoa di petilasan tersebut bisa mengabulkan permintaan para peziarah.



Simak Video "Viral di Media Sosial, 'KKN Desa Penari' Bakal Jadi Novel"
[Gambas:Video 20detik]
(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA