Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 01 Sep 2019 20:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Rowo Bayu, Desa Penari dan Festival Hari Jadi Banyuwangi

Ardian Fanani
detikTravel
Rowo Bayu (Ardian Fanani/detikTravel)
Rowo Bayu (Ardian Fanani/detikTravel)
Banyuwangi - Banyuwangi makin populer karena adanya cerita KKN di Desa Penari. Dikaitkan dengan Rowo Bayu, tempat ini selalu adakan festival saat hari jadi Banyuwangi.

Hari Jadi Banyuwangi tanggal 18 Desember selalu perayaannya dipusatkan di Desa Bayu Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Selama kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kegiatan ini dirangkum menjadi Festival Rowo Bayu. Berbagai kegiatan perayaan hingga ritual khusus juga dilakukan diajang yang sudah digelar kali kedua ini.

Acara tersebut diawali dengan malam renungan berisi doa bersama dan tasyakuran hingga renungan suci di kawasan Rowo Bayu, Kecamatan Songgon. Pemilihan Rowo Bayu sebagai tempat perenungan bukan tanpa alasan.

Di tempat tersebut, pada rentang waktu 1771-1772 menjadi saksi bisu kegigihan rakyat Blambangan mempertahankan tanah airnya dari gempuran penjajah. Dari rangkaian perjuangan itulah, lantas menjadi momentum lahirnya Kabupaten Banyuwangi.

Rowo Bayu, Desa Penari dan Festival Hari Jadi BanyuwangiFoto: (Ardian Fanani/detikTravel)




Tak hanya doa bersama dan tasyakuran, tabah Dani, dalam festival ini juga digelar Napak tilas . Mereka menyusuri rute sepanjang 10 Km yang menjadi jalur perang Puputan Bayu. Dimulai dari Desa Parangharjo menuju hutan Rowo Bayu yang diyakini menjadi lokasi perang besar tersebut.

Warga Songgon pun menyambut antusias tradisi ini. Sepanjang rute yang dilalui peserta, warga dengan sukarela menyiapkan makanan dan minuman ringan yang bisa dinikmati secara gratis oleh para peserta napak tilas. Makanan tradisional seperti ubi, talas, jagung dan kacang rebus hingga bubur ketan hitam.

Berbagai atraksi juga mereka tampilkan untuk menyemangati para peserta. Mulai dari permainan musik tradisional Banyuwangi berupa rebana yang dibawakan beramai-ramai hingga lantunan lagu-lagu Using hingga atraksi Barong Kumbo.

Rowo Bayu, Desa Penari dan Festival Hari Jadi BanyuwangiFoto: (Ardian Fanani/detikTravel)


"Festival ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Sejak ditemukan tanggal hari jadi Banyuwangi. Dulu hanya ada renungan suci dan napak tilas. Tapi setelah dikemas lagi menjadi beberapa agenda," ujar Dani Wahyudi, tokoh masyarakat Songgon kepada detikcom, Minggu (1/9/2019).

Selain itu, dalam Festival Rowo Bayu juga digelar kirab pusaka. Kirab ini digelar setelah napak tilas. Kirab pusaka perang dan kirab tumpeng hasil bumi juga menempuh 3 kilometer dan finish di petilasan Prabu Tawangalun, yang berada di wana wisata Rowo Bayu.

"Pusaka yang kita kirab berjumlah ratusan. Mulai dari keris, tombak. Ini semua warisan leluhur yang digunakan saat perang bayu. Kita bersihkan dan kita masukkan lagi ke kotak senjata," tambah Dani.

Rowo Bayu, Desa Penari dan Festival Hari Jadi BanyuwangiFoto: (Ardian Fanani/detikTravel)


Dipenghujung acara kirab pusaka perang, warga yang ikut dalam rombongan kemudian menggelar tabur dawet kolam Rowo Bayu. Ini sebagai bentuk syukur dan pengharapan warga tentang kesuburan. Mereka percaya kegiatan ini dapat memberikan kesuburan lahan pertanian di sekitar Rowo Bayu.

"Apa yang kami lakukan sebagai bentuk kepercayaan kami tentang bagaimana melestarikan alam dan menjaga alam," pungkasnya.

Simak Video "Rowo Bayu, Destinasi Wisata yang Katanya Mirip Desa Penari"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA