Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 30 Sep 2019 19:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Pulau Tidung yang Berasal dari Raja Kalimantan

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Makam Raja Pandita di Pulau Tidung (Randy/detikcom)
Makam Raja Pandita di Pulau Tidung (Randy/detikcom)

FOKUS BERITA

Wisata Pulau Seribu
Kepulauan Seribu - Traveler tentu mengenal nama Pulau Tidung di Kepulauan Seribu atau Pulau Seribu. Konon, nama tersebut berasal dari Raja Kalimantan.

Nama Pulau Tidung di Kepulauan Seribu atau Pulau Seribu identik dengan Jembatan Cinta sekaligus tempat wisata favorit wisatawan di Utara Jakarta. Hanya di balik keindahannya, Pulau Tidung menyimpan sejarah terkait identitas namanya yang belum banyak orang tahu.




Untuk mengetahuinya, detikcom pun berkunjung ke Makam Raja Pandita (Muhammad Kaca) atau yang disebut Nek Kaca oleh masyarakat setempat di Pulau Tidung Besar pekan lalu. Dari sana, terkuak soal penamaan Pulau Tidung.

Mundur sedikit ke belakang di zaman Belanda, dahulu Pulau Tidung memiliki nama asli Pulau Air Besar. Sebelum jadi tempat wisata seperti sekarang, dulu pulau tersebut merupakan pulau pengasingan para pembangkang penjajah Belanda.

Makam sang Raja Tidung (Randy/detikcom)Peristirahatan sang Raja Tidung (Randy/detikcom)

Di antara para pembangkang tersebut, terseliplah seorang yang ternyata merupakan Raja Tidung yang diasingkan dari Kerajaan Tidung di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Identitasnya pun belum lama terkuak oleh masyarakatnya.

Hal itu pun dijelaskan oleh sang juru kunci makam yang bernama Moh Napsir Abdul Murad saat ditemui detikcom di lokasi. Dirinya mengaku sebagai keturunan keempat dari sang Raja tanpa mahkota tersebut.

"Belum lama, baru tiga tahun. Dulu makamnya gak terawat, ditemukan sama orang Malinau lalu dipindahkan ke sini," ujar Napsir.

Moh Napsir, sang juru kunci makam (Randy/detikcom)Moh Napsir, sang juru kunci makam (Randy/detikcom)
Raja Pandita memang dikenal sebagai seorang raja yang sangat menentang kaum penjajah yaitu kolonial Belanda. Karena sangat menentang penjajah dan tidak mau diajak bekerjasama, maka Raja Pandita kemudian dibuang Ke Banjarmasin lalu Jepara kemudian ke Batavia dan akhirnya ke Pulau Tidung pada tahun 1892.

Naas, Raja Pandita keburu meninggal di Pulau Tidung tahun 1898 jauh dari tanah kelahirannya. Kisah keterkaitan antara Raja Pandita dari Kerajaan Tidung dengan Pulau Tidung tersimpan tanpa diketahui oleh masyarakat, sampai pada tahun 2011.

Berkat perkembangan wisata Pulau Tidung dan kemajuan teknologi informasi, nama Pulau Tidung terdengar hingga ke tengah kalangan warga Malinau, keturunan suku Tidung dari Kalimantan Timur. Mereka penasaran saat mengetahui ada sebuah pulau bernama Tidung di Kepulauan Seribu.

Makam Raja Pandita (kiri), istri (tengah) dan anaknya (kanan) (Randy/detikcom)Makam Raja Pandita (kiri), istri (tengah) dan anaknya (kanan) (Randy/detikcom)
Setelah diadakan penelitian mendalam dan beberapa kali kunjungan ke Pulau Tidung oleh perwakilan masyarakat Malinau keturunan suku Tidung Kalimantan akhirnya terungkaplah kisah yang sangat menarik ini.

Buktinya antara lain ditemukannya lokasi makam Raja Pandita, raja Suku Tidung Kalimantan yang ditangkap Belanda pada akhir abad 19 dan baru diketahui keberadaanya setelah lebih dari satu abad.

Dengan terungkapnya kisah ini masyarakat mulai mengetahui bahwa asal usul nama Pulau Tidung berhubungan erat dengan keberadaan Radja Pandita dari Suku Tidung, Kalimantan Timur di Pulau Tidung Kepulauan Seribu Jakarta.

Piagam pengakuan oleh kedua Bupati (Randy/detikcom)Piagam pengakuan oleh kedua Bupati (Randy/detikcom)
Pada tahun yang sama yaitu tahun 2011 dilakukan acara pemindahan makam Raja Pandita menggunakan adat kebesaran dan tradisi suku/kerajaan Tidung.

"Dari situ orang-orang baru tahu, kalau ternyata Nek Kaca merupakan Raja Tidung yang diasingkan. Dari situ nama Tidung berasal," ujar Napsir.




Dilanjutkan olehnya, tak sedikit peziarah dari luar kota datang ke Makam Raja Pandita untuk berziarah. Napsir pun sangat terbuka pada wisatawan yang ingin melihat makam sang Raja Tersebut.

"Banyak, dari Banjarmasin, Aceh sampai Palembang datang," ujar Napsir.

Itulah cerita menarik di balik penamaan Pulau Tidung. Liburan ke Pulau Tidung, tak ada salahnya mampir ke Makam Raja Pandita untuk sekedar napak tilas dan mengetahui cerita di balik Pulau Tidung.

Simak Video "Pesona Pulau Sabira di Ujung Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/krs)

FOKUS BERITA

Wisata Pulau Seribu
BERITA TERKAIT
BACA JUGA