Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 11 Nov 2019 14:35 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Geliat Oleh-oleh Perbatasan RI, Hasilnya Bikin Kagum

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Pembuat kerupuk udang dan ikan di Pulau Buru, Karimun (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Pembuat kerupuk udang dan ikan di Pulau Buru, Karimun (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Pulau Buru - Oleh-oleh adalah hal yang tak boleh dilupakan saat traveler sedang plesiran, apalagi dari daerah perbatasan. Inilah cerita pembuat oleh-oleh dari Pulau Buru, Kabupaten Karimun.

Hidup di perbatasan Indonesia tidak sesulit yang dibayangkan. Anggapan perbatasan yang jauh tertinggal dari segi apapun kini terpatahkan setelah Pemerintah memprioritaskan pembangunan dimulai dari wilayah perbatasan atau terluar.




Kini wilayah perbatasan Indonesia seperti di Karimunbesar, Kabupaten Tanjung Balai Karimun (TBK), Provinsi Kepri sudah memiliki infrastruktur ketenagalistrikan yang menjadi pondasi dasar perekonomian. TBK sendiri berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.

Hal itu tentu dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Buru, Kabupaten TBK. Seperti Suryati, wanita berusia 43 tahun ini kini berhasil menyekolahkan dua anak perempuannya hingga jenjang S1 di universitas ternama.

Suryati berhasil memanfaatkan listrik PLN untuk menambah pundi-pundi keuntungannya dari berjualan kerupuk khas TBK, yaitu kerupuk udang dan ikan.

Geliat Oleh-oleh Perbatasan RI, Hasilnya Bikin KagumFoto: Rengga Sancaya/detikcom

"Saya sejak 2012 usaha kerupuk udang dan ikan," kata Suryati saat berbincang kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Usaha pembuatan kerupuk ini, kata Suryati sangat bergantung dengan listrik terutama pada saat proses pendinginan bahan baku setelah dikukus.




Sejak 2012, Suryati mengaku di tempat tinggalnya listrik hanya menyala selama 12 jam mulai dari sore hari hingga pertengahan malam sehingga waktu produksi sangat terbatas. Sejak 2014, wilayah tinggalnya kini sudah menikmati listrik selama 24 jam dan bisa memproduksi kerupuk udang dan ikan kapan saja.

"Kalau dulu kalau api (listrik) nyala mana cukup, kalau sekarang 24 jam dapat pengaruh besar karena bisa kerjakan kapan saja. Kalau dulu (kerupuk) kerasnya nunggu dua hari karena lampu nyalanya terbatas," jelas dia.

Geliat Oleh-oleh Perbatasan RI, Hasilnya Bikin KagumFoto: Rengga Sancaya/detikcom

Dia menceritakan, pasokan listrik PLN yang sudah melayani selama 24 jam nonstop memberikan dampak besar terhadap bisnisnya. Dia mengaku mampu mengumpulkan keuntungan sebesar Rp 2 juta setiap bulannya hanya dari usaha kerupuknya. Dirinya juga memiliki usaha lain seperti warung jajanan.

"Omzet bersih Rp 2 juta per bulan. Saya usaha tidak kerupuk saja, dagang udang, warung kecil-kecilan, bikin tekur asin tapi sudah berhenti," jelasnya.




Kerupuk hasil produksinya kini dijual ke beberapa wilayah di Kepri seperti TBK, Pulau Buru, Tanjung Batu, dan sesekali mendapat pesanan dari Singapura.

Dengan listrik yang menyala selama 24 jam nonstop, Suryati mengaku kini bisa menyekolahkan kedua putrinya hingga bangku kuliah. Anak pertamanya kini sudah menjadi sarjana hukum dan satunya masih kuliah mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan di UMRAH, Tanjung Pinang, Kepri.

"Dua anak saya kuliah, satu sudah lulus dan satu belum, satu ambil Ilmu Pemerintahan jurusan administrasi negara dan hukum. Dua duanya di UMRAH Tanjung Pinang," ungkapnya.

Geliat Oleh-oleh Perbatasan RI, Hasilnya Bikin KagumFoto: Rengga Sancaya/detikcom

Pulau Buru berjarak kurang 30-40 menit perjalanan menggunakan kapal motor dari pusat Kota Tanjung Balai Karimun. Pada tahun 2014 hingga 2016, nyala listrik di sana masih 14 jam, dinyalakan dari pukul 17.00 hingga 07.00.

Warga maupun sekolah yang ingin mengakses internet atau belajar di siang hari dengan praktikum yang membutuhkan sarana listrik harus menghidupkan gensetnya masing-masing. Sejak adanya program 35 MW Presiden Jokowi, di Pulau Buru ini mendapat tambahan mesin diesel dengan kapasitas 500 KWatt.

"Ada 2 unit, di situ kita bisa menaikkan jam nyalanya. Dampaknya apa? Kebutuhan untuk belajar di sekolah-sekolah itu tadinya harus menghidupkan gensetnya masing-masing listrik, maka tinggal nambah daya listriknya. 2018-2019 ini banyak sekolah yang sudah menambah fasilitas praktikumnya," kata Manager ULP PLN Tanjung Balai Karimun Chrisman Ariando S.




Meskipun pulaunya sangat kecil, kebutuhan sarana pendidikannya tidak kalah dengan yang ada di pulau besar. Harapannya listrik yang disediakan pemerintah ini dapat menunjang pendidikan, sehingga ke depan kita lihat di tanah Melayu ini banyak yang setelah sekolah belajar mengaji, bisa mudah mengaji kapan saja," urai dia menambahkan.

detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Perjuangan Pembuat Kerupuk di Wilayah Terluar Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA