Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 29 Feb 2020 10:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Taman Bacaan Garuda Kecintaan Generasi 90-an di Cimahi

Whisnu Pradana
detikTravel
Taman Bacaan Garuda di Cimahi
Taman bacaan di Cimahi (Whisnu Pradana/detikcom)
Cimahi -

Namanya Taman Bacaan Garuda. Tempat yang dulunya hits untuk baca komik gratis bagi generasi 90-an, namun kini tempat itu akan tutup.

Ribuan judul buku bergenre fiksi macam novel dan komik-komik berderet dan tersusun rapi pada sebuah rak setinggi 4 meter di dalam rumah milik Suparman Siswodiharjo (70), di Gang M. Ardjo, Jalan Jenderal Amir Machmud, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Rumah tersebut dijadikan sebagai taman bacaan oleh sang empunya rumah, sejak tahun 1990-an. Taman Bacaan Garuda namanya. Tempat anak-anak Cimahi zaman dulu menghibur diri usai kesibukannya sebagai pelajar. Sebelum pindah ke Cimahi, ia memulai usaha taman bacaan sejak 1982 di kawasan Bandung.

Taman Bacaan Garuda di Cimahi Taman Bacaan Garuda di Cimahi Foto: (Whisnu Pradana/detikcom)


Di taman bacaan itu pula, lahir kenangan serunya membaca buku yang tak mampu dibeli sendiri, sambil bercengkerama bersama sobat. Sejak siang hingga sore, komik semacam Detective Conan, Flame of Recca, Prince of Tennis, serta novel seperti

Suparman bercerita, awal mula ia terpikir untuk menyewakan novel dan komik koleksinya itu lantaran ia adalah sosok yang gemar membaca. Total, ada sekitar 20 ribu koleksi komik dan novelnya yang dipajang dan tersedia untuk dibaca dan disewa.

"Berawal dari hobi baca, akhirnya buka taman bacaan. Awalnya, koleksi buku cerita tradisional, silat, komik Indonesia. Masuk 1992 ramai komik Jepang, sekarang komik dari cerita Korea juga punya," kata Suparman, saat ditemui di kediamannya, Kamis (27/2/2020).

Taman Bacaan Kecintaan Generasi 90an di CimahiFoto: (Whisnu Pradana/detikcom)

Medio tahun 1990-2010, persewaan komik dan novel dengan konsep taman bacaan menjadi bisnis yang menjanjikan. Judul-judul komik dan novel terbitan baru, hampir selalu tersedia di taman bacaan tersebut. Harga sewanya cukup terjangkau, tak sampai mencekik uang saku para pelajar kala itu.

"Bapak mau berhenti, udah enggak kuat. Anak sekarang sudah tidak baca buku ini. Sebetulnya ini bukan persoalan saya saja, semua yang berkecimpung di dunia buku juga mengalami termasuk toko buku besar"Suparman, pemilik Taman Bacaan Garuda di Cimahi


"Sewanya itu murah, 10% untuk komik dan 20% untuk novel dari harga buku. Misalnya dulu komik seharga Rp 7000, berarti sewanya Rp 700. Lama waktu sewa biasanya seminggu, tapi fleksibel karena penyewa sudah pada kenal. Dulu yang sewa banyak, mau masuk juga sampai harus bergiliran karena tempatnya sempit," dia menjelaskan.

Saat ini, mereka yang masih datang ke Taman Bacaan Garuda, kebanyakan remaja-remaja kelahiran 90-an dan juga pelanggannya sejak lama. Sangat jarang pelajar milenial yang datang, bahkan mungkin tidak tahu Taman Bacaan Garuda itu ada.

"Biasanya yang datang itu memang langganan bapak sejak dulu, jadi banyak yang sudah bawa anak ke sini. Kalau yang generasi sekarang itu bisa dibilang nggak ada," tuturnya.

Taman Bacaan Kecintaan Generasi 90an di CimahiFoto: (Whisnu Pradana/detikcom)

Namun semua berubah sejak internet dan ponsel pintar menyerang. Beberapa tahun belakangan, penurunan pengunjung dan minat baca masyarakat terasa sangat kentara. Dalam kurun 2 tahun terakhir dirinya juga mengaku sudah mulai kesulitan menambah koleksi buku.

"Tapi masih tetap saya jaga dan rawat semuanya. Soal urutan dan tata letak saya masih hafal, dirawat terus sambil dibaca-baca juga. Sudah 1 sampai 2 tahun nggak belanja novel karena memang peminatnya jauh berkurang. Kalau komik masih beli sebulan terakhir karena kasihan ada langganan yang baca secara rutin dan menunggu kelanjutan bukunya," kata dia.

Ia masih berkeinginan menambah koleksi bukunya, namun keterbatasan dana. Sebuah siasat dimilikinya, yakni menambah koleksi novel yang harganya Rp 5.000.

"Wah tertarik tuh, kalau dihitung dengan modal segitu satu kali penyewaan juga sudah kembali modal. Tapi saya mikir, memangnya ada yang baca jadi keinginan itu dikubur dalam-dalam. Kalau dulu, belanja buku bisa sampai jutaan rupiah, sampai Jakarta-Yogyakarta segala," tuturnya.

Minimnya minat baca masyarakat berimbas pada lesunya kunjungan ke taman bacaan, termasuk Taman Bacaan Garuda. Hingga Suparman memutuskan untuk melepas semua bukunya. Dia tak menyalahkan dampak globalisasi atas meredupnya minat baca.

"Bapak mau berhenti, udah enggak kuat. Anak sekarang sudah tidak baca buku ini. Sebetulnya ini bukan persoalan saya saja, semua yang berkecimpung di dunia buku juga mengalami termasuk toko buku besar," katanya.

Suparman menawarkan keseluruhan koleksinya yang mencapai 20.000 lebih buku seharga Rp 75 juta dengan rata-rata harga per buku Rp 4 ribu. Dirinya berharap ada orang dengan kelebihan harta yang bisa membeli semua koleksinya.

Meskipun niat itu terkadang sempat ingin diurungkan. Baginya, buku-buku itu merupakan warisan dan harta berharganya selain keluarga.

"Kalau dibeli, saya berharap nantinya digratiskan untuk pembaca. Sediakan tempat sehingga masyarakat umum agar bisa baca. Berat, terus terang Bapak nangis. Tapi sudah capek," tandasnya.



Simak Video "Jendela Dunia di Gang Sempit Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA