Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 14 Apr 2020 19:35 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Besesandingon, Jaga Jarak Fisik ala Orang Rimba

Putu Intan
detikTravel
Orang Rimba masih memegang teguh kearifan lokal yang dianut secara turun-temurun. Alih fungsi hutan menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup mereka kini.
Ilustrasi Orang Rimba (Foto: Antara Foto/Wahdi Septiawan)
Jakarta -

Jauh sebelum pemerintah mengajak masyarakat melakukan physical distancing untuk mencegah penyebaran Corona, Orang Rimba telah memiliki cara physical distancing tersendiri yang disebut besesandingon.

Menurut Sri Marmoah dalam bukunya berjudul Manajemen Pemberdayaan Perempuan Rimba (2014), besesandingon adalah perpindahan tempat tinggal Orang Rimba dikarenakan adanya penyakit menular di tempat tinggal asal. Ketika ditemukan sebuah wabah penyakit, mereka akan meninggalkan tempat tersebut. Mereka akan pergi sambil merangkak lalu naik ke atas pohon, turun, dan merangkak lagi sampai jarak tertentu.

Dalam penerapan besesandingon ini, orang yang sakit (becenenggo) akan dipisahkan dengan yang sehat (bungaron). Selain menjaga jarak, mereka juga dilarang melakukan kontak fisik termasuk makan bersama dan mengenakan barang-barang bersama.

Salah satu pengajar SOKOLA (organisasi pendidikan yang mengajar masyarakat adat di Indonesia, termasuk Orang Rimba), Alberta, berbagi cerita mengenai besesandingon yang sedang dilakukan Orang Rimba kepada detikcom.

Alberta menceritakan mengenai kondisi di daerah tempatnya mengajar yaitu Makekal Hulu yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Ia mengungkapkan bahwa besesandingon ini sudah dilakukan kurang lebih selama 3 minggu.

"Ketika Orang Rimba mendengar kabar tentang Corona, mereka otomatis melakukan lockdown lokal atau besesandingon. Termasuk kami para pengajar juga keluar dari lingkungan mereka. Kalau sudah keluar, kami dianggap sebagai orang meru, sebutan untuk orang yang hidup di perkotaan," ungkap Alberta.

Kegiatan belajar yang dilakukan Orang Rimba sebelum wabah Corona.Kegiatan belajar yang dilakukan Orang Rimba sebelum wabah Corona. (Foto: SOKOLA/Alberta)

Ia juga menceritakan bahwa Orang Rimba sebenarnya selektif pada orang asing yang akan memasuki wilayah mereka atau ingin bertemu dengan mereka, termasuk sebelum penerapan besesandingon ini. Umumnya mereka akan menanyakan asal dan kondisi kesehatan orang tersebut.

"Interaksi nggak salaman apalagi cipika-cipiki. Kalau bertemu orang harus ambil jarak. Lihat-lihatan. Lalu jongkok, lihat-lihatan lagi, baru bertanya, kamu dari mana? Mereka akan memastikan dulu. Kedua, mereka akan bertanya kondisi kesehatan sedang sakit atau tidak?" katanya.

Kendati telah mengisolasi diri secara lokal, Orang Rimba tetap mendapatkan perhatian dari pemerintah. Salah satunya dari pemberian bantuan sembako dari Balai Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Alberta dan para relawan juga sempat turut serta memberikan bantuan sembako untuk Orang Rimba pada Rabu (8/4/2020) lalu. Sembako yang diberikan itu antara lain beras, mie instan, kopi, teh, dan gula.

Ketika memberikan sembako ini, relawan dan petugas pun mengikuti aturan besesandingon yang diterapkan Orang Rimba.

"Kami tidak memberikan langsung ke tempat tinggal mereka. Sudah ada titik kumpul yang disepakati. Kami memarkir mobil jauh dari tempat itu. Lalu kami menaruh paket sembako di tempat itu dan langsung meninggalkan tempat. Mereka akan berterima kasih dari kejauhan baru kemudian barang itu diambil saat kami sudah pergi," ujar Alberta.

Masa besesandingon ini juga berdampak pada kegiatan belajar-mengajar di sana. Saat ini SOKOLA menghentikan kegiatan tersebut untuk sementara.

Anak-anak Rimba semangat belajar sebelum ada wabah Corona.Anak-anak Rimba semangat belajar sebelum ada wabah Corona. (Foto: SOKOLA/Alberta)

Sebelumnya, Alberta dan rekan-rekannya aktif mengajar kelompok Orang Rimba Sako Napu dan Simpang Meranti di wilayah ketemanggungan Makekal Hulu. Kelompok yang mereka ajar umumnya adalah anak-anak usia 2-15 tahun namun mereka juga terbuka pada siapa saja yang ingin belajar, termasuk ibu-ibu di sana.

Pelajaran yang diajarkan pun berbeda dengan kurikulum pendidikan formal. Mereka tetap mengajarkan baca, tulis, hitung namun mereka juga menerapkan pendidikan sesuai budaya dan adat setempat.

"Kami mengacu pada budaya dan adat istiadat setempat. Jadi mereka akan belajar pengetahuan tentang dunia luar dan wawasan adat mereka sendiri. Contohnya sistem pasar, dampak ekspansi perkebunan sawit, zonasi taman nasional yang menyangkut ruang hidup mereka, hingga pengetahuan seputar pengakuan adat. Kegiatan seputar berburu, belajar pata-pata adat, ataupun tradisi lokal juga dipraktikkan dalam belajar mengajar," ia menjelaskan.

Sampai saat ini belum dapat dipastikan berapa lama besesandingon ini akan dilaksanakan karena virus Corona juga masih terus menjangkiti Indonesia. Menurut data terakhir, kasus positif Corona di Indonesia telah mencapai 4.839 orang.



Simak Video "Update Corona di Jambi: 43 Kasus Positif, 77 Orang PDP"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA