Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 22 Jun 2020 13:40 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Melihat Sisi Vintage Jakarta di Sawah Besar

Anita Valencia
detikTravel
Pasar Baru
Foto: Anita Valencia/d'traveler
Jakarta -

Kawasan Sawah Besar menyimpan sejarah perkembangan Jakarta. Hal itu bisa dilihat dari bangunan dan suasananya.

Perjalanan saya ke Jakarta sebenarnya tidak direncanakan. Karena suami yang tiba-tiba mendapat tugas untuk mengikuti seminar selama satu minggu di ibukota, akhirnya saya pun ikut serta.

Berhubung saya akan ditinggal sendiri di hotel, saya merasa rugi kalau tidak memaksimalkan waktu dengan menjelajahi kota metropolitan ini. Kami menginap di area Panglima Sudirman, dimana pusat bisnis berada dan gedung-gedung tinggi pencakar langit menjadi pemandangan sehari-hari dari jendela hotel.

Kemudian muncul keinginan untuk menjelajah bagian lain dari Jakarta. Dengan mengandalkan Google, akhirnya saya menemukan Pasar Baru di area Sawah Besar. Saya pun mengajak teman yang berdomisili Jakarta, untuk ketemuan di Pasar Baru.

Dari hotel pukul 09.00 WIB, saya berjalan sedikit ke halte Trans Jakarta di depan Stadion GBK dan memulai perjalanan ke arah Harmoni, kemudian pindah bus yang menuju ke Halte Pasar Baru. Jujur saya masih belum terbiasa menggunakan Google Maps meskipun directions-nya dijelaskan secara detail. Tapi akhirnya sampai juga di area Sawah Besar ini.

Saya pun berjalan kaki menuju ke Pasar Baru sekitar 5 menit. Selama berjalan kaki, saya melewati kios-kios seniman yang menjual lukisannya di pinggir jalan. Banyak diantaranya karikatur para politikus terkenal Indonesia, tapi ada juga yang memajang lukisan neng Marilyn Monroe dan kang Johnny Depp.

Sesampainya di pintu gerbang Pasar Baru, disana tertulis Passer Baroe 1820. Saya berpikir, tua juga ya pasar ini! Saya seperti dibawa time travel ke masa lampau. Saya yang berasal dari Jawa Timur, tidak menyangka kalau ternyata ada sisi lain dari Jakarta yang cukup vintage dan jauh dari kesan modern perkantoran. Di dalam Pasar Baru, toko-toko berjejeran menjual berbagai macam produk. Sebuah toko yang menjual kain dan terima jasa menjahit dengan lugas memasang iklan di depan tokonya, Pagi Pesan, Sore Kelar.

Saya juga menyempatkan untuk membeli kue tradisional, Serabi Jakarta di abang-abang pinggir jalan. Lalu saya pun makan siang di Bakmi Aboen yang legendaris. Seporsi Kwetiau Siram pun habis karena lapar dan panas Jakarta menguras energi saya.

Setelah kenyang, perjalanan saya lanjutkan ke Museum Jurnalistik Antara. Museum bergaya kolonial ini berisi galeri foto jurnalistik. Tempat ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena di sinilah naskah proklamasi disiarkan ke seluruh dunia. Gedung dua lantai ini juga memiliki koleksi surat kabar dari masa lalu juga mesin tik dari masa ke masa.

Sayang sekali kami tidak bisa berlama-lama lagi di tempat ini karena langit semakin gelap dan kami masih harus menyeberang jalan menuju halte busway terdekat. Akhirnya saya pun tiba kembali di Panglima Sudirman. Dari halte saya berjalan kaki di bawah rintik hujan ditemani lampu gemerlap gedung-gedung pencakar langit. Senang sekali mendapat pengetahuan baru hari itu.

---

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel, Anita Valencia dan sudah tayang di d'Travelers Stories.



Simak Video "Strategi None Jakarta Promosikan Wisata saat New Normal"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA