Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 26 Jun 2020 16:49 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mendaki Gunung Lawu yang Indah tapi Mistis

Sri Wahyuni
detikTravel
Mendaki Gunung Lawu
Foto: Mendaki Gunung Lawu (Sri Wahyuni/d'Traveler)
Jakarta -

Akhir pekan merupakan waktu yang cocok untuk mendaki Gunung Lawu. Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian, indah tapi mistis.

Gunung Lawu merupakan salah satu Gunung tertinggi di Jawa Timur yang memiliki ketinggian 3265 Mdpl. Musim hujan tidak menjadi penghalang untuk mendaki gunung Lawu justru pendaki dapat menikmati pendakian tanpa debu tebal.

Basecampnya pun merupakan perumahan warga yang disiapkan untuk para pendaki beristirahat. Para warga menyediakan tempat tidur dan kamar mandi untuk para pendaki.


Meski Gunung Lawu kental dengan aura mistis, namun Gunung Lawu tidak sepi pendaki malahan ramai dikunjungi apalagi pada saat akhir pekan.

Gunung Lawu mempunyai 2 jalur pendakian yang terkenal susah dan jauh yaitu jalur Cemoro Sewu dan dan Candi Cetho. Kedua jalur sangat lah berbeda. Jalur Cemoro Sewu adalah jalur untuk para ziarah jalur berbatuan, sedangkan jalur Candi Cetho tanah.

Mendaki Gunung LawuMendaki Gunung Lawu Foto: Sri Wahyuni/d'Traveler



BASECAMP LAWU BAROKAH

Jalur Cetho menjadi pilihan kami untuk memulai pendakian. Setelah beristirahat semalam di basecamp kami mempersiapkan logistic dan carrier kami masing masing. Setelah semua beres, kami sarapan lalu memulai pendakian pada jam 8 pagi.

Jam 8, kami berangkat mengarah ke pos 1 kondisi hutan yang semakin rapat dan track yang mulai menanjak harus kami lalui. Konon di hutan jika kami bertemu dengan anjing, maka anjing itu akan mengantarkan kita tanpa tersesat.

Pos 1

Setelah sampai di pos 1 kami memutuskan untuk istirahat sambil minum dan makan roti untuk memulihkan kondisi kami. Tidak lupa juga memutar musik sepanjang perjalanan.

Perjalanan kami sangat santai tidak terburu buru, kami saling menyapa dengan pendaki lain yang juga mempunyai tujuan yang sama.

Pos 2

Setelah kami sampai di pos 2 kami menemuka mata air, kami pun memutuskan untuk mengisi botol kosong dengan air yang akan sangat kami butuhkan pada saat di perjalanan. Kami juga memasak mie instan untuk makan siang.

Cuaca mulai berembun karena hujan mulai turun pada siang hari, namun hujan tidak terasa karena pohon-pohon sangat rapat memenuhi hutan.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos 3 sambil meneriakkan yel yel kami 'Berang-berang makan coklat, berangkat...'

Pos 3

Cuaca kembali cerah dan kabut mulai menghilang, sinar matahari yang menerobos melalui daun daun pepohonan membuat tubuh hangat ditambah dengan alunan musik yang kami dengarkan membuat kami sangat bersemangat untuk mencapai puncak.

Dalam perjalanan menuju pos 4 kami mendapati pendaki yang turun saling menyapa dan menyemangati orang yang tidak dikenali di pendakian adalah hal yang manis.

Pos 4

Sore hari mulai datang lelah, letih, lapar mulai kami rasakan namun itu tidak membuat kita menyerah kami tetap menjalankan perjalanan dengan semangat.

Adzan ashar mulai berkumandang kami memutuskan untuk beristirahat sembari menunggu adzan selesai.

Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di area camp dimana kita harus melewati 1 pos lagi untuk sampai di area camp

Sembari beristirahat kami ngobrol dengan pendaki lainnya dan melanjutkan perjalanan bareng

Pos 5

Track makin curam dan kabut mulai menutupi pandangan, hanya membutuhkan waktu 1 jam perjalanan untuk sampai area camp

Kami tidak dapat menikmati pemandangan di sekitar pos 5 dimana savana yang indah terlihat sangat menawan pada saat musim kemarau.

Setelah sampai di Gupak Munjangan kami langsung bergegas mendirikan tenda karena cuaca mulai mendung yang kiranya akan ada hujan turun, kami membagi tugas untuk mendirikan tenda dan memasak.

Mendaki Gunung LawuMendaki Gunung Lawu Foto: Sri Wahyuni/d'Traveler



Setelah tenda berdiri kokoh kami makan lalu beristirahat, tanpa kita sadari kami semua tertidur sehabis makan.

Hujan turun lumayan deras membuat cuaca sangat dingin membuat kami terbangun di tengah malam, namun kami tidak melanjutkan tidur melainkan kami memutuskan untuk summit dalam perjalanan kami ditemani dengan bintang bintang yang sangat terang benderang walaupun malam hari namun pemandangan sangat indah.

Pada pukul 5 pagi akhirnya kami sampai di puncak Agro Mulyo Lawu 3265 mdpl.

Setelah 1 jam berada di puncak kami memutuskan untuk turun dan sarapan di warung tertinggi di Indonesia warung pecel Mbok Yem.



Dingin menyapa kami bersama cahaya matahari pagi yang menyinari tubuh kami saat sarapan nasi pecel di warung Mbok Yem.

Pukul 8, kami turun menuju area camp sepanjang perjalanan turun kami berbincang dimana kami semua tidak menyangka telat sampai di puncak perjalanan kami.

Sesampainya di tenda, kami melanjutkan tidur kami yang terpotong malam hari karena summit. Setelah hari semakin sore, kami mengemasi tenda dan melanjutkan perjalanan pulang. Namun karena kami kelelahan, kami memutuskan untuk kembali ke Warung Mbok Yem untuk menginap 1 malam lagi.

Pukul 3 dinihari, kami terbangun dan mengemasi carrier lalu berangkat untuk pulang. Kami memutuskan untuk lintas jalur Cemoro Sewu. Kami pulang dengan jalur yang berbeda. Butuh waktu 8 jam untuk sampai di basecamp.

Jalanan berbatu dan hujan kami lalui. Setelah kami sampai di basecamp kami bersih bersih dan ganti pakaian dan mencari angkutan untuk menuju pulang ke rumah. Itu pengalaman kami mendaki Gunung Lawu yang indah tapi mistis!


---

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel, Sri Wahyuni dan sudah tayang di d'Travelers Stories.



Simak Video "Tangis Haru Ortu Pendaki yang Selamat Turun Gunung Lawu"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA