Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 31 Agu 2020 22:19 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Dampak Corona, Perajin Sarung Khas Mandar Butuh Bantuan Modal

Aby Febriady
detikTravel
Pembuatan sarung khas Suku Mandar.
Foto: Aby Febriady/detikcom
Polewali Mandar -

Di tengah pandemi Corona, Suku Mandar masih memproduksi sarung sutra yang khas. Sayangnya produksi mereka terhambat dan butuh bantuan modal.

Suku Mandar di Provinsi Sulawesi Barat, memiliki kerajinan tangan bernilai tinggi. Namanya lipa saqbe atau sarung sutra. Namun sayang, seiring berjalannya waktu, semakin sedikit warga yang menekuni pembuatan Lipa Saqbe.

Salah satu warga yang masih aktif menekuni usaha pembuatan sarung sutra bernama Fatimah (50), warga Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar.

Saat wartawan berkunjung, Fatimah tampak sibuk menenun sarung di bawah pohon. Dia duduk berselonjor, dengan alat tenun yang dikenal dengan nama Panettean berada di pangkuannya. Tangannya lincah memakai alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu.

Fatimah mengaku telah puluhan tahun membuat lipa saqbe. "Sudah puluhan tahun, awalnya sejak kelas 3 SD (sekolah dasar) mulai belajar ini sampai sekarang," katanya kepada wartawan.

Diakui Fatimah, saat ini tidak banyak warga menekuni usaha pembuatan sarung, lantaran prosesnya cukup rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Proses pembuatannya lama, selembar sarung biasa dibuat seminggu hingga dua minggu, tergantung tingkat kerumitan, dari bahan juga. Kendalanya juga kita kalau bikin sarung, kalau putus susah menyambungnya," ujarnya sembari melanjutkan aktifitas membuat sarung yang dikenal dengan istilah Manette.

Pembuatan sarung khas Suku Mandar.Pembuatan sarung khas Suku Mandar. Foto: Aby Febriady/detikcom

Minimnya modal dan terbatasnya bantuan pemerintah, salah satu alasan membuat usaha pembuatan sarung Fatimah sulit berkembang.

"Selama ini belum pernah mendapat bantuan modal, kita selalu berharap ada bantuan," ungkapnya.

Kondisi diperparah sejak pandemi COVID-19 melanda, membuat sarung sutra sepi pembeli. Padahal banyak bahan yang dibeli dengan cara berhutang.

"Selama pandemi, permintaan sarung sutra alami penurunan, belum lagi modal yang sudah semakin menipis, bahkan terkadang kita harus berhutang kepada orang lain,"beber Fatimah lirih.

Kendati demikian, Fatimah mengaku tetap setia menekuni usaha pembuatan sarung sutra. Selain sudah menjadi profesi satu-satunya untuk menggantungkan hidup, ini dilakukan untuk melestarikan kerajinan khas yang menjadi warisan leluhur Suku Mandar.

"Saya bertahan karena ingin melestarikan budaya mandar, selain itu tidak ada kerjaan lain, jadi saya menggantungkan hidup dari kegiatan ini," pungkasnya.

Pembuatan sarung khas Suku Mandar.Pembuatan sarung khas Suku Mandar. Foto: Aby Febriady/detikcom

Salah seorang warga, Witri yang berkunjung dan mencoba belajar menenun sarung sarung sutra, berharap pemerintah memberikan perhatian, agar keberadaan lipa saqbe sebagai salah satu warisan budaya Suku Mandar dapat terus dipertahankan.

"Ada banyak sekali alat pembantu untuk memisahkan satu benang dengan benang lain, warna satu dengan warna lain, untuk menghasilkan corak, menggambarkan khas mandar itu sendiri. Ini pengalaman yang berkesan, semoga ke depannya, pemerintah serius memberikan perhatian, karena kerajinan sarung sutra memiliki potensi besar dan harus dilestarikan," pintanya.

Kegiatan membuat lipa saqbe dikenal dengan istilah Manette, menggunakan alat tradisional berbahan kayu dan bambu. Umumnya, usaha pembuatan Lipa Saqbe dilakukan para istri nelayan, yang bermukim di pesisir pantai.

Selembar lipa saqbe, dijual dengan harga bervariasi, antara Rp 150-500 ribu, tergantung motifnya. Sarung sutra mandar atau lipa saqbe, beraneka macam warna dengan motif yang berkilauan.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA