Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 07 Okt 2020 13:44 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Gerabah, Kerajinan Mama-Mama Papua yang Mulai Dilupakan

Bonauli
detikTravel
Kampung Abar perajin gerabah Papua
Mama Barbie, perajin gerabah (Hari Suroto/Istimewa)
Jayapura -

Sebuah kampung di Jayapura menarik perhatian. Karena kini kampung tersebut jadi satu-satunya perajin gerabah di Papua.

Inilah Kampung Abar di Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura. Dari dulu kampung ini dikenal karena masyarakatnya membuat gerabah. Gerabah merupakan kerajinan dari tanah liat yang digunakan sebagai tempat makan.

Sayangnya, kemajuan teknologi membuat para perajin harus pasrah karena gerabah mulai ditinggalkan. Barbalina Ebalkoi, salah satu perajin yang masih terus membuat gerabah hingga saat ini.

"Saya membuat gerabah ini dari kecil, dulu bantu ibu saya. Saya juga mewarisi alat-alat yang dipakai untuk membuat gerabah dari ibu," kata Barbalina Elbakoi atau akrab disapa Mama Barbie.

Pengerjaan gerabah dilakukannya seorang diri. Dari mengambil tanah liat di lereng bukit sebelah barat Kampung Abar, memilih tanah liat yang terbaik, dan membawanya pulang dengan noken. Sampai di rumah, tanah liat didiamkan dulu beberapa hari supaya asamnya hilang.

Kampung Abar perajin gerabah PapuaKampung Abar perajin gerabah Papua Foto: (Hari Suroto/Istimewa)

"Bahan tanah liat yang sudah siap bisa langsung dibuat gerabah. Di Kampung Abar, ibu-ibu perajin membuat gerabah di rumah masing-masing, jadi tidak berkerumun atau berkumpul dalam satu tempat," dia menjelaskan.

Gerabah yang dibuatnya kebanyakan adalah sempe, wadah untuk membuat papeda dan makan papeda. Kemudian, ada piring tanah liat untuk menyajikan ikan.

"Dari Kota Jayapura dan Sentani di Papua, ibu-ibu kadang ada yang memesan sempe periuk untuk merebus ramuan. Ramuan yang direbus menggunakan wadah tanah liat lebih sehat, dan zat yang terkandung dalam ramuan tersebut tidak hilang," Mama Barbie mengisahkan.

Kampung Abar perajin gerabah PapuaSempe sebagai wadah papeda. Foto: (Hari Suroto/Istimewa)

Tapi, mama-mama di Kampung Abar menyebut belakangan [esanan gerabah menurun. Itu dikarenakan sudah banyak wadah plastik dan alumunium yang dijual dengan harga murah.

"Saya akan tetap membuat sempe, ini budaya saya. Saya tidak menjual sempe dengan harga mahal. Yang penting itu, sempe yang saya buat laku. Saya tidak ingin budaya membuat sempe ini hilang dari Kampung Abar," dia menegaskan.

Para perajin di Papua itu berharap agar wisatawan yang datang membeli gerabah sebagai suvenir dan tidak melupakan kunjungan ke Kampung Abar. Bahkan, ada pengalaman menarik yang dialami oleh mama Barbie.

"Pernah ada pembeli yang bayar dengan kapak batu atau manik-manik, ya saya sangat senang menerimanya. Sempe ini tidak harus dibeli dengan uang. Kalau ada mahasiswa atau anak sekolah yang mau membeli sempe ini saya kasih harga separuhnya saja," ujarnya.

Kampung Abar perajin gerabah PapuaKampung Abar perajin gerabah Papua Foto: (Hari Suroto/Istimewa)

Sempe kini diberi motif ikan Tutari. Tutari adalah ikan di batu besar dari zaman megalitik yang kini jadi situs sejarah. Hasilnya, sempe menjadi kian cantik.

"Situs Megalitik Tutari merupakan peninggalan manusia prasejarah. Peninggalan ini berupa bongkahan-bongkahan batu bergambar. Motif yang digambarkan berupa motif manusia, flora, fauna, benda budaya dan garis geometris," ujar Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua.

Gerabah menjadi salah satu media untuk melestarikan motif megalitik ini. Motif megalitik tutari harus dilestarikan dan harus bermanfaat pada kesejahteraan masyarakat sekitar situs, dalam hal ini masyarakat yang tinggal di Danau Sentani di Papua.

"Ini adalah bagian dari kontribusi penelitian arkeologi pada ruang lingkup SDGs atau Sustainable Development Goals disebut juga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," kata dia.



Simak Video "Permukiman Warga di Kota Jaya Pura Ludes Terbakar"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA