Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Okt 2020 06:40 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Grand Theater Senen yang Terbakar, Sempat Jaya Sampai Prostitusi

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Api di Grand Theater Senen kebakaran (Farih/detikcom)
Api di Grand Theater Senen kebakaran (Farih/detikcom)
Jakarta -

Di tengah aksi masa yang menolak UU Omnibus Law, Bioskop Grand Theater Senen yang legendaris ikut terbakar. Mari kita mengenal bioskop bersejarah di Jakarta ini.

Pada Kamis malam (8/10), Bioskop Grand Theater di Senen terbakar dan diduga terkena imbas dari para pendemo yang beraksi di kawasan Pasar Senen. Terlepas dari sebab kebakaran yang masih simpang siur, bioskop yang satu ini punya sejarah panjang.

Dihimpun detikTravel, Jumat (9/10/2020), Bioskop Grand Senen diketahui telah berdiri sejak tahun 1920-an dan menjadi salah satu warisan Belanda di Jakarta. Kala itu, bioskopnya masih bernama Theater Kramat sebelum berganti nama jadi Rex di tahun 1935.

Namun, industri bioskop di Indonesia sendiri baru mulai berkembang di tahun 1950-an seperti diungkapkan oleh Firman Lubis dalam bukunya yang berjudul Jakarta 1950-1970.

Puncaknya adalah di tahun 1980, di mana kala itu film produksi Indonesia mencapai 100 judul per tahun. Tak sedikit kawula muda yang menyesaki bioskop, tak terkecuali Grand Senen.

Inilah Danny Mulyana, orang dibalik layar ketika roll seluloid memvisualisasikan film yang pernah berjaya di dera 80-90-an.Inilah Danny Mulyana, orang di balik layar Grand Senen ketika roll seluloid memvisualisasikan film yang pernah berjaya di dera 80-90-an (Pradita Utama/detikTravel)

Hanya saja, Bioskop Grand Theater Senen juga tak lepas dari citra negatif seperti prostitusi. Sejak tahun 1950 atau pasca kemerdekaan, kawasan Senen sudah lekat dengan image kumuh, copet dan prostitusi.

Hanya di tahun 1962, Gubernur Ali Sadikin lewat Proyek Senen mulai mengubah citra kawasan Senen menjadi lebih bersih. Adapun citra lama dari kawasan Senen tak sepenuhnya hilang.

Sayang, kejayaan Bioskop Grand Senen perlahan mulai memudar ketika waralaba Studio 21 yang didirikan oleh pengusaha Sudwikatmono mulai muncul. Jejaring bioskop ternama itu perlahan kian sukses dan mematikan usaha sejumlah bioskop independen seperti Grand Senen dan lainnya.

Kian sepi, Bioskop Grand Senen kerap memasang spanduk film poster lawas bertema 17 tahun ke atas atau dewasa. Tak sedikit juga sosok wanita penghibur yang kerap hilir mudik di depan bioskop tersebut, membuat citranya kian negatif sebagai tempat prostitusi terselubung.

Akibat terus merugi dan kalah saing, Bioskop Grand Senen harus gulung tikar pada 31 Desember 2016 silam. Jakarta pun harus kehilangan salah satu bioskop tertuanya.

Walau telah dinyatakan tutup, nama Bioskop Grand Senen sempat kembali ramai jelang akhir tahun 2019. Saat itu, sineas Joko Anwar berencana memutar film horor Perempuan Tanah Jahanam di bioskop lawas tersebut. Sayangnya, tak berhasil karena izin dibatalkan.

Perempuan Tanah JahanamTara Basro di film Perempuan Tanah Jahanam (dok.Perempuan Tanah Jahanam)

Sayang, nasib salah satu bioskop legendaris Jakarta itu kian suram ketika ikut terbakar dalam aksi demo hari Kamis malam kemarin. Padahal, bioskop Grand Theater Senen punya nilai historis dalam industri perfilman Indonesia. Sungguh disayangkan.

(rdy/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA