Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 10 Okt 2020 17:24 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Menelusuri Sejarah Gapura Paduraksa Masjid Wali di Desa Jepang

Dian Utoro Aji
detikTravel
Masjid Wali di Kudus, Jawa Tengah
Gapura Paduraksa di Masjid Wali, Kudus masik daftar cagar budaya. (Dian Utoro Aji/detikTravel)
Kudus -

Masjid Jami Wali Al-Mamur di Desa Jepang ternyata menyimpan nilai bersejarah. Masjid Wali yang memiliki Gapura Paduraksa itu didirikan oleh murid Sunan Kudus, Arya Penangsang. Seperti apa sejarahnya?

Masjid Wali, begitu warga mengenal masjid bersejarah itu, terletak di Jalan Suryo Kusumo gang 6 Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kudus Jawa Tengah. Masjid ini menjadi salah satu tempat wisata religi bahkan dari wisatawan luar Kudus. Untuk sampai ke masjid ini, dari pusat Kabupaten Kudus, traveler menempuh jarak 4 km atau ditempuh sekitar 12 menit berkendara.

Masjid Wali cukup mencolok fasadnya. Traveler bakal disambut oleh Gapura Paduraksa. Istimewanya, gapura tersebut masuk dalam benda cagar budaya dengan ditandai papan yang menyebut dilindungi UU No.11 Tahun 2020 tentang cagar budaya.

Juru Pelihara Gapura Paduraksa di Masjid Jami Wali Al-Ma'mur Desa Jepang, Fatkhur Rokhman Aziz, menuturkan bahwa Masjid Wali itu didirikan oleh Arya Penangsang. Arya Penangsang ini merupakan murid kesayangan dari Sunan Kudus.

Masjid Wali di Kudus, Jawa TengahMasjid Wali di Kudus, Jawa Tengah Foto: Dian Utoro Aji/detikTravel

"Secara benang merah, dulu Arya Penangsang, beliau ini murid kinasih (kesayangan) dari Sunan Kudus. Beliau itu berasal dari Cepu, Blora, Jawa Tengah," kata Aziz kepada detikcom saat ditemui di Masjid Wali, Sabtu (10/10/2020).

"Kalau ke Kudus mampir ke sini (Desa Jepang), perjalanan jauh itu mampir ke sini, kemudian membuat tempat istirahat dan berdakwah beribadah dan membangun sebuah masjid ini dengan gapura," dia menambahkan.

"Murid (Arya Penangsang) mengacu kepada gurunya, yakni membuat gapura yang dipadukan kebudayaan Hindu yang dibuat oleh Sunan Kudus. Kemudian, beliau membangun sebuah masjid kemudian ada gapura dan jadilah masjid. Masjid Wali ini dibangun sekitar abad ke-16," dia menjelaskan.

Masjid Wali itu digunakan sebagai tempat ibadah hingga tempat istirahat Arya Penangsang saat dari Cepu, Blora menuju ke Kudus. Selain itu, bahwa Masjid Wali digunakan sebagai tempat pertemuan para wali.

"Dari murid Sunan Kudus kemudian menimba ilmu dan murid itu kembali ke asalnya menyebarkan agama islam. Kemudian, ada cerita rakyat lainnya bahwa di sini juga tempat beberapa wali untuk melaksanakan sebuah pertemuan," kata Aziz.

Masjid Wali juga menyimpan benda-benda tinggalan Sunan Kudus. Delapan di antaranya merupakan benda asli. Di antaranya adalah Gapura Paduraksa, mustoko masjid, empat saka guru, hingga ada makam kuno. Sementara itu, masjid sudah beberapa kali dilakukan renovasi.

Masjid Wali di Kudus, Jawa TengahMasjid Wali di Kudus, Jawa Tengah Foto: Dian Utoro Aji/detikTravel

Nah, Gapura Paduraksa itu memiliki keistimewaan dengan menggambarkan adanya perpaduan antara ulama dengan kerajaan Demak. Itu tercermin pada bentuk Gapura Paduraksa dengan sisi kanan dan sisi kiri mengapit pintu. Atapnya juga tidak sembarangan, sebagai simbol dari persatuan.

"Gapura ini menurut, Ki Herman Sinung Janutama salah satu guru besar penerjemah serat. Pada tahun 2016 kita datangkan acara di masjid ini. Gapura ini adalah sebuah gapura yang menjadi simbol, sudah adanya perpaduan antara ulama dan umarok," kata Aziz.

"Antara pangiwo (kiri) dan panengen (kanan). Itu disatukan disebuah atap. Jadi sisi kanan dan sisi kiri gapura disatukan di sebuah atap. Perpaduan ini maksudnya ulama ini dari Wali Sanga dan Umarok ini Kerajaan Demak. Itu disatukan dengan sebuah atap," Aziz menjelaskan.

"Gapura ini gapura perpaduan yang direkso, jadi perpaduan antara ulama dan umarok direkso dengan simbol sisi kanan sisi kiri disatukan oleh atap," kata dia.

Hingga kini, sejumlah tradisi di Masjid Wali masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Di antaranya, tradisi Rebo Wekasan. Tradisi ini adalah tradisi di hari Rabu terakhir pada bulan Safar pada hitungan orang Jawa dengan membagikan air dari sumur peninggalan Sunan Kudus.

"Tradisi Rebo Wekasan kemudian juga ada tradisi sifatnya harian manganan (makanan), itu ingkung ayam itu sudah menjadi tradisi sejak, dicantum prasasti ini namanya Masjid Al Makmur (ini namanya Masjid Al Makmur) insya Allah selamat dunia akhirat," kata dia.

"Selalu melestarikan ingkung ayam disuguhkan di masjid didoakan di makam menjadi wasilah. Makanan agar kajat dilaksanakan selamat lancar dan sebagainya," kata Aziz.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Tradisi Nyagran Rakyat Demak, Ritual Penghormatan Tokoh Agama di Tengah Laut"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA