Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Nov 2020 13:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Sasi di Raja Ampat, Aturan Lokal Menjaga Ikan

Hari Suroto
detikTravel
Raja Ampat
Kampung Sawinggrai, Raja Ampat (Foto: Hari Suroto)
Jakarta -

Masyarakat kampung di pulau-pulau Raja Ampat, Papua Barat dengan patuh menjaga sasi. Inilah bentuk kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun yang bertujuan menjaga alam.

Sasi merupakan aturan adat yang disepakati bersama masyarakat Kepulauan Raja Ampat, sehingga tidak ada orang yang berani melanggarnya. Sasi beragam jenisnya, salah satunya yaitu nelayan hanya boleh melaut setiap 6-12 bulan sekali.

Di mana selama sekitar 1-2 minggu, mereka dapat mengambil hasil laut sebanyak mungkin yang mereka perlukan. Setelahnya, mereka tidak boleh melaut lagi.

Bila ingin mengambil hasil laut di luar batasan waktu tersebut, mereka harus pergi dari perairan Raja Ampat. Sasi kadang diberlakukan juga pada jenis biota laut tertentu, misalnya teripang.

Hal ini untuk memberi kesempatan pada biota laut yang disasi agar berkembang biak dan tumbuh sebesar ukuran yang laku di pasaran. Saat sasi dibuka, maka akan dilakukan pemanenan secara selektif.

Sasi juga berlaku untuk tanaman. Masyarakat tidak boleh sembarangan mengambil buah, sekalipun yang terjatuh dari pohon.

Sebagai contoh, bentuk sasi lainnya yaitu dapat dilihat pada nelayan Kampung Lopintol, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat. Nelayan Lopintol dikenal sebagai pencari ikan kembung atau dalam bahasa setempat dikenal dengan ikan lema.

Raja AmpatKampung Lopintol, Raja Ampat (Foto: Hari Suroto)

Di Kampung Lopintol dikenal tradisi balelema atau menyerok ikan lema. Penangkapan ikan lema dilakukan malam hari dengan lampu petromaks yang ditaruh di ujung depan perahu.

Nelayan mendayung perahu ke tengah perairan yang berarus. Saat puncak musim, ribuan ikan lema yang sudah matang telur bergerombol di permukaan air.

Raja AmpatRaja Ampat (Foto: Hari Suroto)

Teluk Mayalibit menjadi lokasi pemijahan ikan ini. Selanjutnya, nelayan tinggal menunggu rombongan ikan lema mendekati cahaya, yang akan tampak di permukaan air.

Setelah berkumpul di sekeliling perahu, nelayan menggiring ikan lema ke kolam jebakan berpagar tumpukan batu di perairan dangkal.

Pada saat gerombolan ikan lema terjebak di kolam, cahaya petromaks diredupkan. Selanjutnya memanen ikan lema dengan cara menyeroknya dengan jaring.

Saat terbaik mencari ikan lema ini ketika bulan gelap, sehingga cahaya lampu yang menarik ikan.

Untuk memberi kesempatan ikan lema bertelur, maka nelayan Kampung Lopintol, bersepakat melakukan jeda penangkapan atau sasi di setiap Sabtu malam dan Minggu malam selama musim puncak ikan lema bertelur di bulan gelap.

---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Pulau Kri Raja Ampat, Incaran Penyelam Asing"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA