Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 29 Nov 2020 12:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Lain di Balik Pesona Kawah Ijen

Kawah Ijen di Banyuwangi.
Foto: (rahmafirstyf/d'Traveler)
Banyuwangi -

Para penambang belerang tradisional menjadi warna lain dari Kawah Ijen. Tak sedikit kisah yang dituturkan mereka.

Indahnya Kawah Ijen memang tidak diragukan lagi. Kawahnya yang biru, eternal blue fire yang mengagumkan, dan pemandangannya yang menawan bisa kalian dapatkan sekaligus di Kawah Ijen ini. Kawah Ijen sendiri terletak di puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.386 Mdpl.

Lokasinya berada di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Kawahnya memiliki kedalaman 200 meter dan luas mencapai 5.466 hektar. Fenomena alam yang paling diminati saat berwisata di Kawah Ijen adalah eternal blue fire yang hanya terdapat 2 di dunia, yaitu Etiopia dan Indonesia. Sungguh menakjubkan bukan?

Harga tiket masuk ke kawasan Gunung Ijen untuk wisatawan lokal dikenakan biaya sebesar Rp 5.000/orang dan Rp 100.000/orang untuk wisatawan asing di hari kerja. Untuk harga tiket masuk di hari libur, wisatawan lokal dikenakan biaya sebesar Rp 7.500/orang dan Rp 150.000/orang untuk wisatawan asing.

Untuk kendaraannya dikenakan biaya sebesar Rp5.000 untuk roda dua dan Rp10.000 untuk kendaraan roda empat atau lebih. Harga yang cukup terjangkau bukan, untuk melihat keindahan alam yang menakjubkan ini?

Untuk sampai di Kawah Ijen dan melihat keindahannya, wisatawan hanya perlu treking selama kurang lebih 2 jam yang dapat dimulai pada pukul 2 dini hari. Namun bagi wisatawan yang tidak cukup kuat untuk melakukan treking, tak perlu khawatir karena dapat menggunakan jasa troli para penduduk yang tersedia di kawasan Gunung Ijen. Dengan menggunakan jasa troli ini, wisatawan juga sangat membantu perekonomian para penduduk, loh!

Kawah Ijen di Banyuwangi.Bantuan untuk para penambang di Kawah Ijen (rahmafirstyf/d'Traveler)

Pemandangan indah Kawah Ijen mengalahkan rasa dingin yang menusuk di puncak Gunung Ijen. Pada pukul 6 pagi wisatawan sudah dapat melihat dengan jelas birunya Kawah Ijen yang mengagumkan.

Namun, kondisi alam yang tak menentu bisa membuat kesan berbeda bagi setiap wisatawan. Pasalnya, di kali pertama saya datang ke Kawah Ijen saat awal tahun 2019, saya hanya mendapat kabut tebal dan tak dapat melihat birunya Kawah Ijen.

Namun, semua terbayar saat saya kembali berkunjung di bulan Oktober 2020. Walaupun saya masih gagal melihat fenomena eternal blue fire, pemandangan indah Kawah Ijen sudah sangat mewakili perasaan kagum untuk keindahan Kawah Ijen ini.

Di balik keindahannya, tak banyak yang tahu bahwa terdapat pengorbanan para penambang belerang yang setiap harinya turun ke kawah untuk menambang hasil alam dengan keterbatasan alat dan perlindungan seadanya. Mengorbankan waktu, tenaga, dan keselamatan demi menghidupi keluarga.

Pekerjaan yang berbahaya karena dilakukan dengan perlengkapan seadanya. Bagaimana tidak, para penambang melindungi pernapasannya dari tebalnya asap yang mengandung racun hanya menggunakan baju yang diikat ke kepala karena tidak ada masker yang memadai, memikul puluhan kilogram belerang untuk ditimbang dan mendapat upah, alas kaki yang digunakan seadanya, bahkan pelindung mata dari asap tebal pun tidak ada. Pasalnya, kadar asap yang mengandung racun di Kawah Ijen 40x lipat lebih berbahaya dari batas aman untuk pernapasan.

Mendengar informasi tersebut membuat saya dan teman-teman Wheels On Road tergerak untuk membantu para penambang belerang di Kawah Ijen. Persiapan yang cukup panjang mengingat pandemi yang tak kunjung mereda karena bukan hanya mempersiapkan kebutuhan para penambang, kami juga mempersiapkan kebutuhan untuk menunjang protokol kesehatan selama perjalanan menuju Kawah Ijen melalui jalur darat.

Sampai akhirnya pada bulan Oktober lalu, saya dan teman-teman Wheels On Road berkesempatan bertemu langsung dengan para penambang dan memberikan bantuan berupa masker gas, baju untuk bekerja dan kebutuhan pangan untuk para penambang belerang dan keluarga.

Saat ini, total penambang belerang di Kawah Ijen ada sekitar 120 penambang, dengan 50-60 penambang aktif yang perekonomiannya bergantung pada hasil tambangan mereka. Upah sebesar 1.200/kg membuat mereka berusaha menambang sebanyak-banyaknya belerang agar mendapatkan upah yang maksimal untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.

Pandemi ini membuat sistem kerja para penambang sedikit berubah menjadi sistem kerja shifting di hari Senin-Jumat dan sistem kerja normal (semua penambang dapat hadir) di hari Sabtu dan Minggu. Bagi penambang yang tidak bekerja ke kawah untuk menambang belerang, mereka mengalihkannya pada bercocok tanam dan bertani untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Tepatnya pada hari Senin, 26 Oktober 2020, saya dan teman-teman Wheels On Road bertatap muka langsung dengan para penambang dan mendengar keluh kesah yang ada selama menjadi penambang belerang.

Memang tidak dalam jumlah yang lengkap karena hari Senin merupakan hari kerja dengan sistem shifting. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa bahagia kami yang dapat bertemu langsung dengan para penambang untuk menyalurkan bantuan berupa masker gas, baju untuk bekerja dan kebutuhan bahan pangan.

Pertemuan kami dengan para penambang diisi dengan haru dan rasa syukur atas anugerah yang diberikan. Wajah gembira dan ucapan terima kasih dari para penambang atas bantuan yang diberikan tak lupa kami sampaikan kepada para donatur yang telah ikut berdonasi untuk membantu para penambang. Kelancaran kami dalam merangkai kegiatan ini dibantu oleh Mas John dari @guidekece dan Pak Jam selaku porter jasa troli yang juga sumber informasi kami selama persiapan kegiatan ini berlangsung.

Semoga dengan cerita pengalaman kami membuat para pembaca tergerak untuk ikut membantu para penambang belerang di Kawah Ijen yang selalu menerima uluran tangan orang baik. Saya, Rahma Firsty, dan teman-teman Wheels On Road (Titto, Luthfi Kharisma, Adia, Galih, Alfan, Salsabila dan Luthfi Indra) dengan senang hati akan membantu apabila ada yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai kegiatan yang kami lakukan bulan Oktober lalu.

---
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel, Rahma Firsty Fitriyana dan sudah tayang di d'Travelers Stories. Traveler yang hobi berbagi cerita perjalanan, yuk kirim artikel, foto atau snapshot kepada detikTravel di d'Travelers. Link-nya di sini.



Simak Video "Dapur Belerang Kawah Ijen, Sumber Alam Penunjang Warga Setempat, Banyuwangi"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA