Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 01 Des 2020 16:56 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ulat Sagu, Makanan Wajib Para Bumil di Papua

Hari Suroto
detikTravel
ulat sagu
Sate ulat sagu (Hari Suroto/Istimewa)
Sentani -

Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua memiliki kuliner unik dan khas. Kuliner ini berbahan ulat sagu.

Ulat sagu didapatkan dari dalam batang pohon sagu yang tua dan biasanya sudah tumbang atau sengaja ditebang sebagai media berkembangnya ulat sagu.
Bagian dalam batang pohon sagu ini penuh dengan zat tepung yang menjadi makanan ulat-ulat ini.

Warna ulat sagu adalah putih dengan ukuran tiga hingga empat cm. Ulat ini sebenarnya adalah larva kumbang penggerek Rhynchophorus ferrugineus.

Ulat sagu memiliki kandungan protein tetapi sebagian besar adalah lemak. Selain ulat sagu, jamur sagu juga menjadi menu tambahan bagi masyarakat Danau Sentani. Karena keberadaan ulat sagu tidak dijumpai dengan mudah.

Untuk seratus gram ulat sagu, mengandung 181 kalori dengan 6,1 gram protein dan 13,1 gram lemak. Wah, sangat bergizi ya!

ulat saguMemasak ulat sagu Foto: (Hari Suroto/Istimewa)

Sebenarnya ulat sagu dan kuliner berbahan sagu sudah dikenal sejak masa prasejarah. Hal ini berdasarkan temuan wadah gerabah di situs-situs arkeologi di kawasan Danau Sentani.

Wadah gerabah ini pada masa lalu berfungsi untuk mengolah papeda atau bubur sagu. Papeda lebih banyak karbohidrat, sebagai sumber proteinnya ulat sagu dan jamur sagu.

Bahkan situs-situs hunian prasejarah di Danau Sentani berdekatan dengan hutan sagu. Masyarakat s punya cara berbeda untuk memasak ulat sagu.

Ulat sagu bisa dimasak menjadi sate atau dimakan langsung hidup-hidup alias mentah. Cara makan ulat sagu ini tentu saja langsung dengan kepalanya, rasanya manis seperti mentega.

ulat saguulat sagu dengan tepung sagu Foto: (Hari Suroto/Istimewa)

Kenapa hanya disate atau dimakan mentah? Ulat sagu ini tidak cocok digoreng karena lemaknya yang tinggi. Cara lain masak ulat sagu yaitu dengan campuran tepung sagu. Setelah dicampur, ulat sagu dipanggang di atas bara api. Rasanya sangat nikmat karena lemak ulat sagu akan meresap dalam tepung sagu.

Dalam budaya Sentani, ulat sagu dan jamur sagu merupakan makanan wajib bagi perempuan Sentani yang hamil. Jika ada anggota keluarga mendapati ulat sagu dan jamur sagu di hutan, maka ia akan menyerahkannya ke saudaranya yang hamil.

ulat sagusate ulat sagu Foto: (Hari Suroto/Istimewa)

Pohon sagu sudah dianggap sebagai ibu bagi masyarakat Sentani. Maka jika merusak hutan sagu atau menebang pohon sagu sembarangan, maka sang ibu akan marah dan tentu saja akibatnya akan sulit mendapatkan tepung sagu sebagai bahan papeda.

Bagi traveler yang ingin merasakan ulat sagu. Kuliner ulat sagu tidak dijumpai di restoran seputaran Sentani. Ulat sagu hidup dapat dibeli di Pasar Lama Sentani.

Ulat sagu dan jamur sagu banyak dijual di pasar ini mulai sore hingga malam hari. Untuk satu plastik ulat sagu dihargai Rp 25 ribu dengan isi sekitar 30 ekor ulat sagu.

----

Artikel ini adalah berita kiriman dari Hari Suroto, Peneliti di Balai Arkeologi Papua dan diubah sesuai kebutuhan redaksi.

(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA