Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 31 Des 2020 06:07 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Lawang Sewu Identik dengan Cerita Mistis yang Kini Enggak Horor Lagi

Lawang Sewu
Foto: Tedi Permana/d'travelers
Semarang -

Lawang Sewu memadukan destinasi wisata sejarah di jantung kota Semarang. Juga, identik dengan kisah horor dan mistis yang menjadi urban legend di ibu kota Jawa Tengah (Jateng) itu.

Lawang Sewu memiliki bangunan megah yang dominan bercat putih itu. Kendati berusia lebih dari 100 tahun, fasadnya kokoh. Kompleks Lawang Sewu memiliki enam gedung dengan kekhasannya masing-masing.

Mengutip dari situs resmi heritage.kai.id, pembangunan Lawang Sewu dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907 untuk Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Pembangunan dilakukan bertahap, karena diteruskan degan pembangunan gedung lainnya pada tahun 1916 dan selesai tahun 1918.

Bangunan itu dirancang oleh arsitek asal Amsterdam, Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag. Bangunannya cukup khas dan unik, salah satunya dua menara di bagian depan yang ternyata merupakan tempat tandon air.

Beberapa kali Lawang Sewu berganti fungsi dan pengelola. Setelah digunakan NISM, pada tahun 1942-1945 Lawang Sewu digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). Tahun 1945 menjadi Kantor Eksploitasi Tengah DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia), tahun 1946 dipergunakan sebagai markas tentara Belanda.

Tahun 1949 digunakan Kodam IV Diponegoro, tahun 1994 diserahkan kembali kepada kereta api (Perumka) yang kemudian statusnya berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero). Tahun 2009 dilaksanakan restorasi oleh PT KAI dan pada 5 Juli 2011 dilakukan peresmian Purna Pugar Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu.

Tur Virtual Lawang SewuTur Virtual Lawang Sewu Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom

Kesan horor di Lawang Sewu melekat ketika gedung itu mangkrak tak terawat sebelum dilakukan restorasi. Kondisinya saat itu memang singup meski berada di tengah kota.

Apalagi, reality show Dunia Lain menyajikan penampakan sosok putih berambut panjang mengintip peserta Uji Nyali di ruang bawah tanah.

Saking hebohnya acara itu di awal tahun 2000-an lalu, Asian Televison Awards memberikan penghargaan episode Lawang Sewu itu sebagai Best Reality Program. Makin lekatlah kesan horor di Lawang Sewu kala itu. Tapi sudah 20 tahun berlalu dan perubahan drastis terjadi di bangunan yang konon memiliki seribu pintu itu.

Komunitas Semarang Angker (Semarangker) juga sempat penasaran karena banyak yang mengatakan betapa angkernya Lawang Sewu.

"Lawang Sewu dulu dan sekarang beda, dulu mangkrak kayak terbengkalai, berantakan, dan gelap. Otomatis bangsa jin suka. Apalagi setelah penayangan Dunia Lain, tambah tinggi rating (kesan horor) Lawang Sewu, bahkan ada yang mengulas katanya terangker di Asia," kata Ketua Semarangker, Pamuji Yuono.

Pamuji menjelaskan ia dan komunitasnya memang kerap datang ke lokasi yang konon angker dan membuktikannya. Namun menurutnya sudah tidak ada nuansa angker dan horor lagi di Lawang Sewu Semarang.

"Pernah ke bawah tanah waktu masih dibuka, ya memang lembab, berair, gelap, otomatis lah, kita ngomongin makhluk astral," ujarnya.

Apakah Semarangker pernah melihat sosok gaib di Lawang Sewu Semarang?

Saat ditanya apakah dulu pernah melihat sosok gaib di sana, ia menjelaskan hanya berupa vorteks yang berwujud seperti asap menggumpal.

"Kami lihatnya vorteks, kalau bahasa metafisika. Kayak asap kayak awan menggumpal, kadang hitam, putih, cokelat, jadi tidak kayak di film," jelasnya.

Ia pun maklum jika ada orang-orang yang mengaku melihat sosok gaib dengan wujud pocong, kuntilanak, dan sebagainya. Selain siapa saja bisa mengaku, menurutnya, bangsa jin memang bisa berwujud sesuai dengan ketakutan atau kekhawatiran orang yang melihatnya.

"Tergantung mindset-nya apa, kalau khawatir kuntilanak maka jin bisa visualisasi dengan apa yang Anda takutkan. Misal si A takut pocong ya dia akan melihat pocong," katanya.

Namun ia kembali mengatakan saat ini Lawang Sewu sudah jauh dari kesan horor karena sudah 'kemanungsan' atau banyak sekali orang yang sudah berkunjung sejak PT KAI merestorasi dan menjadikannya lokasi wisata.

"Yang sekarang udah bagus, sudah cantik, sudah ribuan orang masuk dalam sebulan. Dulu belum tentu, ini sudah kemanungsan, kecuali bawah tanah, itu memang ditutup untuk hindari kesan angker," katanya.

Sementara itu Direktur Utama PT KA Pariwisata Totok Suryono mengatakan Lawang Sewu memang sempat mangkrak karena PT KAI kala itu mengalami keterbatasan anggaran untuk gedung-gedung non operasional, tidak hanya Lawang Sewu.

"Jadi memang pernah tidak terurus, saat itu PT KAI keterbatasan budget untuk yang tidak fungsional operasional, termasuk yang di Ambarawa juga," kata Totok.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA