Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 12 Apr 2021 12:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Belajar Toleransi Beragama dari Lembah Baliem Papua

Hari Suroto
detikTravel
Festival Lembah Baliem 2018
Foto: Dok Kemenpar
Lembah Baliem -

Lembah Baliem, Papua memiliki masyarakat yang heterogen dalam menganut kepercayaan. Meski begitu, mereka hidup rukun dan terus melestarikan warisan leluhur.

Dalam sejarahnya, sebelum Islam masuk, di Lembah Baliem sudah ada penganut Kristen Protestan dan Katolik.

Agama Islam mulai berkembang di Lembah Baliem, berawal dari program Presiden Soekarno yang mengirimkan para relawan Pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB) ke seluruh pelosok Papua untuk mempersiapkan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Para relawan ini kesemuanya beragama Islam, mereka berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Melalui interaksi yang intensif serta dakwah dari para relawan ini, sebagian Suku Dani di Lembah Baliem kemudian memeluk agama Islam.

Lembah BaliemKehidupan di Lembah Baliem. Foto: Hari Suroto Balai Arkeologi Papua

Pada mulanya Islam berkembang di Kampung Megapura, kemudian berkembang di Kampung Hitigima, Welesi, Okilikik, Araboda, Air Garam, Kurima, Tulima, Apenas dan Jagara.

Yang unik adalah Suku Dani yang beragama Islam ini, masih tetap mempertahankan tradisi khas Lembah Baliem yaitu bakar batu.

Tradisi bakar batu ini dilakukan dalam menyambut Ramadhan dan hari besar Islam lainnya. Selama ini dalam tradisi bakar batu di Lembah Baliem, bahan makanan yang dimasak adalah daging babi.

Komunitas muslim Dani menggantinya dengan ayam kampung atau ayam broiler yang di Papua disebut dengan ayam es.

Saat melakukan bakar batu, laki-laki menyusun batu di atas susunan kayu kering kemudian ditutupi dengan daun-daun serta rumput kering untuk selanjutnya dibakar. Tidak jauh dari lokasi batu dibakar, sebelumnya sudah dibuat sebuah kubangan dalam tanah.

Batu panas hasil pembakaran kemudian ditata merata di dalam lubang, selanjutnya di atas permukaan batu panas disusun berbagai jenis bahan pangan seperti sayuran, keladi, ubi jalar, singkong, pisang dan ayam. Bahan pangan ini kemudian ditutup dengan daun ubi jalar atau sayur-sayuran lainnya.

Bahan pangan ini akan matang dari panas panas yang bersumber dari batu. Setelah semua bahan pangan disusun, tumpukan makanan itu kemudian ditutup rapat dan kemudian meletakkan lagi batu panas. Setelah tiga jam, kemudian dibuka dan semua bahan makanan pun sudah matang dan siap disantap.

Dalam tradisi bakar batu menyambut ramadan ini biasanya dilakukan di halaman masjid atau mushola. Dalam pelaksanaannya dilakukan secara bergotong royong, melibatkan Suku Dani yang beragama Nasrani.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari kehidupan beragama di Lembah Baliem adalah rasa toleransi beragama yang tinggi. Selain itu tradisi warisan leluhur masih dipertahankan.

---
Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Udang Selingkuh Hanya Ada di Sungai Baliem Wamena"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA