Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 14 Jul 2021 12:40 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kuliner Unik dari Papua: Papeda Bungkus Plus Ikan Louhan Goreng

Hari Suroto
detikTravel
Papeda bungkus dari Papua
Foto: Papeda Bungkus (Hari Suroto/Istimewa)
Sentani -

Papua punya banyak kuliner unik yang khas. Salah satunya adalah papeda bungkus dengan lauk ikan Louhan goreng dari Kampung Abar. Seperti apa ya rasanya?

Abar merupakan kampung di Danau Sentani bagian tengah. Kampung ini dapat dicapai dari Bandara Sentani sekitar 25 menit. Kampung Abar dikenal karena masyarakatnya masih eksis membuat gerabah tradisional di Papua.

Setiap tanggal 30 September, di Kampung Abar Papua diselenggarakan festival makan papeda dalam gerabah. Papeda adalah kuliner yang sepintas mirip bubur.

Cara pembuatannya yaitu pati sagu diberi perasan air jeruk nipis, kemudian disiram dengan air mendidih. Pohon sagu memang tumbuh alami di sekitar Kampung Abar.

Orang Abar sejak kecil dibiasakan makan papeda. Hal ini agar mereka saat dewasa, tidak melupakan makanan warisan leluhur.

Olahan sagu lainnya yaitu papeda bungkus, papeda ini dibungkus menggunakan daun fotofe atau forofe (sejenis daun pisang-pisangan).

Selain papeda, makanan tradisional Papua lainnya yaitu keladi, pisang, sukun, serta singkong yang direbus. Makanan ini merupakan hasil kebun, disajikan dengan tumisan daun pepaya, bunga pepaya atau sayur pakis hutan.

Bumbunya sederhana saja hanya ditambah garam. Sebagai lauknya yaitu ikan louhan digoreng kering.

Ikan louhan dijadikan lauk sehari-hari. Sedangkan untuk perjamuan penting atau menyambut tamu, biasanya disajikan ikan mujair atau gabus kuah kuning.

Selama satu bulan, tim peneliti Balai Arkeologi Papua melakukan penelitian situs prasejarah di wilayah Abar. Setiap harinya, tim peneliti menikmati sajian papeda, baik itu papeda ikan kuah kuning maupun papeda bungkus ikan louhan goreng, pisang dan singkong rebus.

Untuk menjangkau situs yang diteliti dengan berjalan kaki, sekitar 30 menit dari Abar, menyusuri jalan setapak di lereng-lereng bukit savana.

Makanan tradisional yang dikonsumsi setiap hari, walaupun tanpa nasi, mampu menjadi sumber energi yang baik dan lebih menyehatkan.


---
Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Isi Perut, Menikmati Sate Maranggi Kuliner Khas dari Purwakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA