Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 03 Okt 2021 12:39 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Eksotisme Bangunan Heritage dan Labirin Kotagede Jogja

Erliana Riady
detikTravel
Yogyakarta -

Jogja selalu istimewa. Seperti view di sudut Kotagede yang eksotis dengan bangunan heritage dan gang sempit bak labirin yang menggoda untuk ditelusuri.

Beberapa netizen menyematkan kawasan ini dengan istilah Between Two Gate. Karena ada sembilan bangunan lawas di salah satu gang yang bisa dilewati traveler, dibatasi dua pintu gerbang. Gerbang dari sisi barat, traveler masuk ke Gang Rukunan Kampung Alun-alun. Kawasan ini berada di Kecamatan Purbayan, Kotagede, DIY. Di bagian atas tembok gerbang, tertulis angka 1923

Di gerbang sisi timur, ada pintu kayu selebar dua meter bercat hijau. Di atasnya terukir sebuah nama Atmo Soeprobo 1840. Begitu menapakkkan kaki di paving dengan motif bunga, beragam bentuk bangunan kuno bisa dinikmati dengan seksama. Ada sembilan rumah yang arsitekturnya tradisional Jawa. Seperti bangunan berbentuk joglo, limasan dan kampung.

Tiang utama atau soko guru dari kayu jati, tampak masih kokoh menyangga bangunan lawas itu. Beberapa ornamen bangunan berbahan kayu jati, masih terawat dan terjaga indahnya.

Di konsep arsitektur tradisional Jawa, bangunan utama (rumah induk) biasanya terpisah dengan bangunan yang dipakai untuk menerima tamu. Mereka menyebutnya Pendopo.

Jogja selalu istimewa. Seperti view di sudut Kotagede yang eksotis dengan bangunan heritage dan gang sempit bak labirin yang menggoda untuk ditelusuri.Jogja selalu istimewa. Seperti view di sudut Kotagede yang eksotis dengan bangunan heritage dan gang sempit bak labirin yang menggoda untuk ditelusuri. Foto: Erliana Riady

Di Gang Rukunan ini, semua rumah induk berderet rapi menghadap ke selatan. Lalu di depannya, berdiri pendopo yang dibatasi jalan selebar dua meter. Karena gang semacam ini sebenarnya merupakan area privat, beberapa warga Kotagede kemudian menutup rapat dengan tembok tinggi yang kokoh berdiri.

"Kalau di gang Rukunan ini kami buka untuk wisatawan dengan minat khusus pada bangunan tradisional Jawa. Namun Betwen Two Gate bukan mass tourism area. Kami lebih mengedepankan edukasinya," papar Penasehat Komunitas Lawang Pethuk, Joko Nugroho kepada detikcom, Minggu (3/11/2021).

Komunitas yang terbentuk tahun 2012 ini, menggagas edukasi terkait arsitektur tradisional kepada wisawatan dengan minat khusus. Menurut Joko, gagasan ini muncul pascagempa Jogja 2006. Saat itu banyak bangunan kuno yang roboh diguncang gempa dengan magnitudo 5,9.

Menilik kawasan Kotagede, tambah Joko, merupakan kawasan bekas pusat ibukota kerajaan Mataram di masa pemerintahan Penambahan Senopati 1. Kemudian dimasa Sultan Agung ibukota dipindah ke Kerto, lalu dipindah lagi ke Pleret. Kawasan ini kemudian kosong sekitar abad 18. Lalu mulai banyak yang menghuni di areal bekas alun-alun masa Mataram Islam, seperti di Kampung Rukunan. Sehingga Joko menilai, Kotagede merupakan kawasan yang punya nilai, tinggi, baik dari sisi sejarah dan budaya.

"Menurut cerita nenek moyang, kalau kawasan ini dibangun sekitar tahun 1830an usai perang Diponegoro. Ketika menjadi hunian dan menjadi bekas kerajaan, ada banyak situs bersejarah dan makam kerajaan masa Mataram Islam," ungkapnya.

Komentar wisatawan

Pemerintah DIY menetapkan kawasan ini sebagai Bangunan Warisan Budaya pada tahun 2018 lalu. Sementara, warga yang tinggal di sembilan rumah di gang Rukunan, sepakat membuka jalan ini sebagai destinasi wisata edukasi dengan minat khusus tadi.

Puas menikmati eksotisme bangunan heritage dari depan, jangan lupa melewati gang-gang sempit di bagian belakang rumah warga. Gang ini, merupakan batas antara bagian belakang rumah yang menghadap ke selatan dan utara.

Gang-gang sempit selebar sekitar dua meter ini unik banget. Bak labirin yang bikin penasaran untuk ditelusuri. Jika hendak berbelok, pastikan aman jalan dari arah berlawanan. Atau traveler akan terjebak dan bisa masuk bagian dapur rumah warga. Namun tak usah risau, traveler tetap akan disambut ramah, bahkan ditawari minuman pelegas dahaga.

Dua wisatawan tampak menikmati suasana asri dan tenang di Between Two Gate. Membawa kamera DSLR, mereka mengambil gambar dengan background beberapa sudut bangunan yang instagramable untuk diposting di medsos.

"Jogja tak hanya Malioboro saja. Disini kami temukan juga sesuatu yang istimewa. Bangunannya indah, kuno banget. Kami suka dengan semua yang tertata rapi dan wawasan baru soal bangunan Jawa," tutur Ika, wisatawan asal Bandung.

(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA