Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 06 Jun 2022 23:07 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ternyata Jakarta Tempo Dulu Ada Keraton, di Sini Perkiraan Lokasinya

Yasmin Nurfadila
detikTravel
Walking Tour Old Batavia bersama Timegap
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Umumnya masyarakat mengunjungi kawasan Kota Tua untuk berwisata di sekitar Alun-Alun Batavia. Ternyata di sekitar sini juga ada kabarnya ada bangunan bekas Keraton lho!

Tim detikcom beberapa waktu lalu berkesempatan untuk mengikuti walking tour rute Old Batavia bersama Timegap. Dalam rute ini, Timegap tidak hanya membawa peserta untuk mengenal museum-museum di sekitar Alun-Alun Batavia. Timegap juga membawa peserta berkeliling menyusuri bangunan-bangunan di sisi Kali Besar.

Perjalanan dimulai dari depan Museum Mandiri. Museum ini dulunya merupakan bangunan dari Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), sebuah perusahaan dagang Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, NHM kemudian dinasionalisasi dan berkembang menjadi Bank Exim (Ekspor Impor).

Pada tahun 1999, Bank Exim bergabung dengan Bank Mandiri, menjadikan bangunan NHM menjadi salah satu properti Mandiri. Bangunan NHM atau yang disebut Gedung Factorij kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Mandiri pada tahun 2005.

Tepat di sebelah Museum Mandiri, terdapat Museum Bank Indonesia. Museum ini dulunya merupakan bangunan De Javasche Bank. Setelah kemerdekaan, De Javasche Bank kemudian dinasionalisasi dan berganti menjadi Bank Indonesia. Pada periode tersebut, bangunan ini merupakan bangunan Bank Indonesia cabang Kota.

Pada tahun 1993, bangunan ini dinobatkan sebagai cagar budaya melalui SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 475. Sayangnya, pada tanggal kunjungan (1/6/2022) Museum Bank Indonesia masih belum dibuka untuk kunjungan.

Selain Nederlandsche Handels-Maatschappij, Timegap juga membawa peserta ke depan bangunan Nederlandsch-Indische Handelsbank (NIH). Bangunan NIH kini digunakan sebagai bangunan Bank Mandiri. Letaknya tepat sebelum gerbang masuk ke kawasan Alun-Alun Batavia.

Walking Tour Old Batavia bersama TimegapBangunan di sisi Kali Besar. Foto: Grandyos Zafna

Perjalanan walking tour berlanjut menyusuri bangunan-bangunan lawas di sisi Kali Besar. Bangunan pertama yang cukup mencolok dan berada di persimpangan adalah bangunan Chartered Bank of India, Australia, dan China. Kini bangunan ini menjadi salah satu properti Bank Mandiri dan tidak dibuka untuk kunjungan.

Selain itu, di sepanjang sisi Kali Besar, terdapat banyak bangunan-bangunan jadul lain. Mulai dari toko merah hingga berakhir di seberang Jembatan Kota Intan.

Salah satu yang paling menarik perhatian dan tak terduga adalah bangunan yang kini difungsikan sebagai Mercure Hotel. Menurut penuturan Suci Rifani, pramuwisata Timegap, lokasi Mercure Hotel diperkirakan merupakan lokasi dari Keraton Jayakarta.

"Fatahillah berhasil menang, terus dibentuklah sebuah pemerintahan baru dengan nama Jayakarta. Dibentuklah keraton di sini, " ujarnya.

Keraton Jayakarta didirikan oleh Fatahillah pada abad ke 15. Menurut berbagai sumber, lokasi Keraton berada di Omni Batavia Hotel atau De Rivier Hotel yang kini dikenal dengan Mercure Hotel. Keberadaan Keraton Jayakarta tidak terdokumentasikan karena pada abad ke 16, Keraton ini dibumihanguskan oleh Belanda.

"Nah yang ketiga itu, meriam (percobaan peledakan meriam dari pihak Belanda) jatuh di keraton. Kemudian peranglah dan katanya keraton kalah kemudian dibakar," lanjut Suci.

Dari lokasi Keraton, perjalanan berlanjut ke Jembatan Kota Intan. Jembatan ini dulunya merupakan sebuah jembatan yang dapat dibuka tutup untuk memberikan akses pada kapal-kapal yang melintas. Mirip seperti jembatan-jembatan yang ada di kanal-kanal di Belanda.

Kemudian perjalanan walking tour Old Batavia berlanjut kembali ke area Kota Tua. Di sekitar Alun-Alun Batavia terdapat rel yang dulu digunakan sebagai jalur trem. Sebelum keberadaan Transjakarta dan bus, salah satu moda transportasi utama di Jakarta adalah trem. Namun, pada masa Orde Lama, trem kemudian digantikan oleh bus, karena laju trem dianggap terlalu lambat.

Meski tidak memasuki museum-museum yang ada, namun rute walking tour ini tetap dapat memberikan banyak informasi dan cerita sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat.



Simak Video "Chinatown Glodok Jadi Wisata Walking Tour Paling Favorit"
[Gambas:Video 20detik]
(ysn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA