Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 22 Jul 2022 15:14 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Keluguan Orang Samin dan Rumah Warna-warni Bak Pelangi

Sudrajat
detikTravel
Warna-warni rumah warga Suku Samin Sambong Rejo di Blora
Rumah Suku Samin (Sudrajat / detikcom)
Blora -

Alunan tumbuk lesung atau Gejog Lesung sayup-sayup terdengar bertalu-talu dengan rancak begitu memasuki gerbang Kampung Samin Sedulur Sikep Sambong, Minggu siang (17/7/2022). Rupanya peralatan itu sengaja dimainkan enam orang ibu berbaju hitam di dalam pendopo untuk menyambut kedatangan Bupati Blora H. Arief Rohman beserta rombongan. Saya dan beberapa teman bergegas mengabadikan momen langka tersebut, meski cuma kebagian beberapa detik saja.

Selanjutnya acara diisi dengan sambutan-sambutan dalam Bahasa Jawa yang tak saya pahami. Karena itu kemudian saya memilih untuk menikmati keelokan rumah warna-warni milik warga Komunitas Samin. Dindingnya terbuat dari papan, dan jendela dengan ventilasi khas. Ukuran rumah di sana besar-besar. Saya memperkirakan lebih dari 100 meter setiap rumah.

Warna-warni rumah warga Suku Samin Sambong Rejo di BloraWarna-warni rumah warga Suku Samin Sambong Rejo di Blora (Sudrajat / detikcom)

Sejak gerbang hingga gang-gang di dalamnya terlihat resik dan tertata dari paving block. Pot-pot bunga dengan aneka bung warna-warni berjejer rapi di sepanjang gang. Belakangan saya tahu, kampung ini telah mengalami penataan pada 2011. Kecuali atap genteng rumah yang sebagian mulai menghitam, secara umum perkampungan ini bersih, rapi.

Bupati Blora Arief Rohman meresmikan Komunitas Samin Sedulur Sikep Sambongrejo ini sebagai desa wisata di Blora pada 30 Oktober 2021.

Orang-orang Samin dikenal lugu dan sangat mandiri dalam berbagai hal. Di bawah dipimpin Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo, komunitas itu mengelola waduk, kebun aneka sayuran dan buah, serta ternak seperti ayam, kambing, dan sapi.

Orang-orang Samin di komunitas ini tergolong modern atau sangat akomodatif terhadap nilai-nilai modernitas. Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo, misalnya, sejak pertengahan 1990-an sudah kerap hilir mudik di Jakarta.

"Saya antara lain bersahabat dengan Pak Harmoko. Kenal to, beliau Menteri Penerangan," kata si Mbah sambil memainkan telepon selular jadul berwarna hitam-merah. Di hadapannya tergeletak sebungkus rokok merek Sukun. Juga beberapa batang rokok seperti cerutu berwarna cokelat.

Warna-warni rumah warga Suku Samin Sambong Rejo di BloraWarna-warni rumah warga Suku Samin Sambong Rejo di Blora (Sudrajat / detikcom)

Dia lantas berkisah sebagian fragmen dalam perjalanan hidupnya. Lelaki yang mengaku cuma sekolah sampai kelas 4 SD itu pernah beberapa kali berurusan dengan aparat keamanan. Dia antara lain pernah disangka menyerobot lahan Perhutani karena membangun irigasi tanpa izin. Padahal hal itu dilakukan semata demi kehidupan warganya dan masyarakat sekitar yang kesulitan air, baik untuk kebun dan sawah maupun untuk minum dan mandi.

Dengan keluguannya, Mbah Pramugi menjawab, "Ya, kalau tak berizin kan tinggal diberi izin saja."

Kalau dirinya dianggap bodoh, mestinya para pejabat terkait memberi tahu bagaimana caranya mengajukan izin. "Lagi pula kan manfaatnya nyata untuk masyarakat luas bukan untuk kepentingan saya pribadi," tutur Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo.



Simak Video "Lezatnya Beragam Kuliner Khas Kalimantan di Warung Berkonsep Prasmanan, Samarinda"
[Gambas:Video 20detik]
(jat/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA