Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 04 Nov 2022 23:02 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Menguak Mitos Angkernya Jalan Kolonel Masturi di Cimahi

Whisnu Pradana
detikTravel
Suasana malam Jalan Kolonel Masturi.
Foto: Jalan Kolonel Masturi di Cimahi (Whisnu Pradana/detikcom)
Cimahi -

Jalan Kolonel Masturi, yang dikenal sebagai daerah Santiong di Cimahi, menyelipkan satu kisah mistis tersendiri. Mari kita simak kisahnya!

Saat melewati jalan yang menghubungkan Cimahi dan Cisarua itu, traveler akan melewati dua area pemakaman di sisi kiri dan kanan. Titik itulah yang dikenal angker oleh masyarakat setempat.

Dari arah Cimahi, satu kilometer dari persimpangan Citeureup, kita bakal melewati pemakaman Santiong di sisi kiri dan TPU Muslim Cipageran di bagian kanan.

Layaknya pemakaman, selalu ada cerita-cerita horor yang mengiringi keberadaannya. Apalagi, di ruas jalan yang konturnya menurun curam itu sempat terjadi beberapa kejadian kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa.

Kecelakaan paling parah terjadi pada tahun 2016 silam. Di mana sebuah bus pariwisata menabrak lima kendaraan hingga menyebabkan sembilan orang meninggal dunia.

Lalu apa hubungannya? Banyak warga percaya jika saat kita melintas kawasan tersebut, tak boleh melakukan hal-hal sembrono maupun berkata seenaknya atau dalam bahasa sunda dikenal dengan 'sompral'.

Komarudin, warga setempat menyebut bila sompral saat melalui Jalan Kolonel Masturi maka bukan tidak mungkin kita bakal melihat sosok penunggu yang menyerupai sesosok pria tanpa kepala. Belum lagi kabarnya ada kuntilanak yang bergelayut di atas pohon bambu yang memang seperti memayungi sisi kiri dan kanan di dekat dua kuburan.

"Ya itu kan cerita dari mulut ke mulut saja, kalau sebetulnya seperti apa saya juga tidak tahu. Kalau saya sebetulnya biasa saja lewat sini, tapi buat orang lain mungkin angker," kata Komarudin saat berbincang dengan detikjabar.

Suasana seram yang terpancar dari daerah tersebut, seakan diperkuat dengan minimnya penerangan jalan yang ada. Jika dilihat dari atas maupun bawah, Jalan Kolonel Masturi pada malah hari, mirip lorong panjang gelap yang tak memiliki ujung.

"Sebetulnya di sini itu seram karena kiri kanannya kuburan, terus jalannya gelap. Kalau terang, mungkin biasa saja," tuturKomarudin.

Namun jika berbicara dari sisi lain, kawasan Jalan Kolonel Masturi yang masuk ke wilayah Kecamatan Cipageran memiliki nilai sejarah Cimahi yang teramat kental. Sebab di makam yang dianggap angker oleh masyarakat, justru merupakan tempat bersemayamnya jasad dua leluhur Cimahi zaman dulu.

Di TPU Muslim Cipageran misalnya, ada makam Mbah Wirasuta dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi yang ditempatkan di bangunan khusus di tengah area pemakaman.

"Bagi masyarakat Cimahi khususnya Cipageran, mereka dianggap sebagai leluhur karena membuka wilayah Cipageran menjadi permukiman dan berperan menyebarkan Islam di wilayah ini," kata sejarawan dari Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok.

Cipageran juga bisa jadi merupakan cikal bakal lahirnya Cimahi sebagai bagian dari distrik Cilokotot pada masa penjajahan Belanda dulu. Sebab dipercaya jika kehadiran Mbah Wirasuta di daerah tersebut lebih dulu ketimbang pembangunan jalan Anyer Panarukan oleh Daendels pada 1811.

"Bisa jadi Cimahi ini sebetulnya berawal dari Cipageran. Tapi yang masyarakat ingat dari Santiong ini justru cerita-cerita mistisnya. Padahal kita tahu nilai sejarahnya sangat kental," kata Machmud.


----

Artikel ini telah naik di detikJabar dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Pembunuh Anak Pulang Ngaji di Cimahi Ternyata Pencuri"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA