Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 22 Nov 2022 15:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Main ke Hutan Pala Sangeh, Berani Nggak Kasih Makan Monyet?

Agus Eka
detikTravel
Ketua Pengelola Wisata Sangeh Made Mohon saat menunjukkan cara memberi makanan ke kawanan monyet.
Memberi makan moenyet di Hutan Pala Sangeh (Foto: Agus Eka/detikBali)
Badung -

Monyet-monyet di hutan kawasan Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, keberadaannya kian lestari. Sempat ditutup lantaran dihantam badai pandemi, objek wisata ini kembali menawarkan sensasi memberi makan monyet sebagai salah satu daya tariknya.

Pihak pengelola wisata Hutan Pala Sangeh berusaha meyakinkan wisatawan bahwa monyet-monyet yang ada tidak segalak dulu.

"Kalau dulu image-nya monyet di sini galak, tidak layak dikunjungi, jadi berpengaruh juga. Padahal kondisi tidak demikian," ungkap Ketua Pengelola Sangeh, Made Mohon, Senin (21/11/2022).

Saat dibuka April 2022 pasca pandemi, pengelola mulai membenahi area objek dengan menata taman-taman. Termasuk intens memberikan makan kepada monyet-monyet yang hidup di kawasan hutan seluas 10 hektare itu.

A Gerbang masuk SangehHutan Pala Sangeh Foto: detik

Pengelola menyediakan anggaran hingga Rp 15 juta dalam sebulan untuk menyediakan pakan monyet. Dananya diambil dari sebagian keuntungan kunjungan wisatawan. Ia mengakui, monyet-monyet tersebut sempat kembali ke karakter aslinya yang galak.

Ini karena pasokan makanan dan stok yang ada di hutan menipis. Kawanan mulai berkeliaran ke rumah-rumah hingga jalanan. Maklum saat sepi pengunjung, biaya untuk pakan monyet sangat minus, bahkan nol.

Pengelola sampai meminta bantuan ke siapa saja yang bersedia memberikan makanan secara sukarela. Ternyata animonya tinggi. Banyak warga yang semangat memberikan aneka jenis makanan untuk keberlangsungan hidup si monyet.

"Karena itu kami sebetulnya tidak bisa lepas memberikan makanan. Saat tidak ada makanan, monyet jadi galak. Memang itu karakter aslinya. Sementara kami komitmen untuk mengubah sifat dan karakternya dengan cara memberi makan," tutur Made Mohon.

Nah, wisatawan pun kini boleh memberikan makanan ke monyet-monyet. Asalkan layak dan tidak membahayakan bagi monyet itu. Pengunjung akan tetap diawasi pengelola saat memberikan pakan.

Pria asli Desa Sangeh ini mengakui, reaksi monyet menjadi ramah dan tidak agresif saat diberikan makanan. "Tidak sampai mengambil barang pengunjung. Yang berani bisa beri langsung. Kami juga sediakan makanannya. Untuk berfoto bersama monyet juga bisa. Aman," tegasnya.

Wisatawan yang rindu suasana alam atau penat dengan hiruk-pikuk kota, bisa sejenak mampir ke objek wisata ini. Pengunjung bisa menikmati kesejukan sambil melihat kawanan monyet berkeliaran. Satu pura yang diperkirakan ada sejak abad ke-17, Pura Pucak Bukit Sari, dapat jadi latar belakang foto di media sosial.

Wisatawan lokal atau domestik cukup membayar tiket masuk Rp 15 ribu, sedangkan anak-anak hanya dikenakan tiket Rp 5 ribu per orang. Untuk wisatawan asing tentu berbeda, yakni Rp 30 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak.

Lokasi objek wisata Sangeh ini berjarak sekitar 25 km dari Denpasar atau ditempuh dalam waktu 45 menit. Lokasinya berada di antara jalur Denpasar menuju arah Jembatan Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, dan bisa menuju wilayah Kintamani, Kabupaten Bangli.

---

Artikel ini telah tayang di detikBali.



Simak Video "Tari Kecak Uluwatu Bali yang Sarat dengan Filosofi Mistis"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Adu Perspektif
×
Geger Capres Rambut Putih Keriput
Geger Capres Rambut Putih Keriput Selengkapnya