Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 21 Jan 2023 11:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Menurut Sejarah, Kue Keranjang Tercipta karena Monster. Benarkah?

Fria Sumitro
detikTravel
Chinese New Year Cake with Chinese character FU means Fortune. Popular as Kue Keranjang or Dodol China or Nian Gao. Concept Chinese New Year Festival
Kue keranjang (Getty Images/iStockphoto/Ika Rahma)
Jakarta -

Bentuknya bundar dan legit ketika dimakan. Itulah kue bakul atau kue keranjang, salah satu makanan khas Imlek yang selalu ada selama perayaan ini berlangsung.

Menjelang Tahun Baru Imlek, biasanya pedagang mulai menjajakan kudapan ini. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia pun lantas membelinya untuk disantap dan juga untuk keperluan sembahyang.

Selama ini, traveler tentu sudah pernah melihat ataupun mencicipi kenikmatan kue bakul. Namun, apakah kamu tahu sejarah di baliknya?

Apa Itu Kue Bakul?

Dalam bahasa Mandarin, kue bakul dikenal sebagai nián gāo (年糕). Sementara itu, dalam bahasa Hokkien, ia dikenal dengan julukan ti kwe (甜棵). Jika diterjemahkan secara harfiah, nian (年) berarti 'tahun' dan gao (糕) bermakna 'kue'. Bila disatukan, nian gao dapat diterjemahkan sebagai 'kue tahun baru'.

Seminggu sebelum perayaan Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa mulai menyajikan kue bakul sebagai sesaji untuk keperluan sembahyang. Pada periode tersebut, kue masih belum boleh dimakan.

Baru selepas malam ke-15 Imlek, kue bakul dapat disantap sepuasnya. Dalam kebudayaan Tionghoa, malam Imlek yang ke-15 dikenal dengan istilah Cap Go Meh.

Di Indonesia sendiri, kudapan yang tak pernah absen selama Imlek ini memiliki banyak nama. Ada orang yang menyebutnya sebagai kue keranjang. Julukan tersebut didapat wadah cetakannya yang mirip keranjang.

Walaupun disebut kue, panganan ini tidak bertekstur lembut maupun empuk. Malahan, kue bakul lebih mirip dodol. Itulah mengapa dodol china menjadi sebutannya yang lain.

Pembuatan kue keranjang di Sukabumi.Pembuatan kue keranjang di Sukabumi. Foto: Siti Fatimah

Kue Bakul Terbuat dari Apa?

Mungkin traveler bertanya-tanya, terbuat dari apa, sih, kue bakul? Jadi, bahan dasarnya sendiri berupa tepung beras ketan dan gula.

Kedua bahan tersebut lantas dicampur dengan air, lalu dikukus berjam-jam sampai tercipta karamel berwarna cokelat tua. Dari proses masak tersebut, diperoleh makanan bertekstur kenyal dan lengket dengan cita rasa manis.

Dipersembahkan untuk Dewa Tungku

Mengenai asal-usul kemunculan kue bakul, kebanyakan bersumber dari legenda ataupun mitos yang populer di tengah masyarakat. Legenda pertama menyebutkan, makanan khas Imlek ini merupakan hidangan yang sengaja dipersembahkan untuk Dewa Tungku (Cau Kun Kong).

Orang Tionghoa percaya bahwa anglo (tempat masak) di setiap rumah dihuni oleh Dewa Tungku. Dewa tersebut dikirim oleh Raja Surga (Giok Hong Siang Te) untuk mengawasi perilaku penghuni rumah dalam membuat masakan sehari-hari.

Setelah menjalankan tugasnya, Dewa Tungku akan kembali ke surga untuk memberi laporan ke Raja Surga. Sang dewa akan selalu pulang setiap tanggal 24 di bulan ke-12 kalender cina, yakni H-6 perayaan Imlek.

Nah, supaya laporan yang diserahkan oleh sang dewa baik, masyarakat Tionghoa terdahulu sengaja menyiapkan kue bakul. Teksturnya yang lengket mampu mencegah Cau Kun Kong dari mengatakan hal-hal buruk tentang keluarga tempat ia ditugaskan.

Legenda itulah yang menjadi alasan masyarakat etnis Tionghoa memasak banyak kue keranjang sebelum Tahun Baru Imlek.

Produksi kue keranjang di Tasikmalaya.Produksi kue keranjang di Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Berhubungan dengan monster pemakan manusia

Legenda lain meyakini, terciptanya kue bakul bermula dari keberadaan seekor monster dataran China bernama Nian. Menurut kepercayaan masyarakat, nama Nian sendiri diambil dari gunung ia berada. Monster berupa raksasa ini menghuni sebuah gua di gunung tersebut.

Nian sebenarnya memangsa hewan. Namun, semasa musim dingin, para hewan bersembunyi dan berhibernasi. Alhasil, si raksasa beralih memburu manusia untuk dijadikan santapannya.

Masyarakat yang hidup di tempat Nian berada tentu merasa ketakutan. Hingga akhirnya, seseorang bernama Gao dari desa tersebut datang dengan ide cemerlang.

Dirinya membuat sebuah kue yang terbuat dari campuran gula dan tepung beras ketan. Setelah jadi, kue tersebut diletakkan di depan pintu rumah untuk menyambut si raksasa.

Jadi, alih-alih memangsa manusia, Nian yang datang akan menyantap kue buatan Gao sampai dirinya kenyang. Karena kejadian tersebut, kue berbahan tepung ketan gula tersebut dijuluki nian gao alias kue keranjang.

Berdasarkan legenda tadi, traveler bisa paham bahwa masyarakat Tionghoa tidak absen membuat kue bakul setiap Tahun Baru Imlek guna menghindari serangan Nian.

Sementara itu, kisah lain menceritakan, kue bakul muncul sepeninggalan jenderal dan politisi Kerajaan Wu, Wu Zixu. Dirinya menjabat selama periode Musim Semi dan Gugur (771-476 SM).

Selepas kematian Wu Zixu, Raja Yue, Goujian, menyerang ibu kota Wu. Akibat dari serangan tersebut, banyak penduduk yang mati karena kelaparan.

Di tengah-tengah kondisi genting tersebut, ada seseorang yang teringat dengan perkataan Wu Zixu. Ketika masih hidup, ia berpesan agar orang-orang pergi ke tembok kota dan menggali sedalam tiga kaki untuk mendapatkan makanan.

Kawanan tentara Wu lantas melakukannya. Mereka kemudian menemukan bahwa fondasi dari tembok yang disebutkan Wu Zixu ternyata disusun oleh batu bata berbahan tepung ketan.

Penemuan makanan tersebut berhasil menyelamatkan orang-orang dari kelaparan. Untuk mengenang jasa Wu Zixu, masyarakat pun membuat nian gao. Kebiasaan membuat nian gao itu ternyata awet hingga sekarang.

---

Artikel ini telah tayang di detikSumut.



Simak Video "Melihat Kue Keranjang Lampion Khas Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA