Melihat Kerangka Paus di Museum Ikan Paus di Pulau Tidung

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melihat Kerangka Paus di Museum Ikan Paus di Pulau Tidung

Hans Wilhem Michelson - detikTravel
Sabtu, 29 Nov 2025 21:20 WIB
Kerangka Paus di Pulau Tidung
Kerangka paus di Museum Ikan Paus Pulau Tidung Foto: Hans Wilhem Michelsonans Wilheim
Jakarta -

Di Pulau Tidung Kepulauan Seribu ada Museum Ikan Paus yang menyimpan kerangka paus. Bagaimana ceritanya bisa ada kerangka paus di Pulau Tidung?

Kisahnya bermula pada 2012, ketika seekor paus sperma muda ditemukan terdampar di perairan Tanjung Pakis, Karawang. Paus tersebut memiliki berat sekitar delapan ton. Setelah ditemukan mati, kerangkanya kemudian dipendam selama dua tahun di Pulau Kotok untuk menghilangkan sisa daging dan minyak sebelum akhirnya dipindahkan ke Museum Ikan Paus di Pulau Tidung Kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ubay, warga sekaligus teknisi ekosistem di kawasan konservasi Pulau Tidung Kecil, proses evakuasi paus kala itu melibatkan Tim SAR Nasional, nelayan, dan warga setempat.

"Beratnya delapan ton. Untuk mengangkat kepalanya saja perlu delapan orang," ujar Ubay, Jumat (28/11/2025).

ADVERTISEMENT

Paus sperma tersebut sempat terdampar dua kali, termasuk di Pantai Gembong, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi mati dan diseret kembali oleh warga.

Melihat potensi edukatif dari kerangka paus itu, Dinas Perikanan DKI Jakarta kemudian memutuskan untuk merakitnya menjadi rangka utuh. Proses perakitan dilakukan bersama tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) serta warga Pulau Tidung.

"Kerangkanya datang dalam kondisi terpisah dan banyak yang patah. Saat masih utuh, tulangnya masih mengandung daging dan minyak. Setelah dipendam, kami menyusunnya kembali, satu per satu," jelas Ubay.

Masalah lain muncul ketika rangka baru selesai dirakit. Kerangka masih mengeluarkan minyak dan bau yang sangat menyengat.

"Awalnya tidak bisa dimasukkan ke ruangan karena berminyak dan baunya kuat. Kalau sudah kena baju, bajunya tidak bisa dipakai lagi," kata Ubay.

Hingga kini, perawatan kerangka dilakukan dua kali setahun menggunakan resin agar terhindar dari semut dan kerusakan. Idealnya, museum menggunakan pendingin ruangan (AC) untuk menjaga stabilitas suhu dan mengawetkan kerangka dengan lebih baik.




(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads