Pasuruan menyimpan sebuah wisata spiritual bernama Candi Sumber Tetek. Situs ini magis tapi penuh ketenangan.
Tersembunyi di lereng Gunung Penanggungan-tepatnya di Dusun Belahan, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, situs purbakala ini menyuguhkan atmosfer masa lalu yang misterius.
Dikelilingi rimbunnya pepohonan hijau khas pegunungan dan udara yang sejuk, kompleks cagar budaya yang juga dikenal sebagai Candi Belahan ini merupakan sebuah petirtaan (pemandian) kuno peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun sebagian besar struktur bata merahnya telah runtuh termakan zaman, dinding utama candi masih berdiri kokoh memayungi dua arca legendaris, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Daya pikat utama situs ini terletak pada arca Dewi Laksmi.
Yang menjadikan arca ini unik adalah air mancur yang keluar dari payudaranya, memancarkan air pegunungan yang jernih dan mengalir tanpa henti ke kolam di depannya. Fenomena unik inilah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya "Sumber Tetek".
Candi Belahan atau akrab disebut Candi Sumber Tetek di Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, cukup eksotis. Air segar menyembur dari puting salah satu arca, Sabtu (7/7/2012). File/detikFoto. Foto: Budi Sugiharto |
Walaupun lokasinya harus masuk cukup jauh dari jalur utama Surabaya-Malang, petirtaan eksotis ini tidak pernah sepi. Magnet utamanya bukan sekadar keindahan arsitektur kuno, melainkan mitos kuat yang dipercayai masyarakat bahwa air yang mengalir dari arca tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit dan membuat awet muda.
"Wisatawan yang masuk sini gratis. Cukup isi buku tamu," kata Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Cagar Budaya Wilayah Pasuruan, Astono, Kamis (29/5).
Banyak pelancong yang datang dari berbagai daerah demi bisa membasuh muka, berendam di kolam pemandiannya yang menyegarkan, atau bahkan membawa pulang air suci tersebut menggunakan botol. Tentu saja, lanskap candi yang ikonis dan sarat nilai historis ini juga menjadi latar belakang favorit para wisatawan untuk mengabadikan foto.
"Petirtaan Belahan merupakan cagar budaya yang menjadi daya tarik wisatawan. Ini tempat bersejarah yang terbuka untuk umum," jelasnya.
Selain menjadi tempat rekreasi keluarga dan andalan warga sekitar untuk mendapatkan air bersih saat musim kemarau, Candi Sumber Tetek juga memegang peranan penting sebagai destinasi wisata religi. Aura sakral di lereng Penanggungan ini kerap menarik perhatian para peziarah untuk memanjatkan doa.
"Kadang ada yang datang ritual, umumnya malam hari, tapi kadang juga siang hari," terangnya.
Para pengunjung yang datang untuk bertapa atau melakukan ritual keagamaan ini berasal dari latar belakang budaya yang beragam.
"Orang-orang kejawen banyak yang ritual di sini. Orang dari Bali juga banyak yang datang untuk melakukan ritual," urainya.
Meskipun candi ini kerap digunakan untuk kegiatan spiritual yang sakral, pihak pengelola tetap memberlakukan sistem yang ramah dan inklusif tanpa memungut biaya sepeser pun. Kuncinya hanya satu: saling menghormati antar-pengunjung.
"Kalau mau ritual koordinasi dulu, sehingga kami bisa mengkondisikan wisatawan umum agar memberikan kesempatan mereka yang ritual. Wisatawan umum biasanya mengerti dan mau menunggu. Toh ritual nggak lama," pungkasnya.
(bnl/wsw)













































Komentar Terbanyak
Bandara Husein Sastranegara Beroperasi Lagi, Kertajati Jadi Bengkel Pesawat
PDIP Vs PSI Soal Jokowi Jalani Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Di Lampung, Jokowi Jalani Tradisi Injak Kepala Kerbau