Pesona Danau Tondano, Ada Kuliner Khas yang Bikin Turis Ketagihan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pesona Danau Tondano, Ada Kuliner Khas yang Bikin Turis Ketagihan

Hari Suroto - detikTravel
Sabtu, 01 Agu 2026 14:20 WIB
Traveler yang berkunjung ke Manado, jangan lewatkan kunjungan ke Danau Tondano, danau terbesar di Sulawesi Utara. Danau ini letaknya sekitar 1 jam dari Manado.
Benteng Moraya Foto: Hari Suroto
Tondano -

Traveler yang berkunjung ke Manado, jangan lewatkan kunjungan ke Danau Tondano, danau terbesar di Sulawesi Utara. Danau ini terletak di Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa, satu jam perjalanan dari Kota Manado.

Pemandangan menuju danau ini sangat menarik. Hamparan sawah yang menghijau, kuda yang merumput di padang, desa-desa dengan rumah khas Minahasa, berlatar belakang pemandangan Gunung Lokon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Traveler dapat menikmati pemandangan tepi danau dengan camar dan elang yang sesekali terlihat mencari ikan atau nelayan yang sibuk dengan keramba ikannya.

Danau Tondano sangat menarik bagi traveler yang menyukai wisata kuliner, karena di tepi danau ini banyak dijumpai restoran yang menyajikan aneka kuliner khas Sulawesi Utara.

ADVERTISEMENT

Traveler dapat menikmati lezatnya kuliner ikan mujair bakar, nike (sejenis ikan teri endemik Danau Tondano), tinutuan (bubur manado), pisang goroho dabu-dabu roa, serta kukis lainnya.

Traveler juga dapat berkunjung di Benteng Moraya, di tempat ini traveler dapat berfoto dengan pakaian kabasaran, pakaian khas Minahasa. Benteng Moraya di Tondano, Minahasa, merupakan monumen peringatan yang dibangun di lokasi bekas pertahanan terakhir masyarakat Minahasa melawan Belanda pada Perang Tondano sekitar 1808-1809.

Menara dan relief-relief di sekitarnya merekam semangat perlawanan heroik masyarakat Minahasa, sekaligus menyajikan panorama alam persawahan dan kehidupan sekitar Danau Tondano. Monumen ini menjadi ikon wisata sejarah serta lambang ketangguhan budaya masyarakat Minahasa.

----

Hari Suroto

Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara



(ddn/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads